home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Lama Tidak Berhubungan Intim, Apa Saja Efeknya Bagi Tubuh?

Lama Tidak Berhubungan Intim, Apa Saja Efeknya Bagi Tubuh?

Melakukan hubungan intim secara teratur akan memberikan manfaat untuk kesehatan. Sayangnya, ada beberapa pasangan yang karena satu dan lain hal harus puasa berhubungan intim dulu. Misalnya karena sedang mengobati penyakit kelamin, baru saja melahirkan normal, atau menjalani hubungan jarak jauh dengan suami atau istri.

Anda mungkin bertanya-tanya, apa yang akan terjadi kalau pasangan suami istri sudah lama tidak berhubungan intim lagi? Apakah seks selanjutnya akan terasa jauh lebih nikmat atau justru kurang memuaskan? Apakah ada efeknya bagi kesehatan tubuh? Yuk, cari tahu di bawah ini.

Perubahan pada tubuh jika lama tidak berhubungan intim

1. Terasa sakit saat berhubungan intim lagi

Vagina mungkin terasa sakit saat melakukan hubungan intim lagi setelah jangka waktu lama tidak melakukannya. Penggunaan pelumas vagina dapat membantu mengurangi rasa sakit. Agar tubuh lebih rileks dan vagina cukup pelumas, Anda juga sebaiknya melakukan foreplay atau pemanasan yang cukup lama.

2. Lebih berisiko terkena kanker prostat

Orang-orang yang berhenti melakukan seks bisa jadi lebih berisiko terhadap kanker prostat. Menurut sebuah penelitian pada American Urological Association, pria yang rutin berhubungan seks dan berejakulasi (orgasme) dapat menurunkan risiko terkena kanker prostat hingga 20 persen.

Hal ini dipercaya karena saat berejakulasi, tubuh ikut mengeluarkan zat-zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh lewat air mani. Karena itu, ejakulasi bisa membantu membersihkan area reproduksi pria.

3. Vaginismus

Rasa sakit saat berhubungan intim bisa segera teratasi dengan sendirinya dengan kebiasaan, kesabaran, dan foreplay yang cukup baik. Namun dalam beberapa kondisi, otot-otot vagina bisa berkontraksi begitu kencang sehingga tidak memungkinan untuk terjadinya penetrasi. Bahkan, tampon atau jari pun tak bisa menembus vagina.

Kondisi ini disebut vaginismus. Jika Anda curiga hal ini terjadi pada Anda, segera temui dokter untuk mendapatkan diagnosis dan rekomendasi untuk terapi otot dasar panggul, misalnya melakukan senam Kegel.

4. Kehilangan gairah seks

Jika Anda lama tidak berhubungan intim, wajar saja bila tubuh Anda berhenti menginginkannya lagi. Pasalnya, ketika berhubungan seks tubuh akan memproduksi hormon endorfin yang akan membuat Anda menginginkan seks dan keintiman dengan pasangan. Sedangkan kalau Anda sudah lama tidak berhubungan seks, Anda mungkin sudah tidak begitu peka lagi pada hormon ini.

Tenang, gairah seks yang hilang bisa dikembalikan lagi, kok, dengan berbagai cara. Misalnya dengan menghabiskan waktu berkualitas dengan pasangan, mengonsumsi makanan yang bisa meningkatkan gairah seks, dan berolahraga bersama pasangan.

5. Vagina atrofi

Saat usia subur sudah berlalu, seks akan nampak sebagai sesuatu yang kurang penting. Ditambah lagi, jumlah estrogen akan menurun drastis. Hal tersebut membuat Anda malas atau tidak mau berhubungan seks. Turunnya kadar estrogen, dapat menyebabkan vagina menjadi kering dan dinding vagina menipis.

Kondisi ini yang disebut vagina atrofi. Kekeringan vagina dapat menjadi masalah yang perlu ditangani. Ini akan membuat seks menjadi tidak nyaman, karena penetrasi yang terjadi menjadi lebih sakit.

Lama tidak berhubungan intim tidak akan bikin vagina “merapat”

Lama tidak berhubungan intim bukanlah faktor penyebab merapatnya vagina. Bila Anda sudah lama tidak berhubungan intim, kemudian merasa sakit, penyebabnya bukanlah vagina yang lebih sempit setelah lama diistirahatkan, tapi karena kurangnya foreplay sebelum penetrasi penis ke vagina.

Lama tidak berhubungan intim bukanlah faktor penentu kerapatan vagina karena pada dasarnya vagina akan kembali ke bentuk semula, bahkan pada orang yang sering berhubungan seks. Seberapa seringnya berhubungan seksual sama sekali tidak mempengaruhi kerapatan atau kelonggaran vagina.

Ada dua hal yang memengaruhi kerapatan vagina, yaitu melahirkan dan proses penuaan (menopause). Saat melahirkan normal, vagina Anda akan bekerja keras untuk meregang dan memberi jalan bayi. Dengan begini, bentuknya akan berubah dan melonggar. Vagina butuh waktu kurang lebih 6 bulan untuk kembali ke bentuk dan ukuran asalnya.

Ketika menopause, kadar estrogen dalam tubuh Anda akan jauh berkurang yang berdampak pada elastisitas vagina. Saat memasuki masa ini, otot vagina Anda tidak akan seelastis sebelumnya dan membuat vagina jadi lebih longgar.

 

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

6 Things That Happen to Your Body When You Don’t Have Sex For a While https://www.menshealth.com/sex-women/6-things-that-happen-to-your-body-when-you-dont-have-sex-for-a-while diakses 2 Desember 2017.

4 Things That Happen To Your Vagina When You Stop Having Sex https://www.prevention.com/sex/your-vagina-without-sex diakses 2 Desember 2017.

5 Things That Happen When You Stop Having Regular Sex https://www.womenshealthmag.com/sex-and-love/what-happens-if-you-stop-having-sex diakses 2 Desember 2017.

7 Things That Happen When You Stop Having Sex https://www.prevention.com/sex/7-things-happen-when-you-stop-having-sex diakses 2 Desember 2017.

Foto Penulis
Ditulis oleh Andisa Shabrina Diperbarui 05/04/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x