Emosional ketika mengungkapkan perasaan
Saya sering disebut anak yang penurut, memiliki 2 adik yang masing masing berbeda 3 dan 6 tahun dri saya. Saya terbiasa untuk mengalah, mengikuti kemauan orang tua, diam, memendam semua emosi yang saya ingin keluarkan. Hal itu membuat saya tidak pernah mempunyai percakapan yang benar benar intense dengan orang tua. Akhir akhir ini saya merasa lelah dengan hidup saya, saya pun akhirnya mulai menjawab semua kritikan yang dilontarkan. Tapi setiap saya membuka mulut, yang keluar dahulu malah air mata, selalu seperti itu, saya menangis hanya untuk berbicara, membela diri saya, menyuarakan sesuatu yang saya inginkan, tapi tak pernah didengar. Setiap saya menjawab, orang tua saya selalu berkata 'kamu ga seperti mamah dulu, kamu skrg suka ngelawa, berani ngejawa, dulu penurut'. Tangis yang keluar terasa sesak sekali, terkadang kepala saya serasa akan pecah. Bagaimana agar saya bisa berbicara lantang tanpa menangis? Bagaimana menyingkirkan rasa sesak saat menangis dok? Terimakasih
























Halo, terima kasih untuk pertanyaannya.
Ketika berbicara mengenai kesehatan mental, maka tidak terlepas dari kondisi lingkungan di mana seseorang berada. Diri pribadi seseorang dan lingkungan akan saling terikat dan saling mempengaruhi. Perlu disadari bahwa bagaimana pun kondisi lingkungan, maka akan mempengaruhi kondisi mental kita. Apabila seseorang berada pada lingkungan yang mendukung, maka orang tersebut relatif lebih nyaman dalam menjalani keseharian. Sebaliknya, apabila seseorang berada pada lingkungan yang kurang sehat, maka orang tersebut cenderung merasa tidak nyaman, mudah frustasi, bahkan stres, dan menimbulkan dampak buruk lainnya. Dengan demikian, diperlukan evaluasi dan introspeksi diri teradap kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar.
Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yaitu menyadari kelebihan yang anda miliki dan fokus mengembangkan hal tersebut sehingga anda dapat menjadi versi terbaik dari diri anda. Anda dapat menggunakan energi yang anda miliki untuk mengendalikan hal yang dapat dikontrol, seperti mengendalikan respon (pikiran, perasaan, perilaku, dan sebagainya) terhadap stimulus/ kondisi yang tidak menyenangkan yang anda peroleh dari lingkungan. Selain itu, anda dapat menuliskan jurnal harian secara berkala setiap hari sebagai bentuk katarsis atau peluapan emosi. Temukan pula minimal 3 hal yang dapat anda syukuri setiap harinya (hal besar, maupun hal kecil dan sederhana) sehingga anda dapat menemukan makna hidup sekecil apapun itu.
Anda dapat menenangkan diri terlebih dahulu, mengelola pikiran dan emosi sehingga anda dapat berpikir secara jernih untuk mengambil langkah selanjutnya. Kemudian, ajak orang tua berdiskusi dan berbicara dari hati ke hati sehingga dapat saling memahami dan menemukan solusi bersama. Jika diperlukan, anda dapat meminta bantuan pihak keluarga yang dianggap mampu bersikap netral dan bijaksana sebagai penengah. Anda tidak perlu ragu untuk mengunjungi psikolog, agar mendampingi anda mengatasi kondisi tertekan tersebut.
Kami bisa memahami kondisi yang anda alami saat ini, semoga jawaban di atas dapat membantu, serta membantu pula agar anda lebih siap menghadapi kenyataan yang terjadi.
Hai Sobat Sehat, pertanyaan Anda telah kami terima. Kami akan membantu memberikan penjelasan secara umum terlebih dulu, sebelum pakar kami memberikan respons ya.
Saya memahami bahwa Anda merasa emosional ketika mencoba mengungkapkan perasaan dan berbicara dengan orang tua Anda. Situasi di mana Anda merasa harus mengalah dan menahan emosi dapat menyebabkan tekanan dan ketegangan yang akhirnya melepaskan diri dalam bentuk tangisan.:Untuk dapat berbicara lantang tanpa menangis, ada beberapa strategi yang bisa Anda coba:
Kenali dan terima emosi Anda: Penting untuk mengenali dan menerima emosi yang Anda rasakan. Jangan menekan atau menahan emosi tersebut, karena hal itu hanya akan memperkuat kemungkinan melepaskan diri dalam bentuk tangisan. Beri diri Anda izin untuk merasakan dan mengungkapkan emosi dengan cara yang sehat.
Latih komunikasi yang efektif: Praktikkan berbicara dengan jelas dan tegas. Latihlah diri Anda untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan Anda dengan kalimat yang jelas dan terstruktur. Berlatih di depan cermin atau dengan teman dekat dapat membantu Anda memperoleh kepercayaan diri dalam berbicara.
Atur suasana hati dan pikiran: Sebelum berbicara dengan orang tua Anda, cobalah untuk menenangkan pikiran dan mengatur suasana hati Anda. Lakukan aktivitas yang membantu Anda merasa lebih tenang, seperti meditasi, olahraga, atau mendengarkan musik yang menenangkan. Hal ini dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres yang mungkin memicu tangisan.
Gunakan teknik pernapasan: Saat Anda merasa emosi meningkat dan ingin menangis, cobalah menggunakan teknik pernapasan dalam-dalam. Tarik napas perlahan melalui hidung, tahan sejenak, dan hembuskan perlahan melalui mulut. Teknik pernapasan ini dapat membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi ketegangan emosional.
Cari dukungan: Jika Anda merasa kesulitan mengatasi emosi dan komunikasi dengan orang tua, penting untuk mencari dukungan dari orang lain. Bicarakan perasaan Anda dengan teman dekat, anggota keluarga lain, atau bahkan seorang konselor. Mereka dapat memberikan perspektif dan saran yang berguna dalam menghadapi situasi ini.
Selain itu, penting juga untuk berbicara dengan orang tua Anda tentang perasaan dan kebutuhan Anda. Cobalah untuk mengungkapkan dengan jujur bagaimana Anda merasa dan apa yang Anda inginkan. Mungkin mereka tidak menyadari dampak yang terjadi pada Anda dan dapat membantu mencari solusi bersama.
Terakhir, jika Anda merasa sesak saat menangis, cobalah untuk mengambil napas dalam-dalam dan fokus pada pernapasan Anda. Jika rasa sesak terus berlanjut atau mengganggu kesehatan Anda secara keseluruhan, disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan atau psikolog untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.
Semoga saran ini membantu Anda dalam mengatasi situasi yang Anda hadapi. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk bertanya.
Related content