New Normal Akibat Pandemi COVID-19 dan Efek Psikologisnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Beberapa bulan belakangan keseharian hidup kita telah banyak berubah. Sejak COVID-19 dinyatakan pandemi oleh World Health Organization (WHO), banyak kebiasaan baru yang kita jalani dan perlahan menjadi sesuatu yang normal, atau disebut dengan new normal.

New normal adalah suatu waktu di mana Anda bersedia beradaptasi dan menjalani tatanan baru untuk jangka panjang. Setelah PSBB dicabut, apakah hidup akan kembali normal? Atau kita akan mulai terbiasa dengan perubahan dan melanjutkan keadaan new normal?

Keadaan new normal akibat pandemi COVID-19

New normal pandemi COVID-19

Sejak Maret 2020, pemerintah Indonesia menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai upaya meratakan kurva angka kasus infeksi COVID-19.

Penerapan tersebut menimbulkan banyak efek psikologis karena paksaan perubahan kehidupan sosial akibat pandemi COVID-19. Banyak orang mulai hidup dalam masa transisi yang mana sebagian besar merasa terseok-seok mengikuti perubahan cepat ini.

Para pekerja harus menyesuaikan diri dengan bekerja dari rumah. Penjual-penjual berganti lapak dari toko ke platform onlineKaum muda-mudi yang sering menghabiskan waktu di kafe-kafe harus tetap berada di rumah.

Banyak pasangan batal melakukan pesta pernikahan sebagai usaha mencegah penularan virus corona. Menikah tanpa pesta yang tadinya tidak biasa jadi terasa normal.

Begitupun dengan hal lain yang terlihat kecil perlahan menjadi kebiasaan, seperti mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, atau langsung berganti baju dan mandi saat pulang dari bepergian.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,012,350

Confirmed

820,356

Recovered

28,468

Death
Distribution Map

Terbiasa dengan kehidupan new normal ini bisa disebut sebagai keharusan. Ini juga mengingat vaksin penangkal COVID-19 belum ditemukan.

Bilapun PSBB dicabut atau dilonggarkan, kita tetap harus melakukan pencegahan penularan coronavirus. Semua orang seakan-akan harus menjalani kehidupan baru yang aman untuk berinteraksi, bekerja, dan melakukan rutinitas harian.

Psikolog klinis yang juga penulis buku The Psychology of Pandemics Steven Taylor menyebutkan bahwa kita mungkin tidak akan benar-benar kembali ke keadaan normal.

Menurutnya, psikologis kita akan terbiasa menjaga diri dari risiko tertular dan merasa aman dengan cara hidup baru ini. 

Mungkin sebagian dari kita masih sulit menerima dan beradaptasi dengan keadaan. Sebagian yang lain masih mencari cara untuk bisa beraktivitas secara maksimal dengan menerapkan physical distancing sebagaimana yang dianjurkan.

new normal COVID-19 oke

Tidak perlu khawatir jika belum beradaptasi dengan new normal ini, karena kita memang masih di tengah-tengah perang melawan pandemi COVID-19.

“Cara Anda beradaptasi akan membaik seiring waktu. Mayoritas orang akan menemukan cara untuk mengatasinya dan bergerak maju,” kata ketua asosiasi psikiater Amerika Joshua Morganstein.

Tahapan psikologis yang membuat kita terbiasa dengan new normal

New normal pandemi COVID-19

Bagaimana kita perlahan beradaptasi dengan keadaan new normal akibat pandemi COVID-19?

Psikiater Amerika Serikat Elizabeth Kubler-Ross menggambarkan kondisi ini sama seperti kondisi berduka. Berikut lima tahapan psikologisnya.

  1. Penolakan terhadap situasi. Tahap ini akan melibatkan penghindaran, kebingungan, goncangan, atau ketakutan.
  2. Marah dengan apa yang terjadi. Tahap ini akan melibatkan perasaan frustrasi, iritasi, dan kecemasan.
  3. Tawar-menawar atau berjuang untuk menemukan makna dari apa yang terjadi. Dalam tahap ini, terdapat keharusan membuat kesepakatan untuk menyelesaikan rasa penyesalan atau rasa bersalah.
  4. Depresi. Tahap ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan, tidak berdaya, atau terisolasi.
  5. Penerimaan. Pada tahap ini, seseorang akan mencapai perasaan tenang dan menerima keadaan. Selain itu, penerimaan terhadap keadaan juga membuat pikiran mulai bekerja dan mencari tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk beradaptasi dengan keadaan.

Bosan Saat Social Distancing dan Karantina di Rumah? Coba 6 Kegiatan Ini, Yuk!

Saat seseorang mencapai tahap penerimaan pada kondisi baru pandemi COVID-19, ia akan lebih bersedia untuk menerima new normal dalam kehidupannya.

Masa depan pandemi ini memang belum bisa diprediksi. Kecemasan dan stres meningkat, tapi perilaku altruisme atau kemurahan hati juga banyak terjadi.

Banyak individu maupun kelompok saling menawarkan bantuan yang membuat penerimaan pada kondisi new normal akibat pandemi COVID-19 ini semakin mudah.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit