Olahraga Saat Sakit, Bolehkah Dilakukan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Melakukan olahraga saat sakit mungkin terdengar aneh. Banyak orang yang berkata bahwa orang yang sedang sakit tidak boleh berolahraga. Namun, bagaimana kalau ternyata berolahraga ketika sakit justrudapat meningkatkan sistem imun dan membantu mengusir penyakit dalam tubuh? Hal itu sebenarnya tergantung pada jenis penyakit yang diderita dan jenis olahraga yang dilakukan. Berikut penjelasan selengkapnya.

Kapan Anda boleh melakukan olahraga saat sakit?

Jika gejala terdapat di atas leher Anda, biasanya Anda boleh untuk melakukan olahraga meskipun dengan intensitas yang lebih rendah dari biasanya. Termasuk gejala seperti:

Jika Anda memiliki energi yang cukup untuk mengacuhkan gejala itu, maka meningkatkan suhu tubuh Anda dengan berkeringat karena berolahraga dapat membantu tubuh untuk membunuh banyak virus. Bahkan, menurut penelitian, berolahraga ketika demam justru disarankan. Pada sebuah akhir percobaan selama 10 hari, orang yang berolahraga 40 menit setiap hari dengan menggunakan 70% denyut jantung maksimal merasa lebih baik, dibandingkan dengan orang yang tidak berolahraga, meskipun tingkat keparahan klinis dan durasi gejala mereka hampir identik.

Kunci untuk melakukan olahraga ketika sakit adalah untuk melakukannya dengan hati-hati. Berolahraga secara berlebihan akan menyebabkan stres pada tubuh Anda, sehingga dapat menekan sistem kekebalan tubuh. Lakukanlah olahraga secukupnya jika Anda merasa tidak enak badan. Exercise and Sport Science Reviews, mengatakan bahwa latihan intens berkepanjangan menyebabkan imunosupresi, sedangkan latihan dengan intensitas sedang dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan mengurangi risiko dan infeksi pernapasan akibat virus.

Kapan Anda tidak boleh melakukan olahraga ketika sakit?

Dokter umumnya akan menyarankan Anda untuk menghindari olahraga jika Anda memiliki gejala di bagian bawah leher Anda, seperti:

Tidak peduli apapun gejala Anda, Anda harus sangat berhati-hati dan selalu memperhatikan tubuh Anda. Jika Anda tidak merasakan gejala tersebut, namun Anda hanya ingin beristirahat, maka itulah yang dibutuhkan tubuh Anda. Jika Anda memaksakan tubuh Anda untuk melakukan sesuatu di luar kehendak, maka penyakit Anda akan bertambah parah.

Bagaimana olahraga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh?

Olahraga mungkin memainkan peran pada respon imun bawaan dan imun adaptif. Inilah caranya:

  • Salah satu sesi olahraga berat yang berkepanjangan akan menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi. Misalnya, lari maraton dapat menekan sistem imun hingga 72 jam, dan inilah sebabnya banyak atlet sakit setelah berlomba.
  • Namun, satu sesi latihan yang berat tidak akan menyebabkan efek tekanan kekebalan yang sama. Hanya satu sesi latihan yang sedang benar-benar dapat meningkatkan kekebalan tubuh pada orang yang sehat.
  • Menariknya, latihan ketahanan yang berkelanjutan dapat merangsang kekebalan bawaan (tapi tidak dengan kekebalan adaptif). Sementara itu, olahraga ringan berkelanjutan dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh adaptif.

Pada akhirnya, olahraga ringan dan latihan ketahanan dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh dari waktu ke waktu. Jadi, Anda dapat berlatih keras saat Anda sedang sehat, meskipun satu sesi latihan yang berat dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh. Sehingga, ketika Anda sakit, Anda dapat melakukan olahraga yang ringan.

Kaitan antara olahraga, stres, dan fungsi kekebalan tubuh

Sekelompok ilmuwan mengumpulkan data tentang kebiasaan olahraga dan penyakit influenza, mereka menemukan bahwa:

  • Orang-orang yang tidak pernah berolahraga akan sakit cukup sering.
  • Orang yang berolahraga antara sebulan sekali dan tiga kali seminggu merupakan yang terbaik.
  • Orang yang berolahraga berat lebih dari empat kali seminggu sakit paling sering.

Jadi, dalam istilah sederhana, orang yang terlalu malas dan terlalu sering berolahraga mengalami penurunan kekebalan. Namun, olahraga pada tingkat sedang dapat meningkatkan imunitas.

Kaitan antara olahraga berat dan infeksi

Peningkatan volume dan intensitas olahraga secara mendadak dapat membuat stres, dan memungkinkan virus atau bakteri untuk masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan penyakit. Pada Los Angeles Marathon tahun 1987, satu dari tujuh orang atlet jatuh sakit satu minggu setelah balapan. Dan mereka berlari lebih dari 68 km per minggu sebelum perlombaan, dan mereka memiliki dua kali lipat kemungkinan terkena penyakit dibandingkan pada mereka yang berlatih kurang dari 25 km per minggu.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: November 26, 2016 | Terakhir Diedit: November 18, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca