4 Fakta Unik Seputar Lithium, Obat untuk Mengatasi Gangguan Bipolar (Ada di Minuman Anda, Lho!)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Gangguan bipolar adalah gangguan mood yang ditandai dengan episode mania (merasa sangat gembira dan aktif sampai-sampai tidak mau tidur atau beristirahat) dan depresi berat. Nah, biasanya orang dengan gangguan bipolar diberikan pengobatan dengan lithium. Lithium merupakan obat yang diandalkan untuk mania akut dan pengobatan rawatan. Selain itu, litium dilaporkan bisa mengurangi risiko bunuh diri pada penderita gangguan bipolar. Berbicara tentang lithium untuk gangguan bipolar, ada beberapa fakta unik dan menarik dari obat ini.

1. Lithium sempat digunakan untuk mengobati asam urat

Sejarah lithium sebagai obat tidak bisa lepas dari penyakit asam urat. Kandungan garam dari unsur yang ditemukan tahun 1817 ini telah digunakan untuk mengobati asam urat. Sayangnya, pasien asam urat yang diobati dengan lithium tak membaik. Obat ini malah bisa mengendalikan gejala-gejala mania pada pasien asam urat. Alhasil pada akhir tahun 1800-an, lithium digunakan untuk mania akut. 

2. Apakah gangguan jiwa disebabkan oleh kekurangan lithium?

Pada penelitian sebelumnya, tidak diketahui apakah gangguan bipolar disebabkan oleh kekurangan litium. Lalu, pada tahun 1989, Schrauzer dan Shrestha menerbitkan sebuah makalah berjudul “Lithium in Drinking Water and the Incidences of Crimes, Suicides, and Arrests Related to Drug Addictions.”

Mereka mengambil sampel lithium di perairan di Texas, Amerika Serikat (AS). Menurut statistik, tampaknya daerah-daerah dengan kadar litium yang lebih tinggi di dalam air menunjukkan rendahnya kejadian pembunuhan, bunuh diri, dan tindakan kriminal yang dipicu oleh konsumsi obat-obatan terlarang. 

Penelitian yang serupa juga dilakukan di Jepang dengan mengambil sampel litium dari perairan di 18 wilayah selama lima tahun. Ternyata, angka bunuh diri di wilayah-wilayah dengan kandungan lithium cukup tinggi dilaporkan lebih rendah dari wilayah lainnya.

Karena itu, para peneliti menduga bahwa kandungan senyawa ini mungkin bisa mengendalikan beberapa gejala gangguan jiwa, termasuk yang dipicu oleh penggunaan obat-obatan terlarang. Namun, penelitian lebih lanjut dan uji klinis masih diperlukan untuk membuktikan apa benar gangguan jiwa disebabkan oleh kurangnya kadar litium dalam tubuh.

3. Minuman Anda mungkin mengandung lithium

Unsur lithium yang dipakai untuk menangani gangguan bipolar rupanya bisa juga ditemukan dalam air keran. Jadi, bila Anda mengonsumsi atau minum air keran rebusan, bisa jadi air tersebut mengandung lithium dalam kadar tertentu. Anda bisa memeriksanya dengan membawa sampel air keran dari rumah untuk diuji di laboratorium dinas kesehatan setempat.

Namun, jangan khawatir karena sebenarnya unsur lithium tidak membahayakan tubuh. Lithium adalah unsur alami, bukan unsur buatan manusia yang direkayasa di laboratorium seperti obat-obatan lainnya. Bahkan sebuah studi di Denmark menunjukkan potensi litium dalam air minum untuk mencegah demensia (pikun atau berkurangnya fungsi kognitif otak).

Bahkan pada awal tahun 1900-an, seorang warga AS, Charles Leipe Grigg mencampurkan lithium dalam minuman soda. Charles meyakini bahwa kandungan tersebut bisa membuat orang yang minum soda buatannya merasa lebih baik atau mood-nya meningkat. Namun, selanjutnya kandungan senyawa ini dihilangkan dari produksi minuman.

4. Bagaimana cara lithium mengobati gangguan bipolar?

Gangguan bipolar disebabkan oleh adanya kelainan atau disfungsi pada otak. Misalnya produksi hormon tidak seimbang atau gangguan pada sistem saraf yang mengatur mood, emosi, pola pikir, dan perilaku.

Nah, lithium yang masuk dalam tubuh akan bekerja pada sistem saraf pusat yang letaknya di otak. Unsur ini kemudian bekerja dengan cara memperkuat koneksi antar sel saraf di otak yang bertugas untuk mengatur mood, emosi, pola pikir, serta perilaku orang dengan gangguan bipolar.

Akan tetapi, biasanya lithium baru akan bekerja secara ampuh beberapa minggu sejak Anda pertama kali mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter. Penggunaan obat ini juga harus rutin dipantau oleh dokter dan tenaga kesehatan karena obat ini berefek langsung pada otak.

Baca Juga:

Sumber