5 Obat Antidepresan yang Paling Umum Digunakan, Beserta Risiko Efek Sampingnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Jangan menyepelekan atau membiarkan depresi begitu saja karena dampaknya sangat berbahaya. Berbagai studi telah menemukan kaitan antara depresi dengan penyakit hati kronis, obesitas, hingga gagal jantung. Skenario terburuknya, depresi dapat memicu pemikiran atau percobaan bunuh diri. Antidepresan seringkali menjadi pilihan pengobatan pertama yang diresepkan oleh dokter untuk mengatasi depresi. Apa saja obat antidepresan yang paling sering digunakan, dan adakah efek sampingnya?

Macam-macam obat antidepresan yang umum diresepkan dokter

Antidepresan bekerja dengan menyeimbangkan zat kimia dalam otak yang disebut neurotransmitter, sehingga memengaruhi suasana hati dan emosi Anda. Obat ini dapat membantu meningkatkan mood, membantu Anda tidur lebih baik, serta meningkatkan nafsu makan dan konsentrasi.

Cara kerja obat depresi akan bergantung pada jenis obatnya. Berikut ini merupakan berbagai jenis obat antidepresan yang paling umum digunakan:

1. Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRIs)

Serotonin adalah neurotransmitter yang terkait dengan perasaan sehat dan bahagia. Pada otak orang yang mengalami depresi, produksi serotoninnya rendah.

SSRI digunakan untuk mengobati depresi sedang sampai berat. SSRI bekerja memblokir serotonin agar tidak diserap kembali oleh sel saraf (saraf biasanya mendaur ulang neurotransmitter ini). Hal ini menyebabkan peningkatan konsentrasi serotonin, yang dapat meningkatkan mood dan kembali menumbuhkan minat terhadap aktivitas yang dulunya Anda sukai.

SSRI adalah jenis antidepresan yang paling sering diresepkan karena risiko efek sampingnya tergolong rendah. Contoh obat-obatan dalam jenis ini adalah escitalopram (Lexapro), fluoxetine (Lovan atau Prozac), paroxetine (Aropax), sertraline (Zoloft), dan citalopram (Cipramil).

Efek samping SSRI yang mungkin muncul, meliputi:

  • Gangguan saluran cerna (dipengaruhi jumlah dosis) seperti mual, muntah, dispepsia, sakit perut, diare, konstipasi.
  • Anoreksia dengan penurunan berat badan, namun ada juga dalam beberapa kasus mengalami peningkatan nafsu makan sehingga terjadi kenaikan berat badan
  • Reaksi hipersensitivitas termasuk gatal, biduran, anafilaksis, myalgia
  • Mulut kering
  • Gugup
  • Halusinasi
  • Mengantuk
  • Kejang
  • Gangguan fungsi seksual
  • Gangguan pada kandung kemih untuk mengeluarkan urin atau mengosongkannya
  • Gangguan pengelihatan
  • Gangguan perdarahan
  • Hiponatremia

Perlu diingat juga bahwa SSRI tidak boleh digunakan jika pasien memasuki fase manik.

2. Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRIs)

SNRI menghambat serotonin dan norepinephrine agar tidak diserap kembali oleh sel saraf. Norepinephrine terlibat dalam sistem saraf otak yang memicu respon rasa ketertarikan terhadap rangsangan dari luar dan memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu. Oleh karena itu, SNRI diyakini lebih efektif daripada obat jenis SSRI yang hanya berfokus pada serotonin.

Obat antidepresan yang termasuk dalam kelompok SNRI adalah venlafaxine (Effexor XR), desvenlafaxine (Pristiq), duloxetine (Cymbalta), dan reboxetine (Edronax). Efek samping dari obat-obatan jenis ini, termasuk:

  • Mual dan muntah
  • Pening; kepala kliyengan
  • Sulit tidur (insomnia)
  • Mimpi yang tidak biasa; mimpi buruk
  • Keringat berlebihan
  • Sembelit
  • Gemetar
  • Merasa cemas
  • Masalah seksual

3. Trisiklik

Trisiklik bekerja langsung menghambat sejumlah neurotransmiter, termasuk serotonin, epinefrin, dan norepinephrine, agar tidak kembali terserap sekaligus juga mengikat reseptor sel saraf. Biasanya, obat ini diresepkan untuk orang-orang yang sebelumnya pernah diberikan SSRI namun tidak ada perubahan gejala.

Obat antidepresan yang termasuk dalam golongan ini adalah amitriptyline (Endep), clomipramine (Anafranil), dosulepin (Prothiaden atau Dothep), doxepin (Deptran), imipramine (Tofranil), nortriptyline (Allegron). 

Efek samping yang ditimbulkan dengan obat jenis ini adalah:

  • Aritmia
  • Blokade jantung (khususnya pada penggunaan amitriptyline)
  • Mulut kering
  • Pandangan kabur
  • Konstipasi
  • Berkeringat
  • Mengantuk
  • Retensi urin
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur

Efek samping ini dapat dikurangi jika pada awalnya diberi dalam dosis rendah, dan kemudian dinaikan secara bertahap. Pendosisan secara bertahap khususnya diterapkan pada lansia yang mengalami depresi, karena ada risiko penurunan tekanan darah yang mungkin menyebabkan kepala kliyengan dan bahkan pingsan.

4. Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)

Monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) bekerja menghambat enzim monoamine oxidase yang dapat menghancurkan serotonin, epinefrin, dan dopamin. Ketiga neurotransmitter ini bertanggung jawab untuk menimbulkan perasaan bahagia.

Contoh obat jenis ini adalah tranylcypromine (Parnate), phenelzine (Nardil), dan isocarboxazid (Marplan). Biasanya MAOI diresepkan ketika obat-obatan antidepresan lainnya tidak memberikan perbaikan gejala. MAOI dapat menimbulkan interaksi dengan beberapa makanan, seperti keju, acar/asinan, dan anggur. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati dengan makanan yang Anda konsumsi saat sedang menggunakan obat tersebut.

Obat jenis ini memiliki efek samping yang sangat serius. Adapun efek samping yang terjadi yakni :

  • Pening (kepala kliyengan, sensasi ruangan berputar)
  • Perubahan tekanan darah
  • Merasa ngantuk
  • Sulit tidur
  • Pusing
  • Timbunan cairan dalam tubuh (misalnya pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki)
  • Penglihatan kabur
  • Kenaikan berat badan

5. Noradrenaline and specific serotonergic antidepressants (NASSAs)

NASSAs adalah antidepresan yang bekerja dengan meningkatkan kadar noradrenalin dan serotonin. Obat yang termasuk dalam jenis ini adalah mirtazapine (Avanza). Serotonin dan noradrenalin merupakan neurotransmiter yang mengatur mood dan emosi. Serotonin juga ikut mengatur siklus tidur dan nafsu makan.

Adapun efek samping yang diberikan dari obat ini adalah rasa mengantuk, nafsu makan meningkat, berat badan naik, mulut kering, sembelit, gejala flu, dan pusing.

Efek obat akan paling efektif jika dibarengi dengan psikoterapi dan gaya hidup sehat

Antidepresan sering menjadi pilihan pengobatan pertama yang diresepkan oleh para profesional kesehatan untuk mengatasi depresi. Namun efektivitas obat tidak langsung terjadi dalam satu malam.

Biasanya diperlukan waktu setidaknya tiga sampai empat minggu sebelum Anda melihat perubahan dalam suasana hati Anda. Kadang dapat butuh waktu yang lebih lama. Minum obat setiap hari seperti yang diarahkan dokter dapat membantu meningkatkan efektivitas obat dan mempercepat penyembuhan.

Di samping obat resep, dokter mungkin juga merujuk Anda untuk menjalani psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi intrapersonal sebagai pengobatan pendamping depresi, terutama pada kasus depresi sedang hingga berat.

Terlepas dari pengobatan medis, banyak tenaga medis profesional yang juga setuju bahwa pola makan sehat dan olahraga rutin adalah “pengobatan alternatif” terbaik untuk orang-orang dengan depresi. Selain memperbaiki suasana hati, olahraga teratur menawarkan manfaat kesehatan lainnya, seperti menurunkan tekanan darah, melindungi terhadap penyakit jantung dan kanker, dan meningkatkan rasa percaya diri.

Satu yang pasti: Depresi bukanlah tanda cacat karakter, kelemahan, atau sesuatu yang dapat hilang seketika. Depresi adalah gangguan jiwa nyata yang membutuhkan pengobatan medis telaten dan berkelanjutan untuk bisa disembuhkan.

Jika Anda, kerabat, atau anggota keluarga menunjukkan tanda-tanda depresi atau gejala penyakit mental lainnya, atau menunjukkan keinginan atau perilaku atau ingin mencoba bunuh diri, segera hubungi hotline darurat polisi 110; hotline Pencegahan Bunuh Diri (021)725 6526/(021) 725 7826/(021) 722 1810; atau LSM Jangan Bunuh Diri (021) 9696 9293

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca