Mungkin Anda sering kali mendengar, “Awas radikal bebas, nanti kena kanker.” Radikal bebas memang dikenal sebagai salah satu penyebab kanker yang utama. Tapi tahukah Anda apa itu radikal bebas, sebenarnya? Apa bentuknya? Dari mana asalnya? Atau, bagaimana cara radikal bebas tersebut memicu tumbuhnya sel kanker dalam tubuh?

Apa itu radikal bebas?

Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa radikal bebas memang meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti Alzheimer, kanker, aterosklerosis, Parkinson, dan berbagai penyakit lainnya. Radikal bebas juga berkaitan erat dengan proses penuaan dini. Radikal bebas adalah suatu atom yang bentuknya tidak sempurna, kehilangan molekul di bagian terluar, sehingga menyebabkan atom tersebut bisa mengikat atom lainnya atau bahkan malah kehilangan seluruh bagian atom.

Tubuh terdiri dari berjuta-juta sel, dan di masing-masing sel terdapat banyak molekul yang membangunnya. Setiap molekul ini berperan dalam segala fungsi sel yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. Ketika sesuatu hal membuat molekul tersebut rusak, maka fungsi tubuh keseluruhan juga akan terganggu.

Dari mana asal radikal bebas?

Radikal bebas dibentuk oleh tubuh dari berbagai proses, termasuk berbagai metabolisme zat gizi dan hasil dari respon sistem kekebalan tubuh. Subtansi atau bahan dasar dari radikal bebas terdapat di berbagai makanan yang Anda makan, atau obat-obatan yang dikonsumsi, udara yang dihirup setiap hari, serta dari macam-macam minuman yang diminum.

Bagaimana radikal bebas mempengaruhi kesehatan?

Jika tidak berlebihan, maka radikal bebas yang diproduksi oleh tubuh tidak akan membahayakan bagi kesehatan. Namun karena kita terus terpapar atau mengonsumsi berbagai macam sumber yang dapat menyebabkan tubuh menghasilkan radikal bebas, maka bukan tidak mungkin radikal bebas menjadi meningkat jumlahnya. Menurut Harvard School of Public Health, reaksi kimia yang dilakukan oleh radikal bebas di dalam tubuh dapat menyebabkan membran sel rusak, dan hal ini mengakibatkan apapun mudah keluar masuk ke dalam sel-sel tubuh. Kemudian, dapat menyebabkan sel bermutasi dan memicu pertumbuhan sel kanker serta tumor.

Radikal bebas yang terakumulasi agak susah untuk dihilangkan dan menimbulkan kondisi stress oksidatif. Stress oksidatif adalah suatu proses di dalam sel tubuh yang menghancurkan struktur sel seperti protein, lemak, serta DNA. Jika stress oksidatif ini tidak ditangani dan dihilangkan dari tubuh maka bisa menimbulkan berbagai penyakit, seperti stroke, penyakit jantung koroner, bahkan kanker.

Apa saja gejala radikal bebas terlalu banyak?

Berdasarkan artikel yang dimuat pada Methods of Molecular Biology, pada orang yang mengalami stress oksidatif atau memiliki radikal bebas yang terlalu banyak, tidak terdapat gejala tertentu yang terlihat. Namun, beberapa gejala yang mungkin muncul adalah kelelahan, sakit kepala, pusing, nyeri pada persendian, gangguan penglihatan, mudah sakit atau penurunan sistem kekebalan tubuh, timbul tanda-tanda penuaan pada wajah, serta penurunan kemampuan mengingat.

Bagaimana cara mengetahui kadar radikal bebas yang ada di dalam tubuh?

Penelitian yang dilaporkan di dalam American Journal of Clinical Nutrition, tidak ada alat ukur atau cara pengukuran langsung untuk mengetahui jumlah radikal bebas dalam tubuh. Berbagai teori menyatakan bahwa radikal bebas memang sangat sulit untuk diukur dan diketahui jumlah pastinya di dalam tubuh karena sangat cepat bereaksi di dalam tubuh sehingga sulit untuk dilakukan pengukuran secara langsung. Namun, para ahli bisa mengukur hasil produksi dari reaksi radikal bebas, yaitu MDA dan 4-hidroksinonenal.

Lalu, bagaimana mencegah radikal bebas terbentuk di dalam tubuh?

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa sebenarnya radikal bebas adalah respon alami tubuh yang dilakukan untuk memetabolisme zat gizi atau respon dari sistem kekebalan tubuh. Sehingga, yang harus dilakukan untuk mencegah dampak buruk yang timbul dari radikal bebas adalah membatasi pembentukan radikal bebas. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan zat yang bisa menangkal efek radikal bebas, yaitu antioksidan.

Antioksidan adalah sebuah zat yang bisa menghambat proses kimiawi yang dilakukan oleh radikal bebas pada sel tubuh. Senyawa ini sudah dimiliki oleh tubuh dalam bentuk enzim, namun jumlahnya tidak cukup untuk melawan dampak dari radikal bebas. Oleh karena itu, diperlukan mengonsumsi makanan yang mengandung antioksidan, seperti makanan sumber vitamin C dan vitamin E, seng, dan beta-karoten, yang banyak terkandung dalam berbagai jenis buah dan sayur.

Olahraga menurunkan jumlah radikal bebas dalam tubuh

Radikal bebas juga dapat ditangani dengan melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara rutin. Menurut Biochemical Society, melakukan olahraga aerobik yang rutin dapat menurunkan jumlah radikal bebas di dalam tubuh. Hal ini disebabkan karena ketika melakukan olahraga, tubuh membakar banyak energi dan menyebabkan reaksi kimia dari radikal bebas tidak terjadi.  

BACA JUGA

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca