Apa yang Terjadi Jika Rutin Mengisap Ganja Dalam Jangka Panjang?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Ganja mengacu kepada bagian tanaman Cannabis sativa yang dikeringkan. Bagian ini bisa termasuk daun, bunga, akar, bahkan bijinya. Komponen yang disebut THC pada ganja memberikan efek “high” pada penggunanya. Cara penggunaan ganja bermacam-macam, bisa dilinting menjadi rokok, menggunakan bong, hingga menggunakan vaporizer. Ganja juga dapat dicampur ke dalam makanan seperti brownies, kukis, permen, atau bahkan diseduh seperti teh.

Dibandingkan obat-obatan rekreasi jenis lain, ganja dianggap yang paling “jinak” dan memiliki risiko paling kecil. Bahkan penggunaan mariyuana sebagai terapi medis untuk kesehatan pun sudah mulai diakui di berbagai negara.

Tapi apa yang akan terjadi jika ganja digunakan secara rutin dalam jangka panjang? Simak uraiannya di bawah ini.

Efek terhadap fisik

Masalah pernapasan

Pemakaian ganja yang dibakar menyebabkan masalah pernapasan yang sama dengan merokok. Komponen pada ganja dapat mengakibatkan paru-paru teriritasi sehingga menimbulkan batuk, produksi dahak yang berlebihan, hingga tingginya risiko menderita penyakit paru-paru lain seperti pneumonia dan infeksi paru.

Peningkatan detak jantung

Tiga jam setelah mengonsumsi ganja, detak jantung akan meningkat dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan ketidakstabilan irama jantung. Ini meningkatkan risiko menderita penyakit jantung di kemudian hari. Mereka yang memakai ganja dan memiliki riwayat penyakit jantung berisiko lebih tinggi mengalami serangan jantung.

Perubahan struktur otak

Penggunaan ganja dapat menyebabkan perubahan struktur pada hipokampus, amygdala, nucleus accumbens, dan prefrontal cortex pada otak. Semakin sering dan banyak jumlah ganja yang dikonsumsi ,maka akan semakin tampak perubahan yang signifikan. Padahal, bagian otak tersebut penting dalam mempengaruhi cara kita menilai hal positif dan negatif di lingkungan serta bagaimana kita mengambil keputusan atas hal tersebut.

Peneliti mengungkapkan perubahan otak ini juga bisa terjadi karena penggunaan jangka panjang yang biasanya menyebabkan kecanduan. Seperti dikutip dari Forbes, Jodi Gilman peneliti dari Massachusetts General Center for Addiction Medicine mengatakan bahwa pengguna ganja yang sedang dalam proses menuju kecanduan mengalami perubahan struktur dan pembentukan koneksi-koneksi baru di otak yang berhubungan dengan kecanduan.

Terganggunya kesuburan

Efek jangka panjang penggunaan ganja baik pada pria maupun wanita dapat berpengaruh pada kesuburan. Pada pria dapat mengakibatkan turunnya kadar hormon testosteron sehingga berefek pada berkurangnya jumlah sperma. Selain itu, risiko menderita disfungsi ereksi hingga kanker testis juga menjadi lebih tinggi. Pada wanita bisa menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Melemahnya sistem imun

Kadar THC dalam ganja dapat merusak sel dan jaringan yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap penyakit tertentu. Hal ini menyebabkan pengguna ganja lebih rentan mengidap penyakit seperti batuk, pilek, hingga penyakit infeksi atau penyakit yang berasal dari virus.

Menghambat tumbuh kembang janin dan bayi

Penggunaan ganja saat hamil berpotensi menghambat perkembangan otak pada janin. Efeknya, ketika anak lahir dapat terjadi masalah pada perilaku anak seperti sulit berkonsentrasi, kesulitan mengingat, hingga lemah dalam hal pemecahan masalah.

Efek terhadap mental

Mengurangi kecerdasan kognitif

Mereka yang mengonsumsi ganja dilaporkan mengalami penurunan dalam hal kemampuan belajar, kemampuan untuk fokus, hingga kemampuan mengingat. Hal ini semakin parah jika seseorang mulai menggunakan ganja sejak usia remaja. Sebuah penelitian menemukan adanya penurunan IQ hingga 8 poin pada mereka yang menggunakan ganja untuk waktu yang lama. Penurunan nilai IQ yang signifikan lebih banyak ditemukan pada mereka yang menggunakan ganja sejak remaja dan terus berlanjut hingga dewasa.

Risiko munculnya gejala psikotik

Penggunaan ganja dapat menimbulkan munculnya gejala-gejala psikotik seperti misalnya delusi, halusinasi, dan gangguan berpikir. Tercetusnya pikiran untuk bunuh diri, depresi, gugup yang berlebihan, hingga skizofrenia dapat terjadi pada mereka yang menggunakan ganja dalam jangka panjang.

Meskipun dampak penggunaan ganja bagi kesehatan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, namun kadar THC pada ganja yang semakin meningkat dari tahun ke tahun patut diperhatikan. Kadar THC pada daun ganja dulu berkisar antara 1% sampai 4%, saat ini kadarnya bisa mencapai 7%. Semakin meningkatnya kadar THC dapat menyebabkan seseorang semakin mudah mengalami ketergantungan terhadap ganja.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Menggunakan Krim untuk Menghilangkan Bulu, Amankah?

    Selain mencukur, waxing, dan laser, ada juga krim untuk menghilangkan bulu yang mudah dan murah. Apa krim perontok bulu aman untuk tubuh?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Kecantikan 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

    Apa Perbedaan Tekanan Darah di Pagi, Siang, dan Malam Hari?

    Pengukuran tekanan darah banyak dianjurkan untuk dilakukan pada pagi hari. Apakah akan ada perbedaan tekanan darah, jika dilakukan di lain waktu?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

    Kista Ganglion

    Ganglion adalah kista yang umumnya terbentuk pada tendon dan persendian yang umum timbul di tangan. Berikut informasi lengkap tentang ganglion.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

    Flat Foot (Telapak Kaki Datar)

    Normalnya, bagian tengah telapak kaki akan berlekuk. Namun, orang-orang penderita flat feet memiliki telapak kaki datar. Apa efeknya pada kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    pasca operasi usus buntu

    Semua Hal yang Perlu Anda Perhatikan Setelah Jalani Operasi Usus Buntu

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 4 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
    veneer gigi

    Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Veneer Gigi

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit
    cepat turun berat badan pagi hari

    7 Kebiasaan di Pagi Hari yang Bikin Cepat Turun Berat Badan

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
    berapa banyak makan nasi saat sarapan

    Seberapa Banyak Harusnya Porsi Makan Nasi Saat Sarapan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit