Awas! Remaja Pengguna Ganja Berisiko Mengidap Skizofrenia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Ganja adalah jenis narkoba yang paling umum digunakan di Indonesia, dan sebagian besar pengguna ganja pertama kali bereksperimen dengan lintingan ganja di masa remaja. Menurut data terakhir BNN tahun 2014, 565.598 remaja usia sekolah adalah golongan pengguna ganja aktif terbesar kedua setelah golongan pekerja.

Para peneliti telah lama mencatat adanya hubungan antara remaja pengguna ganja dan peningkatan risiko gangguan kejiwaan, termasuk depresi, kecemasan, dan psikosis (skizofrenia) saat mereka dewasa nanti.

Bagaimana ganja memengaruhi otak anak remaja?

Ganja mengandung senyawa kimia delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan senyawa terkait lainnya. THC membajak area otak yang bertanggung jawab terhadap pengalaman emosional, seperti kebahagiaan, memori, nalar berpikir, konsentrasi, serta persepsi sensorik dan waktu. Cara kerjanya adalah dengan mengirim sinyal antar sel saraf sehingga mengganggu berbagai fungsi mental dan fisik. Seiring waktu, ganja akan menyebabkan efek psikotik jangka pendek seperti euforia, halusinasi, kepanikan, paranoia, dan distorsi kenyataan bahkan pada orang yang sehat sekalipun. Beberapa efek ini dapat bertahan dalam jangka panjang.

Beberapa penelitian telah menghubungkan penggunaan ganja dengan peningkatan risiko gangguan kejiwaan pada anak remaja, termasuk depresi, kecemasan, dan gejala psikosis yang merujuk pada skizofrenia. Tapi, apakah dan sejauh mana ganja benar-benar menyebabkan kondisi ini tidak selalu mudah untuk ditentukan. Bahaya potensial yang terkait dengan penggunaan ganja tergantung pada dua hal utama.

Yang pertama adalah usia saat Anda pertama kali mulai menggunakan ganja, terutama jika sebelum 18 tahun. Menggunakan ganja selama tahap-tahap kunci dari perkembangan otak selama masa remaja dapat berdampak pada pemangkasan sinaptik (ketika koneksi saraf tua dihapus) dan pengembangan materi putih (yang mentransmisikan sinyal di otak). Yang kedua adalah frekuensi, dosis, dan durasi menghisap ganja, terutama jika Anda menggunakan setidaknya mingguan. Semakin besar atau lebih kuat dosisnya, semakin banyak THC yang masuk ke otak untuk mengubah cara kita mengatur emosi.

Bagaimana pengguna ganja bisa berisiko skizofrenia?

Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa penggunaan ganja dosis berat, identik dengan kondisi neuropsikiatri, seperti skizofrenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak remaja pengguna ganja teratur yang berusia 16 atau 17 menunjukkan penurunan di thalamus otak — area penting untuk belajar, memori, dan komunikasi.

Selanjutnya, para peneliti mengatakan penurunan kualitas talamus otak ini menyerupai kerusakan yang ditemukan pada pasien skizofrenia dewasa pengguna ganja. Perubahan ini berlanjut sampai awal masa dewasa, jauh melewati tahap paparan awal. Temuan ini mendukung beberapa penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa penggunaan ganja rutin dapat menyebabkan perubahan struktur otak yang berhubungan dengan skizofrenia. Sebanyak 90 persen pengguna ganja skizofrenik telah menggunakan ganja dalam dosis berat, bahkan jauh sebelum terkena gangguan mental.

Namun demikian, peneliti menggarisbawahi bahwa peningkatan risiko skizofrenia akan melonjak dramatis ketika remaja pengguna ganja aktif juga memiliki riwayat skizofrenia dalam silsilah keluarga mereka. Beberapa studi menunjukkan bahwa merokok ganja benar-benar dapat memicu penyakit timbul lebih awal pada individu yang memiliki faktor risiko skizofrenia.

Risiko skizofrenia akan lebih tinggi jika remaja memiliki faktor genetik

Penelitian terbaru kutipan dari National Institute of Drug Abuse telah menemukan bahwa pengguna ganja yang membawa varian tertentu dari gen AKT1, kode untuk enzim yang memengaruhi produksi sinyal dopamin di striatum, memiliki risiko lebih tinggi untuk psikosis. Striatum adalah daerah otak yang menjadi aktif dan dibanjiri dopamin ketika rangsangan tertentu yang hadir. Satu studi menemukan bahwa risiko psikosis di antara populasi pengguna ganja rutin yang memiliki varian kode genetik unik ini memiliki peningkatan hingga tujuh kali lebih tinggi terhadap skizofrenia dibandingkan dengan mereka yang jarang menghisap ganja atau tidak sama sekali.

Studi lain menemukan peningkatan risiko psikosis antara orang dewasa yang telah menggunakan ganja di usia remaja dan juga membawa varian tertentu dari gen untuk catechol-O-methyltransferase (COMT). Penggunaan ganja juga telah terbukti memperburuk keparahan penyakit pada pasien pengguna ganja yang sudah memiliki skizofrenia, dan menurunkan kemungkinan pemulihan dari episode psikotik.

Namun, ganja bukan penyebab langsung dari skizofrenia

Sejauh ini, penelitian-penelitian di atas hanya menunjukkan hubungan antara penggunaan ganja dan munculnya gejala psikosis atau skizofrenia di kemudian hari. Ini tidak sama dengan menyatakan bahwa ganja menyebabkan psikosis.

“Secara umum, kami menemukan kecenderungan adanya peningkatan depresi dan gangguan bipolar pada riwayat keluarga pengguna ganja. Ini mungkin menunjukkan bahwa remaja pengguna ganja lebih rentan terhadap gangguan ini daripada mereka yang bukan pengguna, atau sebaliknya,” ujar tim peneliti dari Harvard Medical School, dilansir dari Psych Central.

Studi-studi ini memberikan satu lagi alasan untuk mengingatkan anak-anak muda terhadap bahaya penggunaan ganja — terutama jika mereka memiliki anggota keluarga yang memiliki skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: November 21, 2016 | Terakhir Diedit: Februari 28, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca