home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Disunat dan Tidak: Apakah Ada Pengaruhnya Pada Seks?

Disunat dan Tidak: Apakah Ada Pengaruhnya Pada Seks?

Sunat mungkin adalah salah satu prosedur operasi yang paling sering dilakukan pada pria. Sederhananya, sunat dapat digambarkan sebagai pengangkatan kulit kulup penis, alias preputium. Sunat biasanya tidak diwajibkan secara medis, namun dapat dilakukan untuk berbagai alasan, seperti keyakinan agama atau kebersihan pribadi. Namun, apa benar sunat memengaruhi gairah seorang pria? Benarkah penis yang disunat lebih sehat? Baca terus untuk cari tahu tentang perbedaan penis yang disunat dan tidak.

Apa perbedaan penis yang disunat dan tidak?

Satu-satunya beda antara penis yang disunat dan tidak adalah, penis yang tidak disunat masih memiliki kulup yang menempel di ujung kepala penis.

Sementara itu, penis yang disunat sudah tidak memiliki lagi kulit di bagian ujung kepalanya.

Selain itu, tidak ada lagi karakteristik fisik spesifik yang membedakan keduanya. Bagaimana dengan cara kerja atau sensasi yang didapat dari keduanya?

Berikut adalah penjelasan lebih dalam mengenai bedanya penis yang sudah disunat dan belum:

1. Sensitivitas

Perbedaan yang pertama terletak pada tingkat sensitivitas penis. Konon, penis yang tidak disunat jauh lebih sensitif dibanding dengan yang sudah disunat. Apa benar demikian?

Sebuah studi yang tercantum dalam jurnal BJUI International meneliti sensasi seksual pada 1.059 pria yang belum disunat dan 310 pria yang sudah disunat.

Hasilnya, sekelompok pria yang belum disunat merasakan sensitivitas yang lebih tinggi dibanding dengan pria yang sudah disunat.

Hal ini diduga karenakan kulup pada penis yang belum disunat bisa meningkatkan gairah seksual dengan menggeser bagian atas dan bawah batang penis.

Namun, hal ini masih menjadi perdebatan para ahli. Pasalnya, masih banyak pula penelitian yang menunjukkan bahwa disunat atau tidaknya penis tidak memengaruhi gairah seksual pria.

2. Kebersihan

Perbedaan selanjutnya yang mungkin jelas terlihat dari penis yang disunat dan tidak adalah tingkat kebersihannya.

Pada kepala penis yang tidak disunat, lipatan kulit di ujung kepala penis berisiko menjadi tempat menumpuknya sel kulit mati, minyak, bakteri, serta kuman lainnya.

Jika tidak dibersihkan secara rutin, seluruh zat tersebut dapat menumpuk dan menghasilkan smegma, yang terlihat berwarna putih kekuningan.

Smegma tak hanya menimbulkan bau tak sedap, tetapi juga mengiritasi kulit bahkan berisiko memicu infeksi.

Oleh karena itu, penis yang tidak disunat memerlukan perhatian ekstra, terutama dalam masalah kebersihan. Bagian kepala penis harus rajin dibersihkan dengan sabun dan air hangat.

Sementara itu, penis yang disunat akan menghemat waktu saat membersihkan tubuh karena kemungkinan terjadi penumpukan bakteri dan sel kulit mati di kepala penis lebih kecil.

Meski demikian, pria yang penisnya disunat tetap harus memperhatikan kebersihan alat kelaminnya dengan perawatan secara rutin.

3. Kesehatan

Kesehatan penis yang disunat dan tidak juga merupakan perbedaan yang sangat mendasar.

Menurut situs American Academy of Pediatrics (AAP), sunat membantu mengurangi risiko terkena HIV dan infeksi menular seksual lainnya pada pria.

Beberapa penelitian juga telah menunjukkan bahwa prosedur sunat berhasil menurunkan risiko penularan HIV sebanyak 50 hingga 60 persen.

Ditambah lagi, pria yang disunat juga memiliki peluang 30% lebih kecil untuk terkena herpes dan infeksi HPV. Namun, manfaat ini tak hanya dirasakan oleh pria, lho.

Sebuah artikel dari The Lancet Global Health menyatakan wanita yang memiliki pasangan yang sudah disunat juga terhindar dari risiko klamidia, sifilis, dan herpes.

Walaupun begitu, penting untuk dipahami bahwa sunat tidak termasuk sebagai perlindungan keseluruhan dari infeksi dan penyakit kelamin menular, atau sebagai pengganti kondom.

Memakai kondom masih merupakan cara terbaik untuk melindungi diri dari penyakit menular seksual jika Anda aktif secara seksual.

Garis besarnya, tidak ada begitu banyak perbedaan besar untuk kedua jenis penis, baik yang sudah disunat atau tidak.

Kedua tipe penis bekerja sama baiknya, dan merasakan sensasi sama nikmatnya dalam urusan seks. Meski begitu, memang ternyata perbedaan yang cukup signifikan adalah tingkat kebersihan serta kesehatannya.

Namun, hal ini bukan berarti seluruh pria wajib melakukan sunat, atau penis yang sehat sudah pasti harus disunat.

Pasalnya, keputusan menyunat tentunya kembali lagi pada preferensi serta kepercayaan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Circumcision (male) – Mayo Clinic. (2020). Retrieved June 3, 2021, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/circumcision/about/pac-20393550 

What’s the difference between being circumcised and being uncircumcised? – Planned Parenthood. (n.d.). Retrieved June 3, 2021, from https://www.plannedparenthood.org/learn/teens/ask-experts/im-not-circumcised-and-i-wanted-to-know-what-the-difference-was-between-being-circumcised-and-not-being-circumcised-which-is-better 

Morris, B., Waskett, J., & Gray, R. (2011). Does sexual function survey in Denmark offer any support for male circumcision having an adverse effect?. International Journal Of Epidemiology, 41(1), 310-326. https://doi.org/10.1093/ije/dyr180

Bossio, J., Pukall, C., & Steele, S. (2016). Examining Penile Sensitivity in Neonatally Circumcised and Intact Men Using Quantitative Sensory Testing. Journal Of Urology, 195(6), 1848-1853. https://doi.org/10.1016/j.juro.2015.12.080

Bronselaer, G., Schober, J., Meyer-Bahlburg, H., T’Sjoen, G., Vlietinck, R., & Hoebeke, P. (2013). Male circumcision decreases penile sensitivity as measured in a large cohort. BJU International, 111(5), 820-827. https://doi.org/10.1111/j.1464-410X.2012.11761.x

Circumcision Policy Statement. (2012). PEDIATRICS, 130(3), 585-586. https://doi.org/10.1542/peds.2012-1989

Morris, B., & Hankins, C. (2017). Effect of male circumcision on risk of sexually transmitted infections and cervical cancer in women. The Lancet Global Health, 5(11), e1054-e1055. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(17)30386-8

Morris, B. J., Hankins, C. A., Lumbers, E. R., Mindel, A., Klausner, J. D., Krieger, J. N., & Cox, G. (2019). Sex and Male Circumcision: Women’s Preferences Across Different Cultures and Countries: A Systematic Review. Sexual medicine, 7(2), 145–161. https://doi.org/10.1016/j.esxm.2019.03.003

Morris, B. J., Krieger, J. N., & Klausner, J. D. (2017). CDC’s Male Circumcision Recommendations Represent a Key Public Health Measure. Global health, science and practice, 5(1), 15–27. https://doi.org/10.9745/GHSP-D-16-00390

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 03/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x