Hati-hati, 3 Penyakit Ini Mengintai Anda Kalau Suka Sembarangan Pakai Sex Toy

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 17 September 2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anda masih bisa terkena penyakit menular seksual meski tidak melakukan hubungan seks. Sebab ada beberapa hal yang bisa menjadi alat penyebaran penyakit seksual yang mungkin selama ini tak pernah terpikirkan oleh Anda. Salah satunya adalah lewat pemakaian sex toys. Bagi beberapa lajang maupun yang sudah berpasangan, melibatkan sex toys dalam aktivitas seks dapat menambah kepuasan tersendiri di ranjang. Tapi awas, pemakaian mainan seks yang tidak higienis, sembarangan, atau malah dipakai bergantian bisa menularkan penyakit seks menular. Kenapa begitu, dan apa saja penyakit menular yang bisa menjadi risiko sex toy?

Bagaimana sex toy dapat menularkan penyakit seksual?

Penularan penyakit seksual adalah salah satu risiko sex toy. Namun ini harus lebih diperjelas. Bukan sex toysnya yang membuat Anda berisiko terkena, tapi sex toy dapat menjadi media penyebaran penyakit dari cairan penis atau vagina yang terinfeksi dan masih menempel di mainan tersebut.

Sebuah penelitian dari jurnal Sexually Transmitted Infections melakukan penelitian yang berfokus pada wanita antara 18 hingga 29 tahun. Wanita yang diteliti adalah para wanita yang pernah melakukan hubungan seksual. Para peneliti memberi tiap satu orang sebuah produk pembersih, satu buah vibrator yang terbuat dari elastomer termoplastika, dan vibrator yang terbuat dari silikon lembut.

Para peserta wanita tersebut diminta untuk menggunakan vibrator tersebut untuk masturbasi dan diteliti selama 24 jam kemudian. Hasilnya ditemukan kalau 75% dari jumlah wanita tersebut mengidap HPV (human paviloma virus). Lalu pada 9 vibrator milik wanita yang positif mengidap HPV, ditemukan tanda-tanda adanya virus.

Peningkatan risiko penyebaran penyakit ini terutama tinggi ketika mainan seks dipakai orang selanjutnya tanpa dicuci bersih dulu dari bekas aktivitas sebelumnya. Hasilnya berbeda ketika sex toy dibersihkan dan disterilkan setiap habis pakai. Nyatanya, ketika sudah dibersihkan, risiko mengendapnya virus pada vibrator menurun menjadi 56 persen. Selain itu, para peneliti pun juga menemukan bahwa vibrator berbahan silikon memiliki tingkat deteksi virus yang lebih rendah. Nah, bayangkan bila vibrator yang tidak dibersihkan ini dipakai secara bergantian. Tentu virus yang melekat pada vibrator akan menular ke para pemakai.

Beberapa penyakit menular seksual yang menjadi risiko sex toy

1. Klamidia

Klamidia atau chlamydia adalah sebuah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri bernama chlamydia trachomatis. Gejala klamidia yang paling umum adalah rasa nyeri pada kelamin dan keluarnya cairan dari vagina atau penis. Namun klamidia jarang menunjukkan gejala, sehingga Anda mungkin tidak pernah mengetahui bahwa Anda terjangkit penyakit ini.

Klamidia dapat menginfeksi bagian serviks, anus, saluran kencing, mata, dan tenggorokan. Klamidia umumnya sering terdapat pada pria maupun wanita yang berusia di atas 25 tahun. Dan salah satu penyebarannya bisa lewat penggunaan sex toys yang tidak bersih.

2. Sipilis

Sipilis adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri yang dapat menginfeksi kulit, mulut, alat kelamin, serta sistem saraf. Sipilis dikenal juga dengan nama raja singa.

Jika terdeteksi lebih awal, sifilis akan lebih mudah disembuhkan dan tidak akan menyebabkan kerusakan permanen. Namun, penyakit sipilis yang tidak diobati dapat mengakibatkan kerusakan serius pada otak atau sistem saraf serta organ lainnya, termasuk jantung.

3. Herpes

Herpes genital adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV). Biasanya ditandai dengan bentol-bentol berair pada alat kelamin, anus, atau mulut. Herpes genital dapat menyebar melalui sentuhan, namun lebih sering menyebar melalui hubungan seksual.

Herpes genital adalah suatu kondisi yang sering terjadi dan dapat terjadi pada wanita dan laki-laki. Wanita lebih berisiko terkena virus ini dibandingkan laki-laki. Biasanya terjadi pada orang yang aktif berhubungan seksual.

Bagaimana mencegah penyakit menular seksual yang disebarkan lewat sex toys

Untuk menghindari risiko sex toy di atas, usahakan jangan pinjam-meminjam sex toys. Selain itu, jaga kebersihan mainan seks dan alat kelamin sendiri. Dengan membersihkan mainan seks secara teratur sebelum dan sesudah menggunakannya dapat mengurangi risiko infeksi dan penyakit seksual yang bisa menulari Anda

Tapi, tidak semua sex toys bisa dicuci dengan bahan atau cara yang sama. Anda perlu memerhatikan cara menjaga kebersihan sex toys berdasarkan jenisnya. Umumnya, sebagian besar mainan dapat dibersihkan dengan larutan pemutih ringan (pemutih yang diencerkan dengan air), pembersih mainan seks antibakteri (tersedia di banyak toko mainan seks), atau sabun dan air untuk membunuh penyakit atau kuman.

Setelah dibersihkan, Anda mungkin perlu untuk mengeringkan sex toys dengan cara diangin-anginkan guna mencegah pertumbuhan bakteri.

Di bawah ini, ada beberapa cara membersihkan sex toys yang harus Anda perhatikan:

  • Setiap akan membersihkan, membilas atau mencuci sex toys, pastikan kalau Anda melepaskan baterainya terlebih dahulu. Hindari juga membersihkan alat seks tersebut ketika masih tersambung dengan arus listrik.
  • Hindari membersihkan dengan cara menggosok terlalu kasar
  • Mainan yang terbuat dari silikon atau kaca plastik bisa dibersihkan dengan cara direndam dengan air hangat
  • Simpan mainan di tempat yang sejuk dan hindari sinar matahari langsung

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit