Benarkah Sistem Imun Memengaruhi Kehidupan Sosial Kita?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Setiap orang pasti pernah melalui hari-hari atau saat di mana Anda sedang merasa tidak tertarik untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Rasa enggan untuk bersosialisasi ini bisa terjadi baik pada orang yang memiliki kepribadian introvert atau bahkan ekstrovert. Terkadang, kondisi ini bisa muncul tanpa Anda ketahui sebabnya. Jika ada yang bertanya, mungkin jawaban yang Anda berikan adalah, “Lagi malas saja.”

Para peneliti berusaha untuk menemukan jawaban dari keengganan yang seolah muncul tiba-tiba ini. Tak disangka-sangka, sistem kekebalan tubuh atau imun Anda ternyata bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ketika sistem kekebalan tubuh Anda melemah, Anda kemungkinan jadi lebih menarik diri dari lingkungan sekitar. Untuk mencari tahu bagaimana hubungan antara sistem imun dengan kecenderungan sosial Anda, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Memahami sistem kekebalan tubuh

Di samping sistem saraf manusia, sistem kekebalan tubuh termasuk salah satu mekanisme yang sangat rumit dalam tubuh Anda. Sistem kekebalan tubuh manusia terdiri dari jutaan organ, sel, dan protein yang bertugas untuk melindungi tubuh terhadap serangan patogen baik dari luar maupun dari dalam tubuh Anda sendiri. Patogen yang dimaksud adalah organisme atau virus yang bisa menimbulkan penyakit.

Dahulu, para ahli mengira bahwa otak merupakan organ khusus yang terpisah dari bagian tubuh lainnya. Ini berarti sistem imun atau kekebalan tubuh tidak bertugas untuk melindungi otak. Otak dianggap memiliki perlindungan sendiri berupa jaringan-jaringan pembuluh yang akan menepis berbagai gangguan pada organ ini.

Ternyata, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh sangat erat kaitannya dengan otak. Sistem saraf pusat yang terletak pada otak diketahui memiliki sistem limfatik yang mengandung pembuluh limfa. Pada pembuluh limfa ini ditemukan sel-sel imun. Dari penemuan ini, para ilmuwan pun memepelajari bagaimana sistem imun memengaruhi kerja otak dan pola perilaku seseorang.

Sistem imun dan kecenderungan sosial

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh para pakar sistem saraf di University of Massachusetts Medical School dan University of Virginia, disebutkan bahwa hasrat atau kecenderungan seseorang untuk bersosialisasi mungkin saja dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh yang terdapat di sistem saraf pusat. Penelitian ini dilaksanakan melalui sebuah uji laboratorium terhadap tikus.

Untuk melawan patogen, sel limfe akan melepaskan sebuah molekul protein yang membentuk sistem imun bernama interferon gamma. Untuk menguji pengaruh molekul ini terhadap pola perilaku tikus, para peneliti menyumbat saluran protein interferon gamma. Ketika tersumbat, tikus yang menjadi subjek penelitian menunjukkan perilaku hiperaktif dan menjadi tidak tertarik untuk bersosialisasi atau bergabung dengan tikus-tikus lainnya. Saat peneliti membuka kembali saluran tersebut, tikus itu pun kembali menunjukkan perilaku yang normal dan mau bersosialisasi lagi.

Bagaimana dengan manusia?

Saat ini memang belum ada penelitian yang mempelajari sistem imun dan dampaknya terhadap kecenderungan sosial seseorang. Namun, ahli saraf di seluruh dunia telah berhasil melihat kemiripan antara struktur otak tikus dengan manusia. Selain itu, para peneliti yang menerbitkan studinya dalam jurnal internasional Nature ini berpendapat bahwa seperti halnya tikus, manusia juga merupakan makhluk sosial. Untuk bertahan hidup, manusia perlu bersosialiasi. Inilah mengapa tubuh mengembangkan daya tahan tersendiri yang bisa menangkal penularan virus, bakteri, dan penyakit yang mungkin dibawa oleh orang lain.

Seperti yang dilaporkan oleh MNN, Jonathan Kipnis sebagai salah seorang kepala penelitian ini mengungkapkan bahwa tubuh manusia senantiasa menjadi medan pertempuran antara patogen dan sistem kekebalan tubuh. Maka, sebagian kepribadian Anda bisa saja dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh.  

Lagipula, berbagai gangguan sistem saraf yang menyebabkan masalah pada pola bersosialisasi seperti autisme, dementia, dan penyakit skizofrenia memang menunjukkan sistem kekebalan tubuh yang lemah pada tubuh penderitanya. Banyak juga penelitian yang sudah membuktikan bahwa kebahagiaan seseorang sangat bergantung pada kondisi kesehatannya secara keseluruhan. Berarti, bisa disimpulkan bahwa pola perilaku (termasuk kecenderungan bersosialisasi) yang diatur oleh sistem saraf pusat pada otak sangat erat kaitannya dengan kekebalan tubuh seseorang.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Mau coba hal-hal baru di ranjang, tapi pasangan Anda malu berhubungan intim? Tenang, Anda bisa membangkitkan kehidupan seks Anda dengan beragam cara ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ketika Ada mengalami cedera kaki, mungkin Anda akan diminta untuk menggunakan tongkat penyangga (kruk) untuk berjalan. Lalu bagaimana cara menggunakannya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Psoriasis pada Kulit Kepala

Selain menyebabkan kepala terasa sangat gatal, psoriasis kulit kepala juga bisa bikin rambut Anda jadi cepat rontok dari biasanya. Kenapa begitu, ya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Psoriasis 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

Semua bagian tubuh bisa saja terserang psoriasis, termasuk kuku Anda. Simak ulasan lengkap tentang gejala dan perawatan psoriasis kuku dalam artikel ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Kulit, Psoriasis 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Seks dengan Lampu Menyala

6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
teh tanpa kafein

3 Jenis Teh yang Tidak Mengandung Kafein

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Waktu Efektif Minum Kopi

Waktu Paling Sehat untuk Minum Kopi Ternyata Bukan Pagi Hari

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
kebugaran jantung

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit