Makan Telur Mentah, Sehat Atau Malah Berbahaya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Telur adalah salah satu bahan pangan yang paling banyak ditemui sehari-hari. Karena sifatnya yang serba guna, hampir setiap masakan yang Anda konsumsi mengandung telur. Beberapa orang bahkan rutin menambahkan telur ke dalam minuman untuk mendapatkan protein tambahan. Sering kali, telur dikonsumsi dalam keadaan mentah.

Telur mentah bisa Anda temukan antara lain dalam minuman, krim pada kue, mayonaise, dan saus untuk salad. Meskipun sudah banyak orang yang minum atau makan telur mentah, bukan berarti Anda bisa sembarangan mengonsumsinya. Pasalnya, telur mentah juga bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan Anda. Perhatikan dulu tiga risiko utama makan telur mentah berikut ini.

BACA JUGA: Benarkah Kuning Telur Berbahaya Bagi Jantung?

Apa manfaat makan telur mentah?

Untuk memasak kue, saus, atau krim, telur mentah diperlukan sebagai pengikat adonan. Telur juga bisa membuat adonan jadi lebih lembut, kental, dan mengembang. Namun, adonan tertentu memang tidak akan dimasak atau dipanaskan lagi sehingga telur yang sudah dicampur dalam adonan tersebut tetap mentah ketika disajikan.

Berbagai jenis minuman juga disajikan dengan campuran telur mentah, misalnya susu dengan campuran telur mentah, madu, dan jahe. Banyak binaragawan juga minum telur mentah yang dicampur dalam protein shake mereka. Minum telur mentah dipercaya bisa membantu laki-laki mendapatkan bentuk badan yang ideal serta menambah stamina.

Tak seperti telur yang sudah dimasak sampai matang atau setengah matang, telur mentah menawarkan berbagai nutrisi penting seperti vitamin, mineral, lemak baik, dan antioksidan yang maksimal. Dalam keadaan mentah, nutrisi-nutrisi tersebut kadarnya lebih tinggi. Memanaskan dan memasak telur berisiko mengurangi kadar vitamin A, B5, dan kalium. Inilah yang memancing banyak orang untuk minum atau makan telur mentah.

BACA JUGA: 7 Manfaat Mengejutkan Makan Bawang Putih Mentah

Makan telur mentah, proteinnya tidak diserap maksimal

Banyak orang percaya bahwa telur mentah bisa meningkatkan kadar protein Anda lebih cepat daripada telur matang. Pada kenyataannya, makan telur mentah ternyata bukan jawaban yang tepat bagi Anda yang ingin menambah asupan protein.

Sebuah penelitian dalam International Journal of Food Sciences and Nutrition tahun 2004 menguak bahwa manusia justru menyerap protein lebih banyak dari telur yang sudah matang. Dalam keadaan mentah, protein yang bisa diserap dalam tubuh hanya sebesar 50%. Sementara kalau telur sudah matang, protein yang diserap tubuh bisa mencapai 90%.

Penemuan yang serupa juga dibuktikan oleh American Institute of Nutrition dalam The Journal of Nutrition. Jadi, meskipun telur adalah sumber protein yang kaya, memasaknya sampai matang adalah cara terbaik untuk mendapatkan protein yang maksimal.

BACA JUGA: 11 Sumber Protein Terbaik Dari Bahan Makanan Nabati

Putih telur mentah mengganggu penyerapan biotin

Biotin juga dikenal sebagai vitamin B7 yang larut dalam air. Vitamin ini diperlukan oleh tubuh dalam proses metabolisme dan pencernaan gula dalam darah. Bagi ibu hamil, vitamin ini penting untuk pertumbuhan janin. Biotin paling banyak ditemukan dalam kuning telur.

Sayangnya, putih telur mentah bisa mengganggu penyerapan biotin dalam tubuh. Putih telur mengandung protein bernama avidin yang akan memerangkap biotin. Akibatnya, tubuh Anda tak bisa mencerna dan mengurai vitamin ini dengan baik. Avidin hanya akan hancur ketika dipanaskan, yaitu ketika telur dimasak. Jadi kalau Anda makan telur mentah, Anda tak akan mendapat asupan biotin.  

Telur mentah membuat Anda berisiko tertular infeksi bakteri Salmonella

Risiko terbesar makan telur mentah adalah terinfeksi bakteri Salmonella. Bakteri yang tinggal dalam berbagai produk hewani seperti susu, telur, dan daging ini bisa menyerang tubuh manusia dan menyebabkan infeksi. Berikut adalah informasi lengkap soal bakteri salmonella dalam telur mentah.

Dari mana asal bakteri Salmonella?

Bakteri ini menempel pada cangkang telur serta hidup di dalam telur mentah. Makan telur mentah adalah salah satu penyebab terbanyak infeksi bakteri Salmonella. Penyebab infeksi bakteri lainnya adalah makan daging mentah dan tertular dari binatang peliharaan. Akan tetapi, Salmonella tidak tahan panas sehingga kalau dimasak sampai matang, bakteri ini akan mati.

Gejala infeksi bakteri Salmonella

Jika terinfeksi, Anda akan menunjukkan gejala-gejalanya dalam waktu 6 sampai 72 jam setelah makan telur mentah. Gejalanya antara lain kram perut, mual, diare, dehidrasi, demam, dan sakit kepala. Kondisi ini bisa berlangsung mulai dari 4 hingga 7 hari. Biasanya infeksi bakteri ini bisa diobati dengan cara meredakan gejalanya di rumah. Dalam beberapa kasus, orang yang kehilangan cairan karena diare hebat harus dirawat di rumah sakit.  

BACA JUGA: Apa yang Harus Dilakukan Saat Keracunan Makanan?

Menghindari bakteri Salmonella

Kasus infeksi bakteri Salmonella memang sudah tak begitu umum seperti pada tahun 1990-an. Ini karena sekarang teknik pasteurisasi sudah banyak diterapkan untuk berbagai produk hewani. Maka, kalau Anda memang harus minum atau makan telur mentah, pastikan untuk memilih telur yang sudah dipasteurisasi.

Selain itu, ada kelompok tertentu yang lebih rentan terinfeksi Salmonella. Kelompok tersebut adalah anak-anak, orang lanjut usia, orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, dan ibu hamil. Jika Anda atau anggota keluarga Anda termasuk dalam kelompok tersebut, sebaiknya hindari konsumsi telur mentah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Mengenal Perawatan Paliatif Sebagai Pengobatan Penyakit Kanker

    Perawatan paliatif adalah perawatan suportif yang umumnya dijalani pasien kanker. Namun, seperti apa sih perawatan ini? Pelajari selengkapnya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kanker 18 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Berbagai Cara untuk Mengurangi Mata Minus (Rabun Jauh)

    Bagi Anda yang memiliki mata minus, pasti ingin lepas dari ketergantunga kacamata atau lensa. Lalu apakah mungkin mengurangi mata minus? Bagaimana caranya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 17 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Jenis Makanan Sehat untuk Membantu Menyembuhkan Kanker Otak

    Beberapa jenis makanan dapat membantu menyembuhkan kanker otak, ataupun meringankan gejala yang timbul. Berikut daftar makanan yang disarankan.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Kanker, Kanker Otak 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Mengapa Ada Orang yang Nyetrum Ketika Disentuh?

    Pernah merasa seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengan orang lain? Ini dia penjelasan kenapa orang tertentu nyetrum ketika disentuh.

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    ciri-ciri dan gejala alergi dingin

    Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit
    mencium spidol

    Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit
    multivitamin gummy dewasa

    Multivitamin Gummy untuk Dewasa, Benarkah Lebih Sehat?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan MRI

    Yang Harus Anda Tahu Sebelum Menjalani Pemeriksaan MRI

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 3 menit