Orang dengan down syndrome sering kali dipandang sebagai orang yang tidak bisa berkembang dan menorehkan prestasi dibandingkan orang-orang pada umumnya. Berbagai keterbatasan perkembangan orang dengan down syndrome di kemudian hari pun sering membuat orangtua cemas akan masa depan.

Pada kenyataannya, banyak orang-orang yang memiliki sindrom ini berhasil menempuh pendidikan yang baik, berkarya atau bekerja, menemukan potensi dirinya, mengatasi kendala sehari-hari, hingga akhirnya membangun keluarga sendiri.

Namun, orangtua tentu berperan besar dalam kesuksesan pengasuhan ini. Lalu bagaimana caranya mendukung anak dengan Down syndrome agar tumbuh mandiri dan lebih produktif? Simak ulasan di bawah ini.

Orang dengan Down syndrome tetap bisa produktif

Salah besar jika Anda mengganggap diagnosis Down syndrome adalah harga mati yang berarti anak tidak akan bisa tumbuh dan berkembang seperti orang pada umumnya. Memang tak bisa dipungkiri bahwa anak Anda akan menghadapi banyak sekali tantangan akibat keterbatasannya. Maka, Anda sendiri juga harus bisa menyesuaikan ekspektasi atau harapan dengan kondisi anak. Namun, ini semua sejatinya bisa dihadapi dengan pendekatan dan pola asuh yang terbaik.

Orang dengan Down syndrome bisa bekerja, berkarya, berpenghasilan, dan berkeluarga. Mereka tetap bisa belajar dan mengikuti pelajaran yang diajarkan orang-orang lain. Betul adanya bahwa sindrom ini memengaruhi kemampuan belajar seseorang. Akan tetapi, bukan berarti orang dengan Down syndrome tidak bisa belajar sama sekali.

Jika diarahkan dengan metode yang tepat, mereka bisa memiliki kemampuan-kemampuan dasar seperti menulis, membaca, dan berhitung. Selain itu, anak dengan sindrom ini mungkin menunjukkan minat dan kepekaan dalam beberapa bidang seperti melukis, musik, tari, atau olahraga.

Apa yang bakal terjadi pada anak dengan Down syndrome ketika tumbuh dewasa?

Kebanyakan anak yang memiliki sindrom ini memang akan terus tinggal bersama orangtua, pengasuh, atau keluarganya sampai dewasa. Namun, dalam beberapa kasus ada juga orang-orang yang tinggal sendiri secara mandiri (dalam pengawasan orang terdekat) ketika beranjak dewasa.

Ini semua tergantung pada kondisi dan kesiapan masing-masing. Intinya, meski memang sulit, tidak mustahil untuk hidup mandiri dengan sindrom Down.

Saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sudah banyak kursus, sekolah, lembaga, bahkan universitas yang menyediakan pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi orang-orang yang memiliki sindrom Down. Mereka bisa belajar menggunakan komputer, mengetik, menggunakan mesin jahit, dan lain-lain. Mereka akan didampingi oleh tenaga pengajar yang sudah ahli dalam bidang pelatihan bagi orang-orang berkebutuhan khusus.

Daftarkan anak Anda untuk ikut pelatihan-pelatihan tersebut guna membekalinya di masa depan. Dengan begitu, anak pun memiliki peluang lebih besar untuk hidup lebih mandiri.

tumbuh dengan down syndrome

Menyiapkan anak dengan Down syndrome agar tumbuh lebih mandiri

Pertama-tama, penerimaan yang tulus dari keluarga dan kerabat dekat lainnya akan membuat mereka merasa lebih nyaman, bahagia, dan percaya diri. Dengan begitu, mereka pun bisa membangun mental yang lebih tangguh ketika dihadapkan dengan tantangan atau kesulitan.

Kedua, sebagai orangtua, Anda harus memberikan kepercayaan bagi anak untuk berkembang. Bagaimana caranya? Misalnya dengan meminta anak dengan Down syndrome untuk berkenalan sendiri dengan orang yang baru ditemuinya di sekolah, bukan Anda yang bicara dan mengenalkannya pada orang lain. Percayalah bahwa anak Anda mampu berinteraksi dengan orang lain, meski tanpa Anda. Cukup dorong dan bisikkan pada anak untuk bersalaman, menyebutkan namanya sendiri, dan menanyakan nama teman barunya tersebut. Namun, biarkan anak yang bertindak sendiri sambil Anda awasi.

Ketiga, bantu anak mengelola emosi dan reaksinya ketika menghadapi kegagalan. Dalam hidupnya, anak akan sering sekali menemui kendala. Maka, ketika anak kesulitan atau gagal melakukan sesuatu, Anda sendiri tidak boleh menunjukkan reaksi yang berlebihan. Misalnya dengan berteriak-teriak atau membentak anak.

Anda justru harus membantu anak menyelesaikan masalah pelan-pelan. Memang Anda harus banyak bersabar. Akan tetapi, percayalah bahwa lama-lama anak bisa belajar. Beri tahu anak bahwa melakukan kesalahan itu wajar dan boleh, tapi beri pengertian juga bahwa masalah harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya dengan tenang.

Keempat, gali potensi dan minat anak. Memiliki Down syndrome bukan berarti anak tidak punya minat atau bakat dalam hal tertentu. Contohnya anak sangat suka olahraga. Asah terus kemampuannya dalam berolahraga. Sehingga di masa depan, anak punya peluang lebih besar untuk memanfaatkan potensi ini.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca