Tes Kulit Alergi: Persiapan, Jenis-jenis, Efek Samping

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Jika Anda sering merasakan gatal dan menjumpai ruam pada kulit, ada kemungkinan hal tersebut adalah pertanda dari reaksi alergi kulit. Gejala alergi memang mirip dengan penyakit lainnya. Oleh sebab itu, Anda mungkin perlu menjalani berbagai tes alergi di kulit. Apa saja?

Mengapa uji alergi ini dilakukan?

penyebab alergi

Pada dasarnya, tes alergi dilakukan untuk mengetahui senyawa apa yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada kulit. Dokter mungkin akan menganjurkan Anda untuk melakukan tes alergi kulit jika dicurigai memiliki:

  • rhinitis alergi dan gejala asma yang tidak dapat diatasi dengan obat,
  • biduran dan angioedema,
  • alergi makanan,
  • ruam kulit, kulit menjadi merah, terasa perih, atau bengkak usai terpapar sesuatu, serta
  • alergi penisilin dan alergi racun.

Pemeriksaan alergi ini sebenarnya cukup aman, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Namun, pada kasus tertentu, tes ini justru tidak disarankan, seperti:

  • pernah mengalami reaksi alergi yang parah (anafilaksis),
  • minum obat yang dapat memengaruhi hasil tes, seperti antihistamin, dan
  • memiliki penyakit kulit tertentu, seperti psoriasis yang parah.

Apabila hal ini terjadi pada Anda, dokter mungkin akan merekomendasikan jenis uji alergi lainnya. Sebagai contoh, tes darah (antibodi IgE) bisa menjadi alternatif lain bagi mereka yang tidak dapat melakukan tes alergi kulit. 

Persiapan sebelum tes alergi kulit

Umumnya, sebelum tes alergi kuilt dilakukan, dokter akan bertanya seputar riwayat medis Anda, mulai dari gejala hingga riwayat penyakit keluarga. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dokter menentukan penyebab reaksi alergi pada kulit. 

Selain itu, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk tidak mengonsumsi obat-obatan tertentu. Berikut ini adalah obat-obatan yang perlu dihindari sebelum melakukan pemeriksaan alergi agar tidak memengaruhi hasil tes. 

  • Antihistamin, baik yang dijual bebas maupun dari dokter, seperti loratadine.
  • Antidepresan trisiklik, seperti nortriptyline dan desipramine.
  • Obat untuk sakit maag, seperti cimetidine dan ranitidin.
  • Obat asma omalizumab yang dapat mengganggu hasil tes.

Jenis tes alergi di kulit

Pada umumnya tes alergi kulit dilakukan di ruang konsultasi dokter dengan bantuan seorang perawat. Pemeriksaan ini akan berlangsung sekitar 20-49 menit.

Beberapa jenis tes dapat mendeteksi reaksi alergi secara langsung. Sementara itu, cara lainnya dengan tes alergi tertunda, yakni yang akan berkembang selama beberapa hari ke depan. Berikut ini beberapa jenis pengujian reaksi alergi di kulit yang perlu Anda ketahui. 

1. Skin prick test (tes tusuk kulit)

skin prick test adalah uji tusuk kulit alergi

Skin prick test atau tes tusuk kulit adalah pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi alergen yang memicu reaksi alergi. Pengujian alergi yang satu ini biasanya dipakai untuk pasien alergi makanan, alergi lateks, hingga alergi terhadap serangga. 

Pada orang dewasa, pemeriksaan akan dilakukan pada lengan bawah. Sementara itu, uji tusuk kulit akan dilakukan di punggung atas pada anak-anak. 

Normalnya, pengujian ini tidak menimbulkan rasa sakit. Hal ini dikarenakan jarum yang disuntikkan tidak menembus permukaan kulit, sehingga Anda tidak berdarah atau merasakan sakit. Begini tahapan skin prick test

  • Dokter akan membersihkan area kulit yang akan ditusuk.
  • Perawat menyuntikkan sejumlah kecil ekstrak alergen yang dicurigai.
  • Kulit akan digores sehingga alergen masuk ke bawah permukaan kulit.
  • Dokter mengamati perubahan kulit untuk memeriksa apakah terjadi reaksi alergi.
  • Hasil reaksi dari pemeriksaan ini dapat terlihat 15-20 menit kemudian.

Selain ekstrak si penyebab alergi kulit, ada dua zat tambahan yang digoreskan ke permukaan kulit Anda untuk melihat apakah kulit bereaksi secara normal, yakni:

  • histamin, dan
  • gliserin atau saline.

Uji tusuk kulit memang terbilang aman dan efektif. Namun, ada kalanya tes alergi ini mengeluarkan hasil positif atau negatif yang salah. 

Hal ini dapat terjadi jika skin prick test ditempatkan terlalu dekat, yaitu dengan jarak kurang dari dua cm. Akibatnya, larutan alergen dapat tercampur dengan area pengujian lainnya. 

2. Skin injection test (tes injeksi kulit)

Berbeda dengan tes tusuk kulit, tes alergi kulit yang satu ini akan menyuntikkan ekstrak alergen yang dicurigai di bawah permukaan kulit. 

Setelah 15-20 menit berlalu, area lengan bawah atau punggung bagian atas akan diperiksa. Umumnya, reaksi alergi yang paling sering muncul adalah ruam yang disertai dengan bengkak dan kemerahan. 

Tes injeksi kulit cenderung lebih sensitif dibandingkan tes tusuk kulit. Namun, metode ini dinilai menghasilkan reaksi yang lebih pasti.  

3. Patch skin test (tes tempel kulit)

Tes Tempel ( Skin Patch Test)

Patch skin test adalah tes alergi kulit yang dilakukan untuk mendeteksi dermatitis kontak alergi. 

Berbeda dengan kedua tes sebelumnya yang melibatkan jarum suntik, tes tempel kulit menggunakan koyo atau tempelan khusus yang ditempelkan ke punggung. Pada tempelan tersebut telah diberikan sejumlah kecil ekstrak alergen, seperti:

  • lateks,
  • obat-obatan,
  • pengawet,
  • cat rambut, dan
  • logam.

Alergi Cat Rambut dan Gejalanya yang Perlu Diperhatikan

Setelah punggung ditempeli koyo, dokter akan menutupi tempelan tersebut dengan pita hipoalergenik. Tempelan akan dibuka 48 jam setelah pemeriksaan dilakukan. 

Selama 48 jam tersebut, Anda akan diminta untuk tidak mandi dan menghindari aktivitas yang menyebabkan tubuh berkeringat. Kemudian Anda akan kembali ke dokter untuk membuka tempelan dan melihat hasil tes alergi. 

Perlu diingat bahwa skin patch test tidak digunakan untuk menguji urtikaria (gatal-gatal) atau alergi pada makanan. 

Efek samping tes alergi kulit

Tes alergi kulit memang terbilang cukup aman. Namun, tidak menutup kemungkinan Anda dapat mengalami efek samping tertentu usai menjalani pemeriksaan. 

Efek samping yang paling sering terjadi adalah kulit sedikit membengkak, merah, dan adanya benjolan yang terasa gatal. Benjolan tersebut mungkin akan terlihat selama pengujian berlangsung. 

Walaupun demikian, ada beberapa orang yang merasakan efek samping yang telah disebutkan beberapa jam hingga beberapa hari setelah pemeriksaan. 

Skin test jarang menyebabkan reaksi alergi yang parah dan langsung terjadi. Namun, sebaiknya lakukan uji alergi ini di ruangan dokter, tempat yang memiliki peralatan dan obat-obatan jika terjadi hal yang tidak diinginkan. 

Cara membaca hasil tes alergi kulit

tes alergi makanan

Setelah tes alergi kulit dilakukan, dokter biasanya akan menyimpulkan beberapa hasil tes sementara. Hal ini dikarenakan beberapa tes, seperti tes tempel kulit, perlu menunggu selama 2-3 hari sampai Anda kembali berkonsultasi ke dokter. 

Hasil tes negatif

Uji alergi dengan hasil negatif umumnya tidak menunjukkan adanya perubahan kulit sebagai respons terhadap alergen. Artinya, Anda tidak alergi terhadap senyawa yang diberikan oleh dokter. 

Walaupun demikian, ada kalanya seseorang memiliki hasil negatif dan masih alergi terhadap senyawa yang diberikan. 

Hasil tes positif

Jika kulit bereaksi terhadap suatu zat, biasanya akan ditandai dengan ruam merah yang disertai dengan benjolan. Hal ini kemungkinan besar berarti Anda mengalami gejala alergi pada kulit akibat paparan zat yang diberikan. 

Apabila reaksinya lebih kuat, gejala yang ditimbulkan jauh lebih parah, seperti gatal-gatal dan kulit kemerahan. 

Pada beberapa kasus, Anda dapat memiliki hasil positif setelah menjalani tes alergi kulit. Namun, tidak memiliki masalah pada alergen dalam kehidupan sehari-hari. 

Tes kulit alergi biasanya akurat. Namun, tidak menutup kemungkinan hasilnya dapat salah ketika dosis alergennya terlalu besar.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

Alergi sperma bukan sekadar mitos. Menurut penelitian ada 12% wanita di dunia ini yang mengalami kondisi ini. Apakah bisa disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Mengenal Alergi Lateks, Termasuk Karet Gelang dan Kondom

Orang yang mengidap alergi lateks bisa mengalami mulai dari gatal-gatal hingga sesak napas setiap terpapar bahan karet lateks. Bagaimana cara mencegahnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

Kulit mendadak memerah, hidung meler, dan bersin-bersin di ruangan ber-AC? Ini mungkin pertanda gejala alergi dingin. Simak ciri-ciri alergi dingin lainnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Alergi Softlens: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Pakai lensa kontak kadang membuat mata merah dan berair, terlebih bagi yang punya alergi. Cari tahu lebih jauh tentang alergi softlens di sini!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Alergi Hidung dan Mata 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alergi ibuprofen dan asam mefenamat

Mengenal Alergi Obat Pereda Nyeri: Ibuprofen dan Asam Mefenamat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 6 menit
alergi obat antibiotik

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit
perawatan dalam mengatasi alergi obat

Cara Mengatasi Alergi Obat yang Tepat dan Perawatannya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit
komplikasi obat hiv

Anda Punya Alergi pada Obat? Kenali Ciri-Ciri dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 11 menit