Makan Popcorn, Apakah Baik Atau Buruk Bagi Kesehatan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Popcorn merupakan salah satu makanan ringan yang disukai banyak orang. Biasanya makanan ringan ini menemani Anda saat sedang nonton bioskop. Tapi, makanan ringan ini sering dicap buruk oleh banyak orang. Padahal, sebenarnya popcorn juga mempunyai manfaat untuk Anda. Benarkah sering makan popcorn itu baik untuk kesehatan?

Popcorn bisa menjadi snack sehat

Popcorn merupakan makanan ringan yang terbuat dari jagung. Jagung khusus akan mengembang saat terkena panas. Sehingga, sebenarnya popcorn mempunyai kandungan nutrisi yang bermanfaat. Dalam 100 gram popcorn tawar mengandung vitamin B1, B3, B6, zat besi, magnesium, fosfor, kalium, seng, dan mangan. Popcorn tawar sebenarnya hanya mengandung 1 gr lemak dan 3 gr protein per porsi. Namun, ini tentu akan berbeda jika popcorn dibuat dengan minyak atau mentega. Selain itu, popcorn juga mengandung serat yang cukup tinggi.

Makan popcorn bisa membantu menurunkan berat badan dan memberi manfaat kesehatan

Kandungan serat tinggi yang terkandung dalam popcorn membuat popcorn dapat membantu Anda dalam menurunkan berat badan. Dalam satu porsi popcorn (atau sekitar tiga gelas), mengandung serat sebanyak 3,6 gram.

Tak hanya itu, ngemil popcorn juga hanya menyumbang kalori yang relatif kecil ke dalam tubuh. Satu porsi popcorn tawar hanya mengandung kalori sebanyak 93 kalori. Jadi, popcorn bisa Anda jadikan alternatif camilan sehat saat sedang diet.

Selain bermanfaat dalam menurunkan berat badan, popcorn juga ternyata mempunyai manfaat kesehatan lain. Kandungan polifenol dalam popcorn dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker (sepertiĀ kanker payudara dan kanker prostat).

Polifenol merupakan antioksidan yang dapat membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Pada beberapa penelitian, polifenol terbukti dapat membantu meningkatkan kesehatan saluran cerna, membantu sirkulasi darah agar bekerja lebih baik, dan membantu mengurangi risiko banyak penyakit.

Namun, popcorn juga bisa menjadi buruk bagi kesehatan

Ya, popcorn bisa menjadi berbahaya bagi kesehatan, terutama popcorn yang dibuat dengan cara memanaskan popcorn dalam kemasan di microwave. Kemasan popcorn ini kebanyakan dilapisi dengan zat kimia yang disebut dengan perfluorooctanoic acid (PFOA). Dalam beberapa penelitian, PFOA telah dikaitkan dengan risiko ADHD, berat badan lahir rendah, dan masalah tiroid.

Popcorn dalam kemasan ini juga mengandung diasetil yang terdapat dalam penyedap mentega buatan. Walaupun penelitian belum menunjukkan dampak negatif diasetil pada kesehatan manusia, namun beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa diasetil dapat merusak saluran pernapasan dan menyebabkan penyakit paru.

Tak hanya itu, sekarang ini banyak popcorn yang dijual dengan berbagai rasa, seperti rasa caramel misalnya. Hal ini tentu membuat popcorn menjadi camilan yang tidak rendah kalori lagi. Banyak popcorn dalam kemasan yang harus dipanaskan dalam microwave juga mengandung minyak trans. Minyak trans berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan penyakit serius lainnya.

Untuk mendapatkan manfaat popcorn, makanlah popcorn yang sehat

Beberapa jenis popcorn mungkin bisa membahayakan kesehatan Anda. Tapi, bahaya ini mungkin bisa Anda cegah jika Anda mengonsumsi popcorn yang lebih sehat. Anda bisa membeli popcorn yang dibuat dengan memanggangnya di atas kompor, sehingga Anda bisa menghindari bahaya yang ditimbulkan dari popcorn dalam kemasan (popcorn microwave).

Anda juga memilih popcorn tawar yang tidak mengandung gula dan garam, sehingga kalori yang terkandung di dalamnya hanya sedikit. Makan popcorn ini bisa mencegah Anda dari kenaikan berat badan berlebih.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

10 Makanan Penyubur Sperma agar Pasangan Cepat Hamil

Penelitian membuktikan, bahkan pria berumur 80 tahun pun masih mungkin memiliki kualitas sperma yang baik jika mengonsumis makanan penyubur sperma berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kesuburan, Kehamilan 10 November 2020 . Waktu baca 7 menit

Kalau Ingin Berat Badan Ideal, Berapa Kalori yang Harus Dibakar?

Berapa banyak kalori yang harus dibakar per hari? Jika ingin berat badan ideal, olahraga juga perlu untuk membakar kalori, bukan hanya membatasi makanan.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kebugaran, Hidup Sehat 4 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Bolehkah Memanaskan Makanan Dalam Wadah Plastik di Microwave?

Praktis dan hemat waktu adalah dua hal yang menjadi alasan menggunakan microvawe untuk memanaskan makanan. Tapi apakah aman?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Tips Sehat 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Panduan Diet Tinggi Serat, Cara Sehat untuk Turunkan Berat Badan

Salah satu diet yang dipercaya mampu menurunkan berat badan dengan aman dan sehat adalah diet tinggi serat. Seperti apa aturannya? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Nutrisi, Hidup Sehat 11 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

10 Cara Mudah Turun Berat Badan Tanpa Olahraga

10 Cara Mudah Turun Berat Badan Tanpa Olahraga

Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 29 November 2020 . Waktu baca 7 menit
tidak cepat lapar

10 Makanan Terbaik untuk Anda yang Cepat Lapar

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 29 November 2020 . Waktu baca 5 menit
diet usia 40 tahun ke atas wanita

7 Aturan Diet untuk Wanita di Usia 40 Tahun ke Atas

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
rambut bercabang

Penyebab dan Cara Menghilangkan Rambut Bercabang

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 8 menit