Tekanan Batin Bikin Pria Biseksual Rentan Kena Penyakit Jantung, Ungkap Studi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Orientasi seksual tidak hanya terdiri dari heteroseksualitas (laki-laki menyukai perempuan dan sebaliknya), tapi juga homoseksualitas (menyukai sesama jenis) dan biseksualitas di tengah ragam orientasi seksual lainnya. Di seluruh dunia, angka kasus penyakit menular seksual karena hubungan sesama jenis dan biseksual kian meningkat. Tak hanya itu saja, sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa pria biseksual memiliki risiko tinggi terkena penyakit jantung di kemudian hari. Memang apa pengaruhnya seksual orientasi pada kesehatan jantung? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Pengaruh orientasi seksual pada kesehatan jantung

mengatasi jantung berdebar-debar

Berdasarkan sebuah penelitian baru yang dimuat dalam jurnal LGBT Health, diketahui bahwa pria biseksual berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dibandingkan dengan pria heteroseksual. Biseksual adalah orientasi (ketertarikan) seksual pada dua jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Ini terlepas dari identitas gender Anda sendiri. Jadi seorang pria biseksual merasa tertarik baik pada perempuan atau laki-laki.

Kembali ke studi tersebut, para peneliti menguji perbedaan faktor risiko yang dapat diubah untuk penyakit jantung dan diagnosis penyakit jantung pada pria dengan orientasi seksual yang berbeda. Beberapa faktor risiko yang diukur termasuk kesehatan mental, kebiasaan merokok, pesta minuman keras, pola makan, dan olahraga.

Faktor risiko biologis seperti obesitas, hipertensi, diabetes, dan kolesterol juga ikut diukur. Sementara peserta yang melaporkan mengalami angina, penyakit jantung koroner, gagal jantung, serangan jantung, atau stroke dianggap memiliki diagnosis penyakit jantung.

Para peneliti menganalisis tanggapan lebih dari 7.000 pria usia 20 hingga 59 tahun. Perbedaan dianalisis pada empat kelompok berdasarkan identitas seksual mereka: pria gay, pria biseksual, pria heteroseksual yang berhubungan seks dengan pria (misalnya karena bereksperimen/ mencoba-coba), serta pria heteroseksual.

Pria biseksual berisiko tinggi terkena penyakit jantung

apa itu biseksual

Melalui penelitian terebut, pria biseksual diketahui berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dibandingkan dengan pria heteroseksual. Bahkan, pria biseksual juga diketahui berisiko tinggi terkena tekanan mental, obesitas, hipertensi, dan lain sebagainya. Sedangkan pria gay, pria heteroseksual, dan pria heteroseksual yang berhubungan seks dengan pria memiliki risiko penyakit jantung yang sama.

Temuan ini pada akhirnya menyoroti dampak orientasi seksual terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah pria. Billy Caceres, PhD, RN, AGPCNP-BC, penulis utama studi tersebut bahkan menyarankan dokter dan tenaga kesehatan masyarakat harus mengembangkan skrining dan pencegahan khusus untuk mengurangi risiko penyakit jantung pada pria biseksual.

Kenapa bisa begitu?

depresi pada pria

Tekanan psikologis karena menjadi minoritas adalah salah satu alasan utama di balik pengaruh orientasi seksual pada kesehatan. Bahkan, hal inilah yang pada akhirnya berkontribusi terhadap stres kronis, gangguan mental, kecanduan merokok, minum-minuman beralkohol, hingga penggunaan narkoba.

Para ahli percaya bahwa penggunaan narkoba di kalangan minoritas adalah reaksi terhadap homofobia, diskriminasi, atau kekerasan yang dihadapi sebagai akibat dari orientasi seksual mereka. Sementara The American Cancer Society juga mencatat bagaimana industri tembakau telah menargetkan dan mengeksploitasi komunitas LGBT dengan pemasaran yang agresif.

Tak hanya itu, masalah dengan keluarga yang tidak menerima identitas mereka dan kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat akhirnya mengancam kesehatan mental orang biseksual. Nah, kesehatan mental yang buruk inilah yang menjadi faktor risiko besar terhadap penyakit jantung.

Akan tetapi, terlepas dari berbagai hal yang sudah disebutkan di atas, pada dasarnya faktor risiko utama dari penyakit jantung tergantung pada gaya hidup dan pola makan seseorang. Pastikan Anda memeriksakan diri ke dokter secara teratur untuk mengatasi semua faktor risiko dan mengurangi risiko penyakit jantung sebisa mungkin.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca