home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Alergi Sayur yang Bisa Sebabkan Bibir Bengkak dan Gatal-Gatal

Mengenal Alergi Sayur yang Bisa Sebabkan Bibir Bengkak dan Gatal-Gatal

Sayuran adalah salah satu bahan makanan yang paling sering digunakan dalam masakan. Selain tersedia di mana-mana, sayuran juga kaya akan kandungan gizi dan vitamin yang sangat baik untuk tubuh sehingga banyak disarankan untuk dikonsumsi setiap hari.

Sayangnya, ada orang-orang yang tidak bisa mengonsumsi beberapa jenis sayur. Bukan karena citarasanya, tapi karena mereka memiliki alergi makanan terutama yang disebabkan jenis sayuran tertentu. Bagaimana bisa? Simak penjelasannya di bawah ini.

Kenapa bisa ada orang yang alergi sayur?

Reaksi alergi pada makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menganggap zat dalam makanan sebagai zat asing dan berbahaya, sehingga tubuh akan memunculkan reaksi alergi sebagai perlawanannya.

Tubuh akan menghasilkan antibodi bernama Imunoglobulin E (IgE) yang nantinya mengirim sinyal kepada sel-sel penghasil histamin. Histamin inilah yang akan memicu reaksi alergi berupa gatal-gatal, ruam, dan gejala lainnya.

Selain itu, reaksi alergi yang muncul juga bisa diakibatkan oleh adanya kondisi lain seperti pollen food syndrome atau sindrom makanan serbuk sari. Hal ini biasanya terjadi pada orang yang sudah alergi terhadap serbuk sari dan mengalami demam alergi.

Orang dengan kondisi ini dapat mengalami reaksi alergi setelah makan sayuran tertentu. Pasalnya, ada beberapa jenis sayuran yang memiliki protein sama yang juga ditemukan pada serbuk sari. Namun, kebanyakan reaksi hanya muncul setelah makan sayuran yang tidak dimasak.

Untungnya, reaksi alergi yang disebabkan dari sayur adalah kasus yang jarang terjadi.

Penyebab Alergi yang Tersembunyi di Dalam Makanan Anda

Jenis sayur yang dapat menyebabkan alergi

buah dan sayuran

Sebenarnya semua jenis sayuran berpotensi memicu reaksi alergi, tetapi ada beberapa sayur yang memang lebih sering menyebabkannya. Beberapa sayuran tersebut adalah sayuran nightshade, seledri, dan bawang-bawangan.

Sayuran nightshade merupakan sayuran dari keluarga tanaman Sloaneceae. Mayoritas tanaman yang berada dalam keluarga ini tidak dapat dikonsumsi dan ada beberapa yang bisa mematikan seperti tanaman belladonna. Namun ada juga sayuran lainnya yang dapat dikonsumsi dan sering dijadikan bahan masakan di Indonesia.

Beberapa sayuran yang termasuk dalam keluarga nightshade adalah terong, kentang putih, tomat, paprika, cabai, dan cabai rawit. Kemungkinan besar alergi pada sayur nightshade dipicu oleh adanya kandungan kelompok senyawa yang bernama alkaloid.

Alkaloid sesungguhnya adalah bahan kimia yang melindungi tanaman dari jamur dan hama. Beberapa jenisnya yang ditemukan pada tanaman nightshade adalah solanin, nikotin, dan capsaicin.

Maka dari itu, jika Anda atau orang lain mengeluhkan gejala-gejala alergi makanan serupa setelah makan kentang, besar kemungkinan reaksi muncul karena adanya interaksi antara antibodi dengan alkaloid.

Seledri juga salah satu sayuran yang kerap menjadi pemicu kambuhnya alergi. Kebanyakan kasusnya memang lebih tinggi ditemukan pada daerah-daerah seperti Jerman dan Swiss yang kerap mengonsumsinya secara mentah. Karena itulah reaksi alergi seledri sering dikaitkan dengan alergi serbuk sari.

Meski demikian, Anda juga harus tetap berhati-hati pada seledri yang telah dimasak. Pasalnya alergen pada seledri sebagian besar tahan terhadap panas dan tidak hilang saat pemrosesan, sehingga Anda yang sensitif tetap harus menghindari produk yang mengandung seledri.

Bedakan alergi sayur dengan sensitivitas terhadap salisilat

alergi sayur
Sumber: Food Republic

Terkadang, reaksi yang terjadi setelah makan terong membuat Anda berpikir bahwa Anda terkena alergi. Namun, ternyata reaksi tersebut tidak selalu menandakan adanya alergi. Kemungkinan lainnya, Anda bisa jadi memiliki sensitivitas terhadap salisilat.

Salisilat adalah senyawa yang banyak ditemukan dalam makanan, obat-obatan, dan produk-produk kecantikan. Intoleransi terhadap zat ini disebabkan oleh kelebihan leukotrien, yaitu zat yang kerap mengakibatkan peradangan.

Kelebihan leukotrien yang diproduksi tubuh pun membuat tubuh sulit mencerna zat salisilat dan akhirnya menimbulkan reaksi berupa hidung tersumat, diare, dan biduran.

Selain terong, beberapa sayur yang memiliki kandungan salisilat alami adalah brokoli, timun jepang, jamur, bayam, dan kembang kol. Untuk memastikan apakah Anda memiliki sayur atau intoleransi salisilat, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan pada dokter.

Berbagai gejala alergi yang dapat muncul

formikasi kulit rasa gatal

Gejala alergi sayur bisa muncul dalam intensitas ringan sampai yang serius. Ini semua tergantung dari seberapa sensitif tubuh Anda bereaksi terhadap zat yang dikira berbahaya, serta sudah seberapa lama dan berapa banyak zat tersebut masuk ke tubuh.

Gejala alergi sayur mirip dengan gejala alergi makanan umum seperti:

  • mual,
  • diare,
  • sakit atau nyeri perut,
  • batuk-batuk,
  • lidah kesemutan,
  • bibir dan mulut bengkak,
  • rasa gatal di sekujur tubuh, serta
  • mulut, bibir, dan tenggorokan gatal.

Biasanya, gejala ini akan muncul langsung setelah Anda makan sayur. Tak jarang gejala bisa muncul setelah beberapa jam setelahnya. Anda tak selalu mengalami gejala yang sama setiap mengalami reaksi alergi.

Meski kebanyakan kasus alergi makanan bisa mudah dtangani, Anda tetap harus waspada akan risiko syok anafilaksis yang bisa mengancam jiwa.

Bagaimana cara mengatasinya?

obat metronidazole adalah

Reaksi alergi sayur yang ringan dapat diatasi dengan obat alergi makanan antihistamin yang dijual bebas di pasaran seperti diphenhydramine (Benadryl). Namun, untuk reaksi pertama kali sebaiknya Anda langsung periksakan ke dokter.

Dokter biasanya akan melakukan tes darah untuk memastikan apakah Anda mengalami reaksi alergi atau bukan. Selain itu, dokter juga akan mendiagnosis penyebab alergi apakah karena makan terong atau mungkin karena hal lainnya.

Jika ternyata Anda atau orang di sekitar Anda mengalami syok anafilaksis setelah makan sayur, sebaiknya segera pergi ke UGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan bantuan darurat.

Sebelumnya, orang yang mengalami reaksi alergi berat harus segera disuntikkan obat berupa injeksi epinefrin. Namun jika tak tersedia, bantulah dengan longgarkan pakaiannya untuk melancarkan jalur napas dan baringkan tubuhnya telentang dengan posisi kaki lebih tinggi dari jantung.

Bila orang yang bersangkutan muntah, maka segera miringkan tubuhnya. Jangan berikan korban yang mengalami anafilaksis makanan atau minuman apa pun hingga bantuan medis datang.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Allergy to vegetables. (2019). Anaphylaxis Campaign. Retrieved 25 August 2020, from https://www.anaphylaxis.org.uk/knowledgebase/allergy-to-vegetables/

Allergenic Foods and their Allergens – Vegetables. (2014). Food Allergy Research and Resource Program. Retrieved 25 August 2020, from https://farrp.unl.edu/informallvegetables

Pramod, S. N., & Venkatesh, Y. P. (2008). Allergy to eggplant (Solanum melongena) caused by a putative secondary metabolite. Journal of Investigational Allergology and Clinical Immunology18(1), 59-62. Retrieved 25 August 2020, from ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18361104

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 13/11/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x