Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Minum Antibiotik Kok Malah Demam, Apakah Ini Bahaya?

Minum Antibiotik Kok Malah Demam, Apakah Ini Bahaya?

Antibiotik adalah obat yang biasanya diresepkan dokter untuk membantu tubuh melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Namun, sama seperti obat lainnya, ada efek samping yang muncul setelahnya. Salah satunya adalah demam saat minum antibiotik. Mungkin Anda berpikir, apakah kondisi ini berbahaya?

Wajarkah muncul demam saat minum antibiotik?

Mungkin Anda sudah panik ketika demam muncul sesaat setelah minum antibiotik dan berpikir obat yang diberikan dokter tidak cocok.

Nyatanya, tidak semua demam itu pertanda buruk, sama halnya dengan yang satu ini.

Bila Anda mengalami demam saat minum antibiotik, jangan langsung menghentikan pengobatan. Pasalnya, demam yang muncul saat itu adalah hal yang wajar.

Justru, demam bisa jadi pertanda baik, kok bisa? Dikutip dari MedlinePlus, demam adalah tanda tubuh Anda sedang melawan bakteri yang menjadi penyebab infeksi.

Saat Anda demam, itu artinya sistem imun sedang aktif. Dengan bantuan antibiotik, fungsi sistem imun tubuh dapat bekerja lebih baik dalam membunuh bakteri, sehingga timbullah demam.

Jenis antibiotik yang menimbulkan demam

Jenis antibiotik yang paling sering menyebabkan demam adalah:

  • sulfonamida,
  • minosiklin,
  • cefalexin, dan
  • beta-lactam.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Intensive Care menjelaskan bagaimana antibiotik jenis beta laktam bisa menyebabkan demam ketika digunakan dalam pengobatan sifilis.

Demam setelah minum obat beta laktam diduga muncul akibat pelepasan zat beracun oleh bakteri spirochetes yang sudah sekarat.

Pada kasus lain, seperti penggunaan antibiotik minosiklin dan sulfonamida, demam mungkin terjadi akibat tubuh memproduksi banyak antibodi.

Demam saat minum antibiotik bisa jadi tanda alergi

Selain menandakan bahwa obat bekerja dengan baik, demam juga bisa Anda curigai sebagai gejala alergi.

Apabila tubuh Anda tidak cocok dengan obat antibiotik jenis tertentu, Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lain yang lebih sesuai.

Apa yang harus dilakukan jika demam saat minum antibiotik?

Jika Anda mengalami demam setelah minum obat antibiotik, jangan khawatir. Biasanya, demam akan menghilang dengan sendirinya.

Usahakan untuk terus minum antibiotik sesuai dengan dosis yang dianjurkan dokter.

Jika Anda berhenti atau melewati dosis yang seharusnya, kemungkinan Anda akan mengalami resistensi bakteri dan hal ini dapat mengakibatkan infeksi kembali terulang.

Demam saat minum antibiotik yang tidak kunjung membaik setelah 24 hingga 48 jam memerlukan perhatian khusus. Apabila hal tersebut terjadi, segera periksakan diri ke dokter.

Biasanya, dokter akan meresepkan obat penurun panas seperti acetaminophen (paracetamol) atau ibuprofen.

Kondisi yang harus diwaspadai

Terdapat beberapa gejala yang perlu Anda waspadai apabila Anda mengalami demam saat minum antibiotik.

Jika Anda terkena demam yang disertai gejala-gejala seperti susah bernapas, gatal-gatal, dan pembengkakan, ada kemungkinan Anda mengalami reaksi alergi terhadap antibiotik yang Anda minum.

Segera hubungi dokter apabila gejala-gejala tersebut muncul.

Kondisi lain yang mungkin terjadi saat Anda minum antibiotik adalah sindrom Stevens-Johnson.

Sindrom ini adalah komplikasi dari reaksi alergi dan memang sangat jarang terjadi, namun dapat disebabkan oleh pengobatan antibiotik seperti beta-lactams dan sulfamethoxazole.

Gejala-gejalanya pun menyerupai reaksi alergi antibiotik, dimulai dengan demam, sakit tenggorokan, batuk, pembengkakan, dan gatal-gatal. Kondisi ini berbahaya dan dapat berakibat fatal.

Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami tanda-tanda dan gejala yang tidak wajar.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Side Effects of Antibiotics: What They Are and How to Manage Them. https://www.healthline.com/health/infection/antibiotic-side-effects . Accessed June 19, 2019.

Why fever can be your friend in times of illness. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321889.php . Accessed June 19, 2019.

4 Important Facts You Need to Know About Antibiotics. https://health.clevelandclinic.org/4-important-facts-you-need-to-know-about-antibiotics/ . Accessed June 19, 2019.

Fever. https://medlineplus.gov/fever.html . Accessed June 19, 2019.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 30/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x