Bagaimana Seseorang Bisa Memiliki Fobia Terhadap Sesuatu?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Semua orang pasti pernah merasa takut. Misalnya saja takut tertabrak mobil saat menyeberang jalanan, takut tidak lulus kuliah, atau takut karena habis nonton film horor. Lantas, apa yang membedakan rasa takut biasa dan ketakutan yang disebabkan fobia?

Pahami dulu bagaimana manusia bisa merasa ketakutan

Manusia merasa takut karena melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang membuat kita merasa terancam bahaya. Pemicu rasa takut bisa sesuatu hal yang benar nyata (misalnya mobil yang ngebut di jalanan; todongan pisau perampok) atau yang tidak sebenarnya ada, misalnya hantu.

Semua ini bertindak sebagai rangsangan yang memicu amigdala, bagian otak yang berfungsi untuk merespon insting  fight or flight — lawan ancaman itu, atau kabur saja! Begitu tubuh membaca adanya ancaman, otak akan memerintahkan kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah banyak. Ini kemudian mengakibatkan berbagai macam perubahan fisik dan emosional — mulai dari jantung berdebar kencang, mata membelalak, napas terburu-buru, keringat dingin, hingga bahkan jeritan keras.

Biasanya, rasa takut hanya berlangsung sebentar dan akan mereda segera setelah pemicunya menghilang. Berbeda dengan fobia.

Fobia adalah rasa takut berlebihan yang tidak masuk akal

Phobia atau fobia adalah perasaan takut berlebihan dan tidak masuk akal terhadap suatu objek maupun situas yang sebenarnya tidak menimbulkan bahaya. Tidak seperti rasa takut pada umumnya, phobia biasanya berkaitan dengan satu hal yang spesifik.

Jika Anda memiliki fobia, Anda mungkin menyadari bahwa ketakutan Anda tidak masuk akal, namun Anda tetap tidak bisa mengendalikan perasaan tersebut. Bahkan, hanya dengan memikirkan objek atau situasi yang ditakuti bisa membuat Anda cemas berlebihan.

Maka, seseorang yang memiliki fobia akan berusaha sekeras mungkin untuk melakukan segala macam cara menghindari pemicu rasa takutnya. Sebagai contoh, seseorang yang fobia kuman (mysophobia) akan menghindari kontak fisik seperti berjabat tangan dengan orang lain atau memegang tombol lift. Mereka juga akan melakukan berbagai cara untuk membersihkan tubuh dan lingkungan sekitar mereka dari kontaminasi bakteri, dan menjaganya agar tetap selalu bersih.

Fobia adalah kondisi psikologis yang berdampak merusak, baik secara fisik maupun mental. Fobia dapat menurunkan kepercayaan diri dan harga diri seseorang, mengganggu hubungan dengan orang sekitar, dan menghambat produktivitas di tempat kerja atau sekolah, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi, isolasi sosial, dan gangguan kecemasan.

Apa bedanya rasa takut biasa dengan fobia?

Rasa takut biasa dan takut berlebihan yang dipicu oleh fobia sama-sama berasal dari respon fight or flight yang dikendalikan amigdala. Namun proses cara kerjanya yang berbeda.

Pada orang biasa, otak akan membaca pemicu takut tersebut sebagai ancaman. Misalnya, takut hantu karena pintu rumah tiba-tiba menggebrak terbuka dengan sendirinya. Semua informasi ini akan diproses oleh otak dan diteruskan ke hipocampus untuk mencari tahu dugaan penyebabnya. Kemudian setelah memindai lingkungan sekitar, hipocampus dapat menentukan bahwa gebrakan pintu itu kemungkinan besar adalah hasil hembusan angin. Hipocampus kemudian mengirimkan pesan ke amigdala bahwa tidak ada bahaya, dan amigdala akan memberi tahu hipotalamus untuk mematikan respon fight-or-flight. Anda akan bisa kembali tenang segera.

Lain halnya pada orang yang memiliki fobia. Studi oleh Critchley dkk. menunjukkan bahwa bagian otak yang bernama korteks prefrontal medial ikut terlibat dalam rangsangan ketakutan dan fobia. Salah satu studi menyebutkan bahwa korteks prefrontal ventromedial dapat memengaruhi cara kerja amigdala menghasilkan rasa takut dengan membangkitkan kenangan mengerikan. Ketika amigdala mengaitkan rangsangan tersebut (yang padahal tidak berbahaya sama sekali) dengan ingatan negatif, otak akan menciptakan reaksi penghindaran ekstrim.

Selain itu, rasa takut biasa pada umumnya tidak menimbulkan gejala fisik berarti. Sementara jika seseorang dihadapkan langsung dengan pemicu fobianya, ia biasanya akan menunjukkan tanda atau gejala fisik sebagai berikut:

  • Gelisah, mual, jantung berdebar, dada sesak, keringat dingin, napas dangkal dan cepat, mulut kering
  • Gugup berat, gemetar, tidak dapat berkata-kata
  • Serangan panik
  • Merasa akan pingsan (atau pingsan)
  • Menggigil
  • Diare
  • Baal (mati rasa)
  • Sensasi kesemutan
  • Telinga berdengung
  • Merasa bingung/linglung atau disorientasi

Itu sebabnya, fobia adalah rasa ketakutan irasional yang ditandai dengan reaksi kuat untuk menghindari objek atau situasi tertentu guna mencegah munculnya rasa takut, cemas, atau lainnya.

Apa penyebab fobia?

Tidak ada penyebab pasti yang dapat menjelaskan mengapa seseorang bisa memiliki fobia. Namun, ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi risiko fobia, seperti faktor genetik, lingkungan, serta trauma psikologis yang pernah dialami di masa lalu.

Misalnya saat kecil Anda pernah terjebak dalam lift dalam waktu yang lama karena lift tiba-tiba mati. Setelah kejadian tersebut, Anda menjadi ketakutan, cemas, dan keringat dingin saat berada di dalam lift, dan daripada harus merasa takut Anda jadi memutuskan untuk naik tangga saja.

Fobia juga dapat terjadi setelah seseorang mengalami trauma otak yang mengubah struktur atau zat kimia tertentu dalam otak.

Bisakah fobia diobati?

Pengobatan fobia adalah terapi yang mencakup psikoterapi CBT (untuk menghentikan kecemasan, ketakutan, dan sekaligus memperbaiki pola pikir), obat-obatan medis (kombinasi antidepresan, beta-blocker, dan antikecemasan), maupun kombinasi keduanya. Selain itu, hipnoterapi dan Neuro-Linguistic Programming (NLP) juga bisa dijadikan terapi dampingan untuk mengendalikan gejala fobia.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca