Saya merasa bingung dan dilema

Ass Dok saya bingung dengan hubungan ini saya tidak tau harus minta solusi kepada siapa karena saya merasa membicarakan hal ini kepada keluarga baik dari pihak suami atau istri saya merasa sangat tidak bisa untuk membebani pikiran mereka, pernikahan kami sudah hampir memasuki 8 tahun, selama pernikahan ini sudah begitu banyak ujian yg kami lewati, masalah hati, perselingkuhan, penghianatan, finansial, bahkan merasa terjebak dalam hubungan yang menurut saya tidak sehat lagi, terkadang ada di benak saya untuk memilih keputusan untuk bercerai tapi terus saya pikirkan lagi dan lagi dengan keputusan itu, karena kalau bisa tidak ada kata perceraian dalam hubungan ini, terutama saya memikirkan bagaimana dengan keadaan anak saya dan mentalnya, karena disisi lain saya berpikir lebih baik saya bertahan dengan hubungan yang membuat saya tidak nyaman dan bahagia dari pada melihat anak saya tubuh dg kurang nya kasih sayang seorang ayam atau broken home lah tapi kalau boleh saya mengungkapkan dari hati yang paling dalam saya merasa tidak nyaman dan bahagia dengan pernikahan ini karena saya merasa status bersuami tapi tidak merasa punya suami

Suka
Bagikan
Simpan
Komentar
10
3

3 komentar

Halo Wita oktapiani, terima kasih untuk pertanyaannya.


Setiap pasangan mengharapkan hubungan yang sehat, harmonis dan bahagia. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam sebuah hubungan tidak terlepas dari adanya konflik. Terjadinya konflik adalah hal yang wajar terjadi, tetapi apabila konflik tersebut terjadi berkepanjangan, maka perlu mengambil jarak sejenak terhadap masalah dan emosi yang dirasakan masing-masing sehingga dapat melihat permasalahan tersebut secara objektif.


Untuk membina hubungan sehat dan membangun cinta diperlukan pula membangun pola komunikasi yang sehat dan terbuka. Anda dan pasangan perlu saling mengkomunikasikan kondisi yang dialami, sehingga dapat saling memahami pula. Selain itu, upayakan untuk dapat saling mendengarkan tanpa menghakimi. Anda dan pasangan juga dapat saling menghargai, serta saling mendukung menjadi versi terbaik diri masing-masing. Hal tersebut penting untuk diperhatikan karena membina hubungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya di salah satu pihak saja. Dengan pola komunikasi tersebut dapat meminimalisir kesalahpahaman yang berlarut-larut.


Permasalahan yang didiamkan dan dipendam oleh masing-masing, hanya akan menjadi pembahasan berulang di kemudian hari dan bisa saja meledak sewaktu-waktu bagaikan “bom waktu”. Ada baiknya anda dan pasangan meluangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati agar menemukan solusi terbaik bersama (misalnya liburan bersama ke tempat favorit, makan malam berdua, moment pillow talk, dsb). Ketika berkomunikasi menggunakan “I message”, artinya lebih fokus menyampaikan “saya merasa hubungan kita terasa hambar, boleh gak kita ngobrol sambil mengingat perjuangan yang udah kita lewati?” bukan “kamu itu selalu menyalahkan dan tidak mau mengalah…..”.

Kemudian anda dan pasangan dapat saling mengenali bahasa cinta masing-masing, serta melakukan ritual yang menjadi kesepakatan bersama misalnya memeluk dan mengucapkan kata cinta sebelum dan bangun tidur, sebelum dan berangkat kerja, dll. Selain itu, perlu dibahas juga terkait hubungan seksual dalam pernikahan anda. Perlu juga merencanakan mencoba hal-hal baru bersama agar semakin terasa keintimannya.

Jangan ragu untuk melakukan konseling bersama pasangan ke psikolog jika keluhan berlanjut atau bertambah parah.

4 minggu yang lalu
Suka
Balas
Saya mengerti kebingungan dan dilema yang Anda rasakan. Pernikahan selama 8 tahun dengan berbagai ujian tentu meninggalkan luka dan pertanyaan besar:

Pertama, penting untuk diingat bahwa Anda tidak sendirian. Banyak pasangan mengalami masa sulit dalam pernikahan. Sebelum memutuskan bercerai, ada baiknya mempertimbangkan beberapa hal:

  1. Upaya Memperbaiki: Apakah Anda dan suami sudah mencoba konseling pernikahan? Terkadang, bantuan profesional dapat membuka jalan keluar yang tidak terlihat.
  2. Dampak pada Anak: Perceraian memang berdampak pada anak, tetapi bertahan dalam hubungan yang tidak sehat juga bisa merugikan mereka. Anak-anak belajar dari orang tua mereka, dan melihat orang tua yang tidak bahagia dapat memengaruhi pandangan mereka tentang hubungan.
  3. Komunikasi: Cobalah untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan suami Anda. Ungkapkan perasaan Anda dan dengarkan apa yang dia rasakan. Mungkin ada solusi yang bisa ditemukan bersama. Jika Anda merasa terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, penting untuk mencari bantuan. Psikolog atau terapis keluarga dapat membantu Anda dan suami untuk memahami masalah yang ada dan mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak. Ingatlah, keputusan ada di tangan Anda. Pilihlah jalan yang menurut Anda paling baik untuk kebahagiaan dan kesejahteraan Anda dan anak Anda.
1 bulan yang lalu
Suka
masukan
1
warningDisclaimer: Informasi yang disampaikan di atas adalah informasi umum, bukan pengganti saran medis resmi dari dokter atau pakar.
Related content
Temukan komunitas Anda
Jelajahi berbagai jenis komunitas yang ada dan paling sesuai dengan kondisi kesehatan yang Anda hadapi.
Iklan
Iklan