Hubungan suami istri di rumah tangga
Selamat malam
Saya sudah menikah selama 3 tahun. Saya dan suami menjalano LDM. Karena suami saya kerja sangat jauh di pelosok. Saya tinggal bersama kedua orang tua di kontrakan tempat saya bekerja. Anak saya umur 2 tahun di jaga orang tua. Gaji saya lebih besar dari pada suami saya. Suami saya hanya memberikan nafkah untuk anak saya sebesar 2 juta/ bulan. Anak saya susu formula sejak usia 40 hari sampai sekarang. Selama nikah, saya tidak pernah dibelanjakan suami saya. Kedua orang tua saya menjadi tanggung jawab saya. Sehingga gaji saya habis untuk memenuhi kebutuhan kami. Ketika saya mendapat bonus, suami saya meminta uang saya. Tetapi saya tidak ikhlas rasanya memberi. Karena dia tidak pernah membelanjakan saya.
























Halo Dessy Wahyuni, terima kasih atas pertanyaan anda
Dari cerita anda, tampak bahwa ada ketimpangan peran dan ekspektasi dalam hubungan. Di satu sisi, anda berperan sebagai istri, ibu, sekaligus penopang ekonomi keluarga. Di sisi lain, suami tampak belum sepenuhnya memenuhi perannya dalam memberikan dukungan finansial maupun emosional. Kondisi ini wajar menimbulkan perasaan kecewa, tidak dihargai, bahkan “tidak ikhlas” ketika harus memberi, karena kebutuhan dasar anda baik secara materi maupun emosional belum terpenuhi.
Secara psikologis, rasa “tidak ikhlas” ini bukan semata karena uang, melainkan karena rasa tidak adil dan kurangnya timbal balik emosional dalam relasi. Ketika seseorang merasa terus memberi tanpa mendapatkan dukungan yang sepadan, akan muncul kelelahan emosional (emotional fatigue) dan perasaan terabaikan.
Sebagai langkah awal, penting bagi anda untuk mengenali batas diri dan kebutuhan pribadi. Anda berhak merasa lelah dan berhak pula menginginkan keseimbangan dalam hubungan. Selanjutnya, komunikasikan secara asertif dengan suami, tanpa menyalahkan. Anda dan pasangan dapat membangun kesepakatan finansial yang jelas. Misalnya, berapa porsi nafkah anak, kontribusi untuk kebutuhan bersama, dan batas penggunaan uang pribadi.
Anda juga dapat mengenali self-care dan mendapatkan dukungan sosial.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau melakukan konseling pasangan untuk membantu anda menghadapi situasi ini.
Dalam sebuah pernikahan, terutama setelah memiliki anak, peran suami sangat penting untuk mendukung istri, baik secara fisik maupun mental, serta berbagi tanggung jawab. Dari cerita Anda, terlihat ada beberapa tantangan yang perlu segera dibicarakan dan diselesaikan bersama suami Anda. Pertama, komunikasi terbuka adalah kunci. Anda perlu duduk bersama suami untuk membicarakan secara jujur mengenai ekspektasi masing-masing, terutama terkait kontribusi finansial dan dukungan emosional. Jelaskan beban yang Anda rasakan, termasuk tanggung jawab terhadap orang tua Anda, dan bagaimana hal ini memengaruhi Anda. Kedua, perencanaan keuangan bersama sangat penting. Meskipun Anda LDM, Anda berdua adalah satu kesatuan finansial. Diskusikan secara transparan mengenai seluruh pemasukan dan pengeluaran, termasuk nafkah anak, kebutuhan Anda pribadi, dan dukungan untuk orang tua Anda. Suami juga memiliki kewajiban untuk menafkahi istri, bukan hanya anak. Permintaan suami atas bonus Anda tanpa adanya kontribusi yang seimbang untuk kebutuhan Anda pribadi dapat menimbulkan ketidakadilan dan rasa tidak ikhlas. Ketiga, pembagian tanggung jawab perlu diperjelas. Meskipun LDM, suami tetap memiliki peran sebagai kepala keluarga dan penopang istri. Dukungan tidak hanya berupa uang, tetapi juga perhatian dan pengertian terhadap kondisi Anda. Mengingat kompleksitas masalah ini, saya sangat menyarankan Anda dan suami untuk mencari bantuan profesional. Anda bisa berkonsultasi dengan Konselor Pernikahan atau Terapis Keluarga. Mereka dapat membantu memfasilitasi komunikasi yang efektif, menengahi perbedaan pandangan, dan membimbing Anda berdua untuk menemukan solusi yang adil dan harmonis bagi rumah tangga Anda. Ini adalah langkah penting untuk membangun kembali ikatan dan kebahagiaan bersama.
Related content