Perlu Dicatat, Ini Berbagai Tanda Antibiotik Tak Lagi Mempan Lawan Penyakit

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 18/11/2018
Bagikan sekarang

Antibiotik umumnya digunakan untuk mengobati infeksi penyakit yang diakibatkan oleh bakteri. Jika diminum sesuai dosis yang dianjurkan, antibiotik akan melancarkan tugasnya dalam membunuh ataupun memperlambat perkembangan bakteri di dalam tubuh. Namun alih-alih menyembuhkan, mengonsumsinya secara berlebihan justru bisa membuat tubuh Anda resisten atau kebal antibiotik. Apa, ya, tandanya?

Apa yang terjadi ketika tubuh kebal antibiotik?

Antibiotik bisa dibilang sebagai salah satu jalan tempuh untuk memerangi serangan bakteri di dalam tubuh. Akan tetapi, Anda tetap diharuskan berhati-hati. Sebab seiring berjalannya waktu, penggunaan obat antibiotik terus-menerus dapat membuat bakteri “terbiasa” sehingga tidak mempan lagi untuk dibunuh.

Kondisi ini bisa terjadi karena bakteri yang seharusnya dibasmi, malah mengalami perubahan gen atau mendapatkan gen yang resisten terhadap antibiotik dari bakteri lainnya. Itulah mengapa semakin sering antiobiotik tersebut digunakan, maka semakin menurun tingkat keefektifannya dalam melawan bakteri.

Bukannya memperbaiki kesehatan tubuh. Konsumsi antibiotik malah membuat perkembangan bakteri sulit dikendalikan, yang dikenal sebagai resistensi atau kebal antibiotik.

Apa tanda ketika tubuh sudah kebal antibiotik?

Tanda yang kerap muncul saat perkembangan bakteri memang sudah tidak mampu dikendalikan dengan antibiotik bisa berbeda. Dengan kata lain, jenis bakteri dan antibiotik yang akan menentukan kemunculan gejala pada tubuh.

Ambil contoh, antibiotik umum atau antibiotik spektrum luas sudah tidak mampu membunuh bakteri Clostridium difficile (C. diff) akan mengakibatkan timbulnya infeksi di usus Anda. Kulit juga bisa mengalami infeksi ketika bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) tidak bisa dibasmi dengan antibiotik spektrum luas.

Begitu pula dengan dengan Enterococcus tahan Vancomycin (VRE) yang bisa menginfeksi aliran darah dan saluran kemih. Namun dari kesemua gejala yang kerap muncul, tanda yang paling kentara ketika tubuh kebal antibiotik adalah proses penyembuhan penyakit biasanya memakan waktu yang lebih lama.

Demi memastikan apakah antibiotik sudah tidak mempan bekerja dalam tubuh Anda, harus dilakukan serangkaian pemeriksaan melalui tes di laboratorium, tutur dr Hari Paraton, MD, SpOG(K), selaku ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), dikutip dari Detik Health.

Deferasirox adalah

Patuhi anjuran konsumsi antibiotik sebagai langkah pencegahan

Jika tubuh sudah terlanjur kebal antibiotik, maka Anda dianjurkan untuk mengurangi dosis konsumsi antibiotik secara perlahan. Menurut dr Usman Hadi, MD, PhD, SpPD-KPTI, seorang Kepala Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi, Departemen Penyakit Dalam RSUD Dr Soetomo di Surabaya, bahwa cara tersebut setidaknya dapat mengembalikan keseimbangan bakteri baik dalam tubuh.

Sementara bakteri yang resisten sebelumnya lama-lama akan hilang dan akhirnya habis. Sayangnya, butuh kesabaran ekstra karena proses ini akan memakan waktu yang cukup lama. Itu sebabnya, Anda sudah diwanti-wanti untuk lebih memerhatikan dosis konsumsi antibiotik sejak penggunaan awal.

Selain itu, terapkan langkah-langkah berikut ini guna menurunkan risiko resistensi atau kebal antibiotik:

  • Konsumsi antibiotik hanya saat diresepkan oleh dokter, dan jangan berlebihan.
  • Pastikan Anda menghabiskan resep antibiotik sampai tuntas. Sebab jika tidak, antibiotik tidak dapat membunuh semua bakteri, sehingga kemungkinan masih ada bakteri tersisa yang bisa berkembang menjadi resisten.
  • Hindari minum antibiotik sisa yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh Anda
  • Selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar untuk mencegah penyebaran mikroba.
  • Lakukan pencegahan infeksi dengan melakukan vaksinasi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyebab Anus Gatal pada Orang Dewasa, dari Iritasi Hingga Penyakit

Rasa gatal pada anus tentu tidak nyaman dan memalukan bagi kebanyakan orang. Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab anus gatal?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu

Minum Antibiotik Kok Malah Demam, Apakah Ini Bahaya?

Anda mungkin mengalami demam saat minum antibiotik. Apakah kondisi ini berbahaya? Apa saja penyebabnya? Cari tahu jawabannya di Hello Sehat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah

Pilihan Obat Dokter dan Perawatan Rumahan untuk Penyakit Kulit

Setiap penyakit kulit memiliki obat yang berbeda-beda. Agar tak salah pilih dan keliru, berikut daftar obat untuk mengobati masalah kulit.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Mulut Terasa Seperti Bersabun? Mungkin 6 Hal Ini Penyebabnya

Selain pahit, manis, asam, dan asin, rasa sabun di mulut juga umum muncul. Meski bisa hilang sendiri, mulut terasa sabun bisa jadi tanda kondisi tertentu.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab resistensi antibiotik

Resistensi Antibiotik: Apa Penyebab dan Bagaimana Cara Mencegahnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 07/04/2020
debu dalam rumah

Hati-hati, Debu di Dalam Rumah Bisa Picu Resistensi Antibiotik

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 25/02/2020
antibiotik untuk jerawat

Daftar Antibiotik yang Ampuh untuk Mengobati Jerawat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 24/01/2020

Cepat-Tanggap Difteri, Ini Langkah Pengobatan Penyakit Difteri yang Tepat

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 18/12/2019