Dampak Trauma Pada Wanita dan Pria Ternyata Beda (Lebih Parah Mana?)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 6 April 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Post traumatic stress disorder (PTSD) adalah gangguan kecemasan yang dipicu oleh pengalaman traumatis di masa lalu, seperti kecelakaan yang mengancam nyawa atau tindak kekerasan dalam keluarga. Mengalami kejadian traumatis adalah hal yang berat untuk siapa saja. PTSD dapat memengaruhi siapa saja, baik pria dan wanita serta anak-anak dan orang dewasa. Nah, sebuah penelitian yang dilakukan di Stanford University School of Medicine menemukan adanya perbedaan dampak trauma pada otak laki-laki dan perempuan, yang berhubungan dengan peningkatan kejadian PTSD.

Sama-sama pernah trauma, perempuan lebih rentan mengalami PTSD daripada laki-laki

Penelitian sebelumnya yang sudah lebih dulu terbit dalam Journal Depression and Anxiety menunjukkan bahwa anak perempuan yang mengalami trauma lebih rentan mengalami PTSD daripada anak laki-laki. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil pemindaian otak melalui MRI (magnetic resonance imaging) dari 59 peserta yang berusia 9-17 tahun.

Sekitar 8 persen anak perempuan yang pernah mengalami kejadian traumatis akan mengalami PTSD saat tumbuh dewasa. Sedangkan hanya 2 persen anak laki-laki yang juga mengalami kejadian traumatis yang akan mengalami PTSD di kemudian hari. 

Dampak trauma pada otak perempuan dan laki-laki memang berbeda

Penelitian baru dari Stanford University tersebut menunjukkan lewat scan MRI bahwa tak ada perbedaan struktur otak perempuan dan laki-laki yang tidak pernah mengalami peristiwa traumatis dalam hidupnya. Akan tetapi, terlihat perbedaan yang mencolok pada otak perempuan yang pernah mengalami trauma dengan otak laki-laki yang pernah mengalami trauma. 

Perbedaan ini ditemukan di bagian otak bernama insula. Insula bertugas untuk memproses emosi, beradaptasi terhadap perubahan, dan berempati. Bagian insula yang menunjukkan perbedaan yang paling menonjol dikenal sebagai sulkus sirkular anterior.

Volume dan luas permukaan sulkus sirkular anterior lebih besar pada anak laki-laki yang pernah mengalami trauma. Kebalikannya, sulkus sirkular anterior anak perempuan yang punya trauma ukurannya justru lebih kecil. Semakin dewasa, ukuran sulkus sirkular anterior ini terus mengecil sehingga perempuan menjadi semakin rentan terhadap PTSD.

diagnosis hiv

Jadi haruskah penanganan PTSD pada laki-laki dan perempuan dibedakan?

Perbedaan yang terlihat antara otak anak laki-laki dan perempuan yang telah mengalami trauma psikologis bisa membantu menjelaskan perbedaan gejala trauma antar jenis kelamin. Anak laki-laki dan anak perempuan memang bisa menunjukkan gejala trauma yang berbeda.

Beberapa gejala PTSD yang paling umum adalah muncul flashback atau kilas balik soal kejadian traumatis yang dialami secara tiba-tiba atau kalau ada pemicu yang sangat mirip dengan traumanya. Selain itu, orang dengan PTSD mungkin kesulitan menjalin relasi dengan orang terdekat, susah tidur, dan terus-terusan merasa bersalah.

Akan tetapi, gejala yang muncul bisa berbeda-beda pada setiap orang. Karena itu, para ahli menduga kuat bahwa penanganan PTSD mungkin saja perlu dibedakan, tergantung pada jenis kelamin seseorang. Saat ini memang penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memastikan apakah penanganan PTSD perlu dibedakan berdasarkan jenis kelamin karena dampak trauma yang dialami pria dan wanita berbeda.

Sampai penelitian lebih jauh berhasil membuktikannya, penanganan PTSD biasanya dilakukan melalui psikoterapi dan beberapa jenis terapi psikologis lainnya. Terapis akan menyesuaikan bentuk terapi apa yang paling sesuai dengan kondisi Anda secara khusus. Karena itu, saat ini pun sebenarnya penanganan PTSD dan trauma masa lalu pasti berbeda-beda untuk setiap orang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Psikologi 9 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit

Postnatal Anxiety, Ketakutan Berlebih Ibu Baru Saat Merawat Bayi

Berbeda dengan baby blues syndrome, seorang ibu yang mengalami postnatal anxiety tak bisa berhenti mencemaskan keadaan bayinya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Melahirkan, Kehamilan 6 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Ini yang Terjadi pada Tubuh Anda Ketika Overthinking

Overthinking tidak hanya memberi dampak psikologis, tetapi juga fisik. Terlalu banyak pikiran dan kecemasan memicu stres dan menimbulkan masalah kesehatan.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Hidup Sehat, Psikologi 1 April 2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Merokok Menyebabkan Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)?

Masyarakat secara umum merokok untuk membantu meredakan rasa cemas atau stres. Padahal, ternyata merokok menyebabkan gangguan kecemasan.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Berhenti Merokok, Hidup Sehat 20 Maret 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kenakalan remaja

Orangtua Perlu Waspada, Ini 5 Kenakalan Remaja yang Kerap Dilakukan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
PTSD pandemi COVID-19

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
hipnoterapi

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
racial trauma adalah

Mengenal Racial Trauma, Stres Berat Akibat Menjadi Korban Rasisme

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 11 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit