Kenali Kolesteatoma, Tumor Jinak di Telinga yang Bisa Sebabkan Ketulian

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Telinga sangat penting untuk kehidupan manusia. Bukan hanya sebagai indra pendengar, telinga juga berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh. Salah satu gangguan yang menyebabkan kemampuan telinga menurun, bahkan rusak permanen adalah kolesteatoma. Apa, sih, kolesteatoma itu? Yuk, cari tahu lebih dalam mengenai penyakit telinga tersebut pada ulasan berikut.

Apa itu kolesteatoma?

Kolesteatoma atau cholesteatoma adalah tumbuhnya tumor jinak di area telinga tengah atau di belakang gendang telinga. Kondisi ini mungkin terjadi akibat cacat lahir, tapi pada umumnya terjadi pada orang yang mengalami infeksi telinga tengah berulang.

Terbentuknya tumor jinak disebabkan oleh tumbuhnya kista disertai penumpukan sel-sel kulit mati, lendir, atau kotoran telinga. Penumpukan tersebut kemudian semakin membesar dan bisa menghancurkan struktur tulang di telinga tengah. Jika terjadi, penyakit ini dapat mengganggu fungsi telinga, keseimbangan tubuh, dan juga otot sekitar di wajah.

Apa penyebab tumbuhnya tumor jinak di telinga tengah?

Selain infeksi telinga berulang, kolesteatoma juga bisa terjadi akibat terganggunya fungsi tabung eustachius. Tabung eustachius adalah saluran penghubung telinga tengah dengan saluran hidung.

Normalnya, tabung eustachius akan melakukan membuka dan menutup untuk menyamakan tekanan udara antara telinga bagian luar dan dalam. Namun, fungsinya bisa terganggu akibat infeksi.

Beberapa kondisi yang menyebabkan tabung eustachius tidak dapat berfungsi dengan baik dan berisiko menyebabkan kolesteatoma adalah:

Semua kondisi di atas dapat menyebabkan produksi lendir di saluran pernapasan jadi lebih banyak. Ekstra lendir bisa menyebar ke area saluran telinga tengah melewati ostia, menumpuk di tabung eustachius, menarik bakteri untuk berkembang biak dan menyebabkan infeksi telinga.

Apa saja gejalanya jika kolesteatoma terjadi?

telinga terasa tersumbat

Gejala utama yang perlu Anda waspadai dari kolesteatoma adalah adanya lendir di dalam telinga. Ini menandakan bahwa tumor mulai membesar.

Bila tumor sudah menyerang telinga tengah, gejala di bawah ini mungkin akan Anda rasakan:

Jika Anda merasakan gejala awal dan tidak tahu penyebabnya, segera periksa ke dokter. Jangan sepelekan gejala dan menunda pengobatan karena dapat memperburuk kondisi Anda.

Apa saja komplikasi yang ditimbulkan jika kondisi ini tidak diobati?

Kolesteatoma yang tidak diobati akan terus membesar dan memperbanyak lendir di telinga. Lingkungan yang kotor tersebut menjadi tempat bakteri dan jamur berkembang biak dengan baik sehingga mudah menginfeksi telinga.

Peradangan yang berulang dapat menghancurkan struktur tulang pembentuk telinga tengah dan merusak gendang telinga. Kondisi ini membuat telinga dalam membengkak dan pada akhirnya akan menyebabkan tuli permanen.

Selain itu, komplikasi yang dapat ditimbulkan akibat kondisi yang tidak diobati adalah:

  • Infeksi merusak saraf di sekitar wajah
  • Infeksi menyebar ke area otak menyebabkan meningitis
  • Terbentuknya benjolan berisi nanah di otak
  • Perasaan berputar (vertigo)
  • Kematian

Bagaimana mengobati kolesteatoma?

penyebab infeksi luka operasi faktor risiko

Tidak ada tes kesehatan khusus yang pasti untuk mendiagnosis kolesteatoma. Jadi, pasien harus melakukan tes pencitraan dan pemeriksaan fisik. Jika pasien sudah didiagnosis, satu-satunya pengobatan yang harus dilakukan pasien kolesteatoma adalah operasi pengangkatan tumor. Berikut penjelasannya:

Operasi kolesteatoma

Dikutip dari Mount Sinai, pembedahan untuk mengatasi kolesteatoma biasanya melibatkan:

  • Mastoidektomi, untuk mengangkat penyakit dari tulang
  • Timpanoplasti, untuk memperbaiki gendang telinga

Jenis operasi yang tepat ditentukan berdasarkan stadium penyakit yang Anda alami. Operasi kolesteatoma adalah prosedur kecil yang dilakukan di bawah mikroskop, biasanya membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam. Anda dapat pulang pada hari yang sama.

Penting untuk menghilangkan penyakit sepenuhnya, karena kondisi ini mungkin tumbuh sendiri. Risiko pertumbuhan kembali lebih tinggi pada anak-anak daripada orang dewasa.

Pada sebagian kasus, prosedur operasi dapat mengangkat kolesteatoma secara keseluruhan. Kehilangan pendengaran sering kali dapat dipulihkan. Operasi ini umumnya aman. Namun, seperti halnya operasi apapun, risiko tetap ada, di antaranya adalah:

  • Kolesteatoma kambuh
  • Kehilangan pendengaran atau perbaikan pendengaran gagal
  • Kebutuhan melakukan lebih dari satu operasi

Operasi kedua

Anda perlu melakukan pemeriksaan secara teratur karena penyakit ini bersifat progresif atau jangka panjang. Terkadang, Anda membutuhkan operasi untuk kedua kalinya.

Dikutip dari ENT Health, operasi kedua biasanya akan dilakukan enam hingga 12 bulan setelah operasi pertama Anda. Pendengaran Anda mungkin akan memburuk sementara setelah operasi pertama jika pembentukan ulang tulang pendengaran Anda tertentu.

Apakah kolesteatoma dapat dicegah?

Meski dampaknya menurunkan kualitas hidup, penyakit ini tidak dapat dicegah. Jadi, Anda harus benar-benar mewaspadai tanda dan gejalanya. Berikut kiat-kiat yang dapat Anda lakukan dalam mengurangi risiko penyakit ini:

  • Lakukan pengobatan yang tepat dan sampai tuntas jika Anda pernah atau sering mengalami infeksi telinga.
  • Cegah infeksi telinga dan faktor risikonya seperti flu, pilek, sinusitis, atau alergi dengan menjaga kebersihan telinga, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan menghindari pemicu alergi.
  • Rutin cuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan rumah, serta makan makanan yang bernutrisi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Cacar Air Bisa Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Komplikasi cacar air tidak hanya menyebabkan herpes zoster, tapi juga gangguan pendengaran. Namun, benarkah demikian? Cari tahu jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Infeksi, Herpes 7 Oktober 2019 . Waktu baca 4 menit

3 Macam Pengobatan untuk Memulihkan Otitis Eksterna Secara Medis

Demi menghentikan perkembangan bakteri penyebab infeksi, dokter biasanya menyarankan berbagai pengobatan medis untuk mengatasi otitis eksterna. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan THT, Gangguan Telinga 6 Juli 2019 . Waktu baca 4 menit

Panduan Memilih Alat Bantu Dengar yang Tepat Agar Tak Salah Pilih

Memilih alat bantu dengar tidak bisa asal. Tak hanya kenaymanan, Anda wajib mengetahui alat yang sesuai dengan masalah pendengaran yang dimiliki.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan THT, Gangguan Telinga 25 Januari 2019 . Waktu baca 3 menit

Tanda dan Gejala Sinus Preauricular, Infeksi Sakit Telinga yang Diidap Anak Anji Manji

Saga Omar Nagata, anak dari Anji Manji, musisi eks-vokalis 'Drive', diketahui mengalami sinus preauricular. Apa saja tanda dan gejalanya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 17 Oktober 2018 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tumor mediastinum

Tumor Mediastinum

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 10 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
fibroadenoma mammae (fam) adalah

Fibroadenoma Mammae (FAM)

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
ganglion

Kista Ganglion

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit
bahaya dan komplikasi anemia

Waspada, Ini Bahaya Anemia yang Mungkin Mengintai Anda

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit