Beda Tes COVID-19 Saran WHO dan Rapid Test Perintah Jokowi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Presiden Jokowi menginstruksikan agar segera dilaksanakannya rapid test untuk COVID-19 secara massal. Tes massal ini diharapkan dapat mengetes sebanyak-banyaknya orang sehingga pemerintah bisa menemukan respons yang cepat.

Apa itu rapid test dan apa bedanya dengan tes RT-PCR dan genome sequencing yang disarankan oleh badan kesehatan dunia (WHO)?

Rencana pemerintah lakukan rapid test COVID-19 secara massal

Rapid Test COVID-19

“Segera lakukan rapid test. Tes cepat dengan cakupan yang lebih besar agar deteksi dini indikasi seorang terpapar Covid-19 bisa kita lakukan. Saya minta tes dan juga tempat-tempat untuk melakukan tes diperbanyak,” kata Jokowi saat memulai rapat terbatas via video conference dari Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/3).

Jokowi memerintahkan jajarannya untuk segera melakukan rapid test secara massal. Menurut staf KSP Brian Sriprahastuti saat ini pemerintah memesan sebanyak 500 ribu kit alat rapid test. Diharapkan dalam beberapa hari alat tersebut tiba di Indonesia.

Selama ini yang bisa melakukan tes deteksi COVID-19 RT-PCR di rumah sakit rujukan adalah yang berstatus ODP, PDP, dan dengan syarat memiliki gejala. 

“(untuk rapid test) bisa di rumah sakit biasa dan syaratnya sangat rendah,” kata Brian dalam Apakabar Indonesia Malam Kompas TV, kamis (19/3).

Rapid test disebut memiliki beberapa keunggulan diantaranya yakni bisa mengeluarkan hasil positif atau negatif hanya dalam waktu 15 menit dan bisa dilakukan di hampir semua rumah sakit.

Tapi ternyata rapid test memiliki banyak celah, keakuratannya yang masih dipertanyakan dan bukan rekomendasi utama untuk mendiagnosis infeksi COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

116,871

Terkonfirmasi

73,889

Sembuh

5,452

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Test deteksi COVID-19 rekomendasi WHO bukan rapid test

Rapid Test COVID-19

WHO menentukan rekomendasi untuk diagnosa infeksi COVID-19 yakni dengan tes RT-PCR

RT-PCR adalah kepanjangan dari real-time Polymerase Chain Reaction. Yakni tes yang dilakukan dengan mengambil sampel dari usapan selaput lendir hidung atau tenggorokan. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus membelah diri. 

Cara kerja: Dari sampel usapan selaput lendir yang diambil terdapat genetika virus yang disebut RNA. Inilah yang kemudian digunakan untuk mengetahui keberadaan virus. Tes RT-PCR yang dilanjutkan dengan genome sequencing (GS). GS ini adalah pemeriksaan laboratorium yang lebih kompleks untuk mengetahui keberadaan virus dalam tubuh.

Kedua metode ini adalah metode yang telah dilakukan Badan Pengembangan Penelitian dan Kesehatan (Balitbangkes) dalam mendeteksi kasus COVID-19 di Indonesia.

“PCR dalam waktu 24 jam sudah selesai hasilnya, metode GS, butuh waktu 3 hari baru selesai,” jelas Achmad Yurianto, Jubir pemerintah untuk COVID-19.

Sedangkan hasil rapid test bisa keluar dalam waktu lebih kurang 15 menit. Namun rapid test yang rencananya akan dilakukan secara massal dalam waktu dekat ini bukan bagian dari yang direkomendasikan oleh WHO.

Rapid Test dan akurasi hasil yang perlu dipertimbangkan

Vitamin Cegah COVID-19

Rapid test adalah tes berbasis pendekteksian virus dalam antibodi yang dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pasien. Tingkat kepercayaannya tes ini berada di urutan keempat.

Sebelum menjelaskan lebih lanjut perlu diketahui bahwa dalam mendeteksi keberadaan virus atau parasit (patogen) dalam tubuh itu ada rangking tingkat kepercayaan yang disebut confidence level. Tingkat kepercayaan ini menentukan seberapa akurat tes tersebut.  

  1. Kultur yakni tes mikrobiologi. Tes ini sering disebut sebagai standar emas dalam mendiagnosis infeksi virus saluran pernafasan. Tapi karena kebaruan virus penyebab COVID-19, tes ini masih belum bisa dilakukan.
  2. Molekular (DNA dan RNA). Ini adalah tes RT-PCR dan genom sequencing yang telah digunakan. 
  3. Antigen
  4. Antibodi (IgM/IgG/IgA anti patogen tersebut). Metode rapid test yang rencananya akan digunakan dalam pengetesan massal.

Jadi untuk diagnosa COVID-19 , tes molekular dengan RT-PCR berada di tingkat kepercayaan tertinggi.

Dr. Aryati ketua Perhimpunan dokter spesialis patologi (PDS PatKLIn) merilis laporan pers berjudul “Kewaspadaan Tes Cepat (rapid test) COVID-19 IgM/IgG Berbasis Serologi”.

Dalam laporan tersebut dokter spesialis patologi ini mengatakan untuk mempertimbangkan beberapa hal terkait keakuratan rapid test.

Pertama, deteksi antibodi terhadap SARS-CoV-2 dengan metode rapid test belum memiliki kejelasan. Karena antibodi dalam darah baru terbentuk beberapa waktu setelah masuknya virus ke dalam tubuh. 

Belum diketahui berapa lama terbentuknya antibodi tersebut.  Hal ini karena virus jenis ini masih baru sehingga belum banyak ilmuwan yang menentukan dengan jelas keberadaan antibodi SARS-CoV-2.

Salah satu studi menyatakan antibodi baru yang terbentuk dan bisa mulai terdeteksi paling cepat di hari ke-6 setelah masuknya virus. Namun sebagian besar kasus baru terdeteksi di antara hari ke-8 sampai hari ke-12 sejak timbulnya gejala.

mencegah tertular coronavirus

Kedua, rapid test tersebut belum diketahui keakuratannya sehingga menyulitkan penafsiran ahli. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan hasil false negative (hasil negatif palsu) atau false positive (hasil positif palsu).

Aryati menjabarkan beberapa hal yang dapat menyulitkan interpretasi dan menimbulkan hasil false positive. Yakni: 

  1. Adanya kemungkinan reaksi silang dengan jenis coronavirus yang lain atau jenis virus yang memiliki kemiripan dengan COVID-19
  2. Sebelumnya pernah terinfeksi coronavirus (jenis lain selain COVID-19).

Sedangkan beberapa hal yang dapat menimbulkan false negative, yakni:

  1. Belum terbentuk antibodi saat pengambilan sampel atau masih dalam masa inkubasi.
  2. Pasien immunocompromised (gangguan pembentukan antibodi).

Tetap memerlukan tes RT-PCR

vaksin covid-19 israel

Aryati mengatakan pelaksanaan rapid test tetap harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan PCR. 

“Apabila menemukan hasil positif maka harus dikonfirmasi dengan tes PCR dan jika hasilnya negatif harus melakukan tes ulang 7 sampai 10 hari kemudian,” kata Aryati dalam rilis tersebut.

Pemeriksaan antibodi SARS-CoV-2 dapat diperitmbangkan untuk menunjukkan adanya infeksi sehingga dapat digunakan untuk studi epidemiologi (pola penyebaran penyakit) dan penelitian lebih lanjut. 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan metode ini perlu dilakukan secara beriringan dengan kebijakan isolasi secara mandiri di rumah. Karena pada kasus positif Covid-19 dengan rapid test atau gejala yang minimal, indikasinya harus dilakukan isolasi diri di rumah dengan monitoring dari puskesmas.

Meskipun rapid test tidak seakurat RT-PCR pemerintah dapat mengukur sejauh mana infeksi COVID-19 telah menyebar di Indonesia.

Katua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus berpesan kepada negara-negara untuk melakukan tes deteksi COVID-19 sebanyak-banyaknya.

 “Test, test, test. All countries should be able to test all suspected cases, they cannot fight this pandemic blindfolded.”

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Manfaat Punya Asuransi di Masa Pandemi COVID-19

Saatnya mempertimbangkan asuransi di masa pandemi COVID-19 sebagai perlindungan kehidupan. Ketahui beragam manfaat asuransi di masa new normal.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
asuransi di masa pandemi
Asuransi, Hidup Sehat 29/07/2020 . Waktu baca 4 menit

9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

PSBB memang mulai longgar, tetapi tetap ikuti tips lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru agar terhindar dari COVID-19, Sobat Sehat!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru
Hidup Sehat, Tips Sehat 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh University of Oxford, Inggris berhasil memicu terbentuknya antibodi dan sel-T pada peserta uji klinis.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Vaksin COVID-19 Moderna Memasuki Tahap Akhir Uji Kllinis

Vaksin COVID-19 buatan Moderna menunjukkan hasil positif dan akan memasuki tahap akhir uji klinis. Vaksin ini akan diuji coba pada 30.000 orang relawan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

serangan jantung saat pandemi covid-19

Waspadai Hubungan Erat Sakit Jantung dan COVID-19 Selama Pandemi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit
klaster penularan COVID-19

Klaster-klaster Penularan COVID-19 Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit
vaksin sinovac uji klinis di Indonesia

Inilah Alasan Vaksin COVID-19 Sinovac Uji Klinis di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit
nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit