home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Intoleransi Salisilat

Intoleransi Salisilat

Anda mungkin lebih sering mendengar intoleransi laktosa daripada intoleransi salisilat. Intoleransi salisilat memang kondisi yang jarang, tapi memiliki faktor penyebab dan gejala yang umum sehingga Anda mungkin tak menyadarinya. Yuk, cari tahu lebih lanjut!

Apa itu intoleransi salisilat?

Intoleransi laktosa adalah serangkaian reaksi negatif yang dimunculkan oleh tubuh setelah mengalami kontak dengan asam salisilat, baik yang dikonsumsi lewat mulut maupun yang digunakan pada kulit. Kondisi ini juga kerap disebut sensitivitas salisilat.

Salisilat merupakan senyawa yang biasanya ditemukan dalam makanan, obat-obatan, dan produk kosmetik yang dapat menyebabkan reaksi merugikan pada beberapa orang.

Apa penyebabnya?

Sensitivitas salisilat disebabkan oleh kelebihan leukotrien atau zat yang sering mengakibatkan peradangan terkait dengan asma, radang usus, dan rematik. Itu sebabnya orang pengidap penyakit asma dan radang usus paling rentan dengan kondisi ini.

Tubuh memproduksi leukotrien berlebih ketika enzim bernama siklooksigenase. Enzim tersebut berfungsi memecah leukotrien mengalami hambatan sehingga menyebabkan penumpukan.

Salisilat alami banyak ditemukan dalam beragam makanan seperti buah-buahan, sayur-mayur, kopi, teh, kacang, rempah-rempah dan madu.

Sementara itu, versi sintetiknya kerap digunakan sebagai pengawet makanan, juga ditemukan dalam obat-obatan seperti obat aspirin dan Pepto-Bismol serta berbagai produk perawatan tubuh.

Dibandingkan dengan makanan, obat-obatan seperti aspirin mengandung salisilat dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya mengapa intoleransi salisilat paling sering dikaitkan sebagai efek samping obat-obatan.

Gejala yang muncul saat mengalami intoleransi salisilat

Gejala yang muncul serta seberapa parah intensitasnya bergantung pada berapa banyak kadar salisilat dalam tubuh. Umumnya, kondisi ini memiliki gejala mirip reaksi alergi atau penyakit umum lain. Namun, tidak semua orang memiliki gejala yang sama.

Gejala sensitivitas salisiliat, meliputi:

  • hidung tersumbat,
  • infeksi dan peradangan sinus,
  • polip hidung,
  • sesak napas,
  • diare,
  • terus buang gas,
  • peradangan kolon (kolitis),
  • biduran,
  • pembengkakan pada jaringan,
  • demam, serta
  • mual dan muntah, rasa tidak nyaman ada perut.

Makanan, obat, dan produk apa saja yang mengandung salisilat?

Salisilat alami terkandung dalam banyak sayur dan buah-buahan serta rempah, misalnya:

  • kismis,
  • ceri,
  • anggur,
  • nanas,
  • jeruk,
  • stroberi,
  • jambu biji,
  • kiwi,
  • apel,
  • brokoli,
  • mentimun,
  • okra,
  • sawi putih,
  • lobak,
  • kecambah,
  • terong,
  • ubi jalar,
  • bayam,
  • jahe,
  • kayu manis,
  • cengkeh,
  • oregano,
  • jinten,
  • kunyit, dan
  • adas.

Pada buah-buahan, sayur-mayur, dan rempah-rempah, tingkat salisilat bervariasi bergantung dari kondisi kematangan dan cara penyajiannya. Contoh, manisan buah kering mengandung salisilat yang lebih tinggi dibanding buah segar karena air buah sudah diperas.

Salisilat dalam bentuk sintetis terdapat dalam:

  • pasta gigi rasa mint,
  • parfum,
  • sampo atau kondisioner rambut,
  • obat kumur,
  • losion kulit, serta
  • obat aspirin dan obat antiradang (non kortikosteroid), dan beberapa obat antinyeri, seperti ibuprofen.

Zat ini juga ditambahkan pada teh, cuka, permen, madu, dan makanan kemasan, seperti selai, permen karet, keripik, kerupuk, dan perasa buah.

Bagaimana mengatasi intoleransi salisilat?

Perhatikan apa yang Anda makan-minum serta yang Anda gunakan sehari-hari untuk mencegah reaksi intoleransi terhadap salisilat.

Paparan salisilat dosis tinggi dalam waktu singkat bisa menyebabkan kehilangan kesadaran, dan ini biasanya dikarenakan penggunaan obat.

Saat sakit, sampaikan kepada dokter jika Anda memiliki kondisi ini agar dokter dapat mengganti jenis obat yang Anda pakai. Jangan lupa untuk memilih produk perawatan tubuh yang tidak mengandung salisilat atau asam salisilat.

Sebagai ganti menu buah yang mengandung salisilat. Anda bisa memperbanyak konsumsi sayur dan buah jenis lainnya, seperti buah pir, seledri, kubis, dan kacang-kacangan.

Terakhir, ingat dan catat setiap reaksi yang muncul dari makanan yang dikonsumsi atau produk yang digunakan. Bila memunculkan gejala, hindari konsumsi dan pemakaiannya di kemudian hari.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Kubala, Jillian, MS, RD. 2018. Salicylate Sensitivity: Causes, Symptoms and Foods to Avoid. https://www.healthline.com/nutrition/salicylate-sensitivity#section1. Diakses pada 6 April 2018.

Weil, Andrew, MD. 2011. Salicylate Sensitive? https://www.drweil.com/health-wellness/body-mind-spirit/allergy-asthma/salicylate-sensitive/. Diakses pada 6 April 2018.

Sexton, Christine. MPH, RD. 2018. Salicylate Intolerance: The Complete Guide + List of Foods. https://www.dietvsdisease.org/salicylate-intolerance/. Diakses pada 6 April 2018.

 

 

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 16/06/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x