Hati-hati Bahaya Memendam Emosi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update November 20, 2019
Bagikan sekarang

Sebagian orang mungkin terbiasa untuk memendam emosinya dan tidak mengekspresikannya ke luar. Padahal, terbiasa menyimpan semuanya sendiri dan tidak membagikannya ke orang lain membuat beban pikiran dan mental menjadi bertambah. Kecenderongan menyembunyikan pikiran dan perasaan agar tidak diketahui oleh orang lain mungkin malah dapat membuat lebih banyak masalah untuk diri sendiri.

Tahukah Anda bahwa pikiran dan perasaan negatif yang dipendam sendiri secara tidak langsung dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental?

Bahaya memendam emosi

Ketika emosi tidak dikeluarkan, energi negatif hasil dari emosi tidak pergi dari tubuh dan akan tertahan dalam tubuh. Energi negatif yang seharusnya dikeluarkan menjadi tersimpan dalam tubuh dan dapat mengganggu fungsi organ tubuh, termasuk otak. Berikut ini beberapa bahaya memendam emosi bagi kesehatan:

1. Meningkatkan risiko penyakit dan kematian

Energi akibat dari emosi merupakan energi yang tidak sehat bagi tubuh. Energi dari emosi yang ditekan bisa menjadi penyebab dari tumor, pengerasan arteri, kaku sendi, serta melemahkan tulang, sehingga hal ini dapat berkembang menjadi kanker, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan membuat tubuh rentan terhadap penyakit.

Memendam emosi juga membawa pengaruh buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Penelitian yang diikuti selama 12 tahun menunjukkan bahwa orang yang sering memendam perasaannya memiliki kemungkinan mati muda setidaknya 3 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang terbiasa mengekspresikan perasaannya. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Psychosomatic Research ini menemukan bahwa memendam emosi dapat meningkatkan risiko kematian karena penyakit jantung dan juga kanker (Chapman, et al., 2013). Penelitian ini juga turut membuktikan penelitian sebelumnya yang menghubungkan antara emosi negatif, seperti marah, cemas, dan depresi, dengan pengembangan dari penyakit jantung (Kubzansky dan Kawachi, 2000).

Orang yang terbiasa memendam emosinya akan membawa pikiran negatif dalam tubuh yang dapat mengganggu keseimbangan hormon. Hal ini meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan kerusakan sel, seperti kanker.

Risiko kesehatan meningkat ketika seseorang tidak mempunyai cara mengekspresikan perasaannya. Dalam kasus apapun, para peneliti memperingatkan bahwa emosi yang tertahan dalam tubuh dan pikiran dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental yang serius dan bahkan kematian dini. Beberapa ahli menyarankan untuk dapat mengutarakan emosi yang dirasakan, terutama emosi yang menyedihkan, agar kesehatan mental tetap terjaga. Marah dapat membantu mengurangi dampak negatif dari stres.

2. Rentan terhadap inflamasi (peradangan)

Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan antara ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi dan kerentanan terhadap inflamasi atau peradangan. Peneliti Finlandia melaporkan bahwa orang-orang dengan diagnosis ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi, juga dikenal sebagai Alexythymia, memiliki kadar zat kimia inflamasi, seperti protein C-reaktif sensitivitas tinggi (hs-CRP) dan interleukin (IL-6), yang lebih tinggi dalam tubuh. CRP merupakan penanda inflamasi untuk jantung koroner.

Studi lainnya yang dilakukan oleh Middendorp, et al. (2009) pada penderita rheumatoid arthritis menemukan bahwa orang-orang yang didorong untuk bertukar perasaan dan mengekspresikan emosi akan memiliki kadar penanda inflamasi dalam darah yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memendam perasaan mereka untuk diri mereka sendiri. Pada tahun 2010 sebuah studi yang dilakukan pada 124 siswa menemukan bahwa situasi sosial di mana orang merasa dihakimi atau ditolak meningkatkan kadar dua bahan kimia pro-inflamasi, yaitu interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-alpha) yang sering ditemukan pada penyakit autoimun.

Hasil sebaliknya ditemukan pada penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang yang bahagia memiliki kadar zat kimia inflamasi yang lebih rendah. Sebuah studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam Journal of Association for Psychological Science, menemukan bahwa pendekatan kehidupan dengan sikap positif adalah penawar yang kuat terhadap stres, nyeri, dan penyakit.

Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa memendam emosi dapat memicu penyakit dalam tubuh. Zat penanda inflamasi ditemukan lebih tinggi pada orang-orang yang tidak bisa mengekspresikan emosi mereka. Inflamasi sendiri dapat terjadi di beragam penyakit, seperti penyakit jantung, artritis, asma, dementia, osteoporosis, irritable bowel syndrome (IBS), dan beberapa jenis kanker. Oleh karena itu, orang yang tidak bisa menyalurkan pikiran dan perasaannya dapat terserang berbagai macam penyakit.

Bagaimana jika saya ingin berhenti memendam emosi?

Memendam emosi bukanlah jalan keluar untuk masalah Anda. Anda perlu mengeluarkan dan mengekspresikannya untuk mengurangi beban pikiran dan mental Anda. Memendam emosi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan efek negatif pada kesehatan fisik dan mental Anda. Oleh karena itu, Anda harus tahu bagaimana cara menangani emosi Anda. Berikut beberapa cara menangani emosi:

  • Jujur pada diri sendiri. Bukan berarti Anda harus mengekspresikan semua perasaan Anda setiap waktu, tetapi dalam berbagai situasi Anda dapat mengatakan kepada diri sendiri apa yang sebenarnya Anda rasakan. Jangan menyembunyikan dan mengelakkan perasaan Anda sendiri.
  • Ketahui apa yang sedang Anda rasakan. Terkadang Anda tidak mengetahui apa yang sedang Anda rasakan. Kenali perasaan yang Anda rasakan pada diri Anda dan renungkan apa yang menyebabkan mereka.
  • Bicarakan perasaan Anda dengan orang lain. Jika Anda sedang emosional, bicarakan apa yang Anda rasakan dan pikirkan dengan orang lain. Hal ini dapat membantu membuat Anda lebih tenang.
  • Jadilah seorang pengamat. Anda harus mengetahui kapan sebaiknya Anda dapat mengeluarkan emosi Anda. Tidak di setiap waktu dan di sembarang tempat Anda bisa mengekspresikan emosi Anda. Terkadang Anda harus menahannya sebentar dan mengeluarkannya di waktu yang tepat. Jika Anda tidak mampu menahannya, tarik napas dalam-dalam dan ubah posisi tubuh Anda. Hal ini dapat membantu menenangkan Anda.

BACA JUGA

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

    Saat lapar, rasanya hanya ingin marah sampai Anda mendapat yang Anda mau. Tapi, kok bisa begitu, ya? Kenapa kita mudah marah saat kelaparan?

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh Ajeng Quamila
    Hari Raya, Ramadan Mei 10, 2020

    Benarkah Ekspresi Wajah Tidak Selalu Mencerminkan Isi Hati?

    Ekspresi wajah bisa menunjukkan perasaan. Namun, ekspresi wajah tidak selalu mencerminkan isi hati orang sesungguhnya. Benarkah demikian?

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh Ihda Fadila
    Hidup Sehat, Psikologi Mei 6, 2020

    Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

    Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Hidup Sehat, Fakta Unik Mei 3, 2020

    Teman Divonis Autoimun, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyemangatinya

    Mendengar teman divonis sakit autoimun, ini saatnya Anda memberi dukungan yang tepat agar ia tetap semangat dan tidak merasa sendiri.

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh Maria Amanda
    Hidup Sehat, Psikologi April 23, 2020

    Direkomendasikan untuk Anda

    4 Cara Jitu Mengubah Hati Sedih Kembali Jadi Senang

    4 Cara Jitu Mengubah Hati Sedih Kembali Jadi Senang

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh Aprinda Puji
    Tanggal tayang Mei 24, 2020
    Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

    Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Tanggal tayang Mei 17, 2020
    Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

    Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Tanggal tayang Mei 15, 2020
    Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

    Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Tanggal tayang Mei 13, 2020