Setiap orang pasti pernah melalui hari-hari atau saat di mana Anda sedang merasa tidak tertarik untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Rasa enggan untuk bersosialisasi ini bisa terjadi baik pada orang yang memiliki kepribadian introvert atau bahkan ekstrovert. Terkadang, kondisi ini bisa muncul tanpa Anda ketahui sebabnya. Jika ada yang bertanya, mungkin jawaban yang Anda berikan adalah, “Lagi malas saja.”

Para peneliti berusaha untuk menemukan jawaban dari keengganan yang seolah muncul tiba-tiba ini. Tak disangka-sangka, sistem kekebalan tubuh atau imun Anda ternyata bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ketika sistem kekebalan tubuh Anda melemah, Anda kemungkinan jadi lebih menarik diri dari lingkungan sekitar. Untuk mencari tahu bagaimana hubungan antara sistem imun dengan kecenderungan sosial Anda, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Memahami sistem kekebalan tubuh

Di samping sistem saraf manusia, sistem kekebalan tubuh termasuk salah satu mekanisme yang sangat rumit dalam tubuh Anda. Sistem kekebalan tubuh manusia terdiri dari jutaan organ, sel, dan protein yang bertugas untuk melindungi tubuh terhadap serangan patogen baik dari luar maupun dari dalam tubuh Anda sendiri. Patogen yang dimaksud adalah organisme atau virus yang bisa menimbulkan penyakit.

Dahulu, para ahli mengira bahwa otak merupakan organ khusus yang terpisah dari bagian tubuh lainnya. Ini berarti sistem imun atau kekebalan tubuh tidak bertugas untuk melindungi otak. Otak dianggap memiliki perlindungan sendiri berupa jaringan-jaringan pembuluh yang akan menepis berbagai gangguan pada organ ini.

Ternyata, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh sangat erat kaitannya dengan otak. Sistem saraf pusat yang terletak pada otak diketahui memiliki sistem limfatik yang mengandung pembuluh limfa. Pada pembuluh limfa ini ditemukan sel-sel imun. Dari penemuan ini, para ilmuwan pun memepelajari bagaimana sistem imun memengaruhi kerja otak dan pola perilaku seseorang.

Sistem imun dan kecenderungan sosial

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh para pakar sistem saraf di University of Massachusetts Medical School dan University of Virginia, disebutkan bahwa hasrat atau kecenderungan seseorang untuk bersosialisasi mungkin saja dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh yang terdapat di sistem saraf pusat. Penelitian ini dilaksanakan melalui sebuah uji laboratorium terhadap tikus.

Untuk melawan patogen, sel limfa akan melepaskan sebuah molekul protein yang membentuk sistem imun bernama interferon gamma. Untuk menguji pengaruh molekul ini terhadap pola perilaku tikus, para peneliti menyumbat saluran protein interferon gamma. Ketika tersumbat, tikus yang menjadi subjek penelitian menunjukkan perilaku hiperaktif dan menjadi tidak tertarik untuk bersosialisasi atau bergabung dengan tikus-tikus lainnya. Saat peneliti membuka kembali saluran tersebut, tikus itu pun kembali menunjukkan perilaku yang normal dan mau bersosialisasi lagi.

Bagaimana dengan manusia?

Saat ini memang belum ada penelitian yang mempelajari sistem imun dan dampaknya terhadap kecenderungan sosial seseorang. Namun, ahli saraf di seluruh dunia telah berhasil melihat kemiripan antara struktur otak tikus dengan manusia. Selain itu, para peneliti yang menerbitkan studinya dalam jurnal internasional Nature ini berpendapat bahwa seperti halnya tikus, manusia juga merupakan makhluk sosial. Untuk bertahan hidup, manusia perlu bersosialiasi. Inilah mengapa tubuh mengembangkan daya tahan tersendiri yang bisa menangkal penularan virus, bakteri, dan penyakit yang mungkin dibawa oleh orang lain.

Seperti yang dilaporkan oleh MNN, Jonathan Kipnis sebagai salah seorang kepala penelitian ini mengungkapkan bahwa tubuh manusia senantiasa menjadi medan pertempuran antara patogen dan sistem kekebalan tubuh. Maka, sebagian kepribadian Anda bisa saja dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh.  

Lagipula, berbagai gangguan sistem saraf yang menyebabkan masalah pada pola bersosialisasi seperti autisme, dementia, dan penyakit skizofrenia memang menunjukkan sistem kekebalan tubuh yang lemah pada tubuh penderitanya. Banyak juga penelitian yang sudah membuktikan bahwa kebahagiaan seseorang sangat bergantung pada kondisi kesehatannya secara keseluruhan. Berarti, bisa disimpulkan bahwa pola perilaku (termasuk kecenderungan bersosialisasi) yang diatur oleh sistem saraf pusat pada otak sangat erat kaitannya dengan kekebalan tubuh seseorang.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca