backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

7 Cara Menjaga Kebersihan Makanan agar Terhindar dari Penyakit

Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Novi Sulistia Wati · Tanggal diperbarui 14/11/2023

7 Cara Menjaga Kebersihan Makanan agar Terhindar dari Penyakit

Menjaga agar makanan tetap bersih dan terhindar dari kontaminasi bakteri merupakan hal yang penting agar tubuh terhindar dari penyakit. Lantas, bagaimana cara menjaga kebersihan makanan yang benar? Simak ulasan lengkapnya berikut ini. 

Mengapa menjaga kebersihan makanan sangat penting?

Menjaga kebersihan makanan penting agar Anda dan keluarga terhindar dari kontaminasi bakteri berbahaya yang dapat menyebabkan gangguan sistem pencernaan dan penyakit lainnya.

Pasalnya, makanan yang tidak dicuci dengan bersih atau diolah dengan benar dapat dengan mudah tercemar bakteri, virus atau parasit seperti bakteri E.Coli atau Salmonella. Akibatnya, Anda bisa mengalami keracunan makanan yang ditandai dengan diare, muntah, atau demam.

Mengutip WHO, 1 dari 10 orang di dunia jatuh sakit akibat mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi dan tidak terjamin kebersihannya.

Oleh karena itu, mengetahui cara menjaga kebersihan makanan serta cara memasak makanan yang tepat dapat mencegah penyakit berbahaya dari makanan. 

Bagaimana cara menjaga kebersihan makanan?

Berikut tips-tips dalam menjaga kebersihan saat memasak yang bisa Anda ikuti.

1. Cuci tangan dengan sabun

mencuci tangan setelah dari toilet

Menjaga kebersihan makanan dilakukan dengan mencuci tangan menggunakan sabun, terutama setelah menyentuh makanan mentah, tempat sampah, hewan peliharaan, dan pergi ke toilet.

Hal tersebut penting dilakukan untuk memastikan bahwa tangan Anda bebas dari kuman sebelum memasak atau makan. Bakteri berbahaya bisa menyebar dengan sangat mudah dari tangan ke makanan dan peralatan masak.

Selain cuci tangan untuk menjamin kebersihan tangan, Anda bisa menggunakan sarung tangan plastik saat memasak, terutama kalau Anda sedang sakit flu atau diare.

2. Mencuci buah dan sayuran

Mencuci buah dan sayuran dengan air dingin sebelum Anda mengolahnya, termasuk mengupas buah dan sayuran, bisa membantu menghilangkan kotoran yang ada pada makanan tersebut.

Pasalnya, kulit buah atau sayuran dapat mengandung kuman dan mudah berpindah ke tubuh jika tidak dicuci sebelum dikupas atau dipotong. 

Oleh karena itu, pastikan mencuci buah dan sayur menggunakan mengalir selama beberapa menit sebelum diolah atau dihidangkan.

3. Jaga kebersihan peralatan memasak

Menjaga kebersihan makanan dilakukan dengan cara membersihkan perlatan masak secara rutin setelah digunakan. Pasalnya, bakteri juga bisa menyebar melalui peralatan masak yang Anda gunakan.

Cuci talenan, piring, dan peralatan masak dengan air sabun atau air panas setelah bersentuhan dengan daging mentah, unggas, atau makanan laut.

Jangan pernah menempatkan makanan yang dimasak di atas piring yang baru saja digunakan untuk menggunakan daging mentah, unggas, atau makanan laut.

4. Hindari mencuci daging mentah

Cara menjaga kebersihan makanan selanjutnya adalah dengan tidak mencuci daging ayam mentah daging sapi, telur, makanan laut lainnya dengan air mengalir.

Hal ini untuk menghindari bakteri menyebar dari percikkan air saat proses pencucian. Selain itu, bakteri tidak langsung hilang hanya dengan dicuci menggunakan air.

Memasak dengan suhu yang tepat baik dengan cara digoreng, dipanggang, dibakar, atau direbus dapat membunuh bakteri berbahaya di dalam daging mentah, sehingga mencuci daging dengan air tidak disarankan. 

5. Pisahkan makanan yang mudah tercemar bakteri atau virus

perbedaan daging sapi dan kerbau

Bahan makanan mentah seperti daging sapi, kambing, babi atau unggas bisa mengandung bakteri berbahaya menyebar dengan mudah pada apa pun yang disentuhnya.  

Oleh karena itu, Anda perlu memisahkan bahan makanan mentah, terutama daging mentah dengan makanan yang siap saji untuk menghindari kontaminasi silang.

Jika memungkinkan, gunakan talenan atau papan potong secara terpisah untuk daging mentah dan bahan makanan lainnya.

6. Masak dengan suhu yang tepat

Untuk menjamin kebersihan makanan, beberapa jenis bahan makanan perlu dimasak pada suhu yang tepat agar bisa membunuh bakteri yang berbahaya.

Di bawah ini beberapa aturan suhu untuk memasak makanan.

  • Potongan daging sapi, domba, babi serta ham segar harus dimasak dalam suhu 62c. Diamkan daging selama 3 menit sebelum dipotong atau dimakan.
  • Ikan dengan sirip setidaknya perlu dimasak dalam suhu 62°C hingga daging ikan berubah warna dan dapat dipisahkan dengan garpu.
  • Daging giling, seperti daging sapi atau babi perlu dimasak dalam suhu 71°C.
  • Seluruh unggas (ayam, kalkun, bebek) harus dimasak sampai 71°C.
  • Ketika menghangatkan makanan dengan microwave, pastikan suhu makanan mencapai 71°C. 

Perlu Anda ketahui


Hindari meninggalkan makanan lebih dari 2 jam pada tempat yang memiliki suhu antara 4 °C – 60 °C (1 jam untuk makanan dengan suhu di atas 90 °C). Pasalnya, bakteri dapat berkembang baik dengan cepat pada suhu tersebut.

7. Simpan makanan dalam kulkas

Masukkan makanan ke dalam lemari es atau freezer dalam waktu 2 jam setelah dimasak atau dibeli dari toko. 

Jika makanan dalam kondisi panas sekitar 90 °C atau lebih panas, sebaiknya segera masukkan ke dalam kulkas setelah 1 jam. 

Menyimpan makanan di dalam kulkas bisa mencegah bakteri tumbuh dan berkembang dalam makanan. Dinginkan atau bekukan makanan yang mudah rusak, makanan siap saji, dan sisa makanan. 

Jangan pernah mencairkan makanan yang dingin atau beku pada suhu kamar. Jika ingin melakukannya, Anda bisa merendam makanan tersebut dengan air di dalam kulkas, di bawah udara dingin, atau di microwave.

Nah, itulah beberapa cara menjaga kebersihan makanan yang tepat. Dengan begitu, Anda dapat mengurangi risiko terkontaminasi oleh bakteri atau virus berbahaya dari makanan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Patricia Lukas Goentoro

General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Novi Sulistia Wati · Tanggal diperbarui 14/11/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan