Bagi orang yang sehat, alergi mungkin tampak seperti kumpulan gejala ringan yang bisa muncul kapan saja. Tapi, tahukah Anda? Alergi yang berlangsung lama dapat menghambat aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas hidup penderitanya, bahkan memicu depresi tanpa disadari.

Mengapa alergi bisa memicu depresi?

alergi dan sinusitis

Alergi memang tidak secara langsung menyebabkan depresi, tapi kondisi ini dapat meningkatkan risiko terkena depresi. Berikut di antaranya.

1. Menimbulkan gejala yang mengganggu

Reaksi umum saat seseorang mengalami alergi adalah batuk, hidung meler, bersin, sakit tenggorokan, pusing, gatal, serta sesak napas.

Tingkat keparahannya beragam pada setiap orang, mulai dari ringan hingga membuat Anda harus beristirahat di rumah selama seharian.

Kini, bayangkan jika Anda harus mengalaminya setiap pekan. Semua hal yang Anda lakukan akan terasa menguras energi sehingga mood Anda juga bisa terkena imbasnya.

Lama-kelamaan, hal ini berpengaruh terhadap kondisi fisik dan psikologis Anda.

2. Menghambat aktivitas sehari-hari

gatal pada kulit

Reaksi alergi bisa timbul kapan pun Anda terpapar pemicunya, termasuk saat Anda melakukan kegiatan sehari-hari.

Akibatnya, Anda tidak bisa bekerja dan berkegiatan secara optimal karena kondisi kesehatan kian menurun.

Gejala alergi yang Anda alami mungkin saja bertambah buruk jika ternyata lingkungan kerja Andalah yang menyebabkannya, sehingga memicu depresi.

Terlebih lagi jika gejala alergi yang Anda alami selama ini tergolong parah.

3. Menyebabkan tidak enak badan

Saat mengalami reaksi alergi, sistem kekebalan tubuh memproduksi sejenis protein yang disebut sitokin.

Sitokin melepaskan molekul khusus agar berbagai komponen pada sistem kekebalan tubuh bisa bekerja melawan pemicu alergi.

Namun, sitokin juga dapat memengaruhi fungsi otak. Efek samping yang timbul di antaranya rasa tidak enak badan, penurunan mood, berkurangnya konsentrasi, serta munculnya rasa kantuk.

Kumpulan gejala inilah yang juga menyebabkan rasa tidak enak badan ketika Anda flu.

Rasa Kantuk Berlebihan, Bisa Jadi Gejala Narkolepsi

4. Efek samping obat alergi

Salah satu cara paling ampuh mengatasi alergi adalah dengan obat-obatan. Akan tetapi, beberapa jenis obat alergi memiliki efek samping bagi tubuh.

Gejala alergi mungkin tidak memicu depresi secara langsung, tapi efek samping obat yang berkepanjangan dapat meningkatkan risikonya.

Walaupun efektif, obat-obatan ini dapat menyebabkan sakit perut, sembelit, mulut kering, gangguan mood, serta pusing. Selain itu, pengguna obat alergi biasanya juga mengalami rasa kantuk yang tidak tertahankan.

5. Menyebabkan stres berkepanjangan

cara mencegah stres kerja freelance

Setiap hari, penderita alergi harus berhadapan dengan gejala yang mengganggu, rasa tidak enak badan, gangguan tidur, serta efek samping obat-obatan.

Akibatnya, mereka lebih rentan mengalami stres. Stres bahkan dapat berlangsung menahun karena alergi tidak dapat disembuhkan.

Stres berkepanjangan dapat memicu berbagai gejala gangguan psikologis, termasuk depresi.

Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa remaja yang menderita alergi berisiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan, depresi, tindakan impulsif, serta perubahan perilaku.

Kendati tidak secara langsung memicu depresi, alergi biasanya berlangsung menahun sehingga menyebabkan stres berkepanjangan bagi penderitanya.

Jika Anda menderita alergi, cobalah berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan solusi yang tepat.

Gejala alergi bisa dikendalikan dengan obat-obatan dan perubahan gaya hidup.

Berkonsultasi dengan dokter akan membantu Anda menemukan jenis obat dengan efek samping lebih ringan sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca