home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Positif HIV Ketika Hamil, Haruskah Melahirkan Lewat Caesar?

Positif HIV Ketika Hamil, Haruskah Melahirkan Lewat Caesar?

Kalau saat hamil ibu didiagnosis positif dengan HIV, ada berbagai hal yang harus dipertimbangkan agar seluruh kehamilan hingga proses persalinan tetap lancar. Nah, salah satu hal yang paling membuat calon ibu dan ayah khawatir mungkin adalah proses persalinannya nanti. Kira-kira apakah ibu hamil yang positif HIV harus melahirkan lewat operasi caesar atau bisa melahirkan normal? Simak ulasan lengkap soal persalinan ibu hamil dengan HIV berikut ini.

Mengenal HIV/ AIDS pada ibu hamil

Human immunodeficiency virus atau HIV adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, termasuk ibu hamil.

Nah, bayi yang dikandung oleh ibu yang positif HIV bisa tertular juga. Entah saat kehamilan, persalinan, atau ketika menyusui. Karena itu, biasanya dokter akan memberikan pengobatan antivirus khusus dengan jenis yang berbeda-beda.

Obat-obatan tersebut harus selalu dikonsumsi secara rutin, termasuk beberapa saat menjelang persalinan dan saat persalinan itu sendiri. Ini karena saat persalinan, bayi sangat rentan tertular virus dari ibu.

Ibu hamil yang positif HIV sebaiknya melahirkan normal atau caesar?

Ada yang bilang, ibu hamil yang positif HIV sebaiknya melahirkan lewat operasi caesar saja karena lebih aman. Pada kenyataannya, ibu hamil dengan HIV/ AIDS masih punya kesempatan untuk melahirkan normal, yaitu melalui vagina.

Bila ibu hamil ingin melahirkan normal, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Syaratnya antara lain:

  • Sudah minum obat antivirus sejak usia kehamilan 14 minggu atau kurang.
  • Kondisi viral load kurang dari 10.000 kopi/ml. Viral load sendiri yaitu jumlah partikel virus dalam 1 ml atau 1 cc darah. Semakin banyak jumlah partikel virus dalam darah berarti semakin tinggi risiko Anda untuk menularkan virus dan mengalami komplikasi HIV.

Saat melahirkan normal, ibu bersalin dengan viral load yang tinggi biasanya akan diberikan infus berisi obat zidovudine. Namun, rencana persalinan Anda masih bisa berubah-ubah tergantung pada kondisi tubuh ibu dan bayinya.

Pilihan ini juga harus Anda diskusikan dengan dokter kandungan, bidan, dan keluarga. Pasalnya, kebanyakan dokter akan menyarankan ibu bersalin untuk menjalani persalinan caesar kalau angka viral load-nya berada di atas 4.000 kopi/ml.

Menurut berbagai penelitian, kelahiran dengan operasi caesar memang bisa menurunkan risiko penularan HIV/ AIDS dari ibu ke bayi saat persalinan. Terutama jika viral load ibu menjelang persalinan terhitung tinggi.

Berdasarkan data yang diperoleh dari American College of Obstetricians and Gynecologist, operasi sesar dianjurkan untuk dilakukan sebelum kehamilan berusia 39 minggu. Sedangkan pada ibu hamil dengan HIV, dianjurkan untuk melakukan operasi caesar saat kehamilan berusia 38 minggu.

Selain itu, pada operasi caesar bisa juga diberikan antibiotik untuk mecegah infeksi pasca melahirkan pada ibu dengan HIV. Ini karena wanita yang positif HIV punya kekebalan tubuh yang melemah sehingga lebih rentan kena infeksi. Antibiotik ini dapat diberikan sebelum operasi dilakukan dan sesudahnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. PEDOMAN NASIONAL PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA). Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. 2011.
  2. Revised Recommendations for HIV Testing of Adults, Adolescents, and Pregnant Women in Health-Care Settings. Annals of Emergency Medicine. 2007;49(5):575-577.
  3. Harrison T, Wiener C, Brown C, Hemnes A. Harrison’s principles of internal medicine. New York: McGraw-Hill Medical; 2012.
  4. Fauci AS. Pathogenesis of HIV Disease: Opportunities for New Prevention Interventions. Clinical Infectious Disease, Maryland. 2007;45:S206-12.
  5. Loutfy MR et al. Canadian HIV Pregnancy Planning Guidelines. Journal Obstetric Gynaecology Canada. June 2012;34(6):575-90.
  6. Money D et al. Guidelines for the Care of Pregnant Women Living With HIV and Interventions to Reduce Perinatal Transmission: Executive Summary. Journal Obstetric Gynaecology Canada. August 2014;36(8):721-34.
  7. Ruiter A, et al. British HIV AssociationGuidelines for the Management of HIV Infection in Pregnant Women. HIV Medicine. 2014;15(4):1-77.
  8. Comitte Opinion. Scheduled Caesarean Delivery and The Prevention of Vertical Transmission of HIV Infection.ACOG. 2000; 219
  9. Sebitloane, et al. Is There Still A Role For Caesarean Section In Preventing Vertical HIV Transmission In The Era Of Highly Active Antiretroviral Therapy? .Medpharm. 2013; 55 (2): 1-5
  10. UNAIDS Indonesia. HIV and AIDS Estimates. 2015. Cited from : http://www.unaids.org/en/regionscountries/countries/indonesia
  11. Gaur AH, Dominguez KL, Kalish ML, et al. Practice of feeding premasticated food to infants: a potential risk factor for HIV transmission. Pediatrics. 2009;124(2):658-666.
  12. Panel on Treatment of HIV-Infected Pregnant Women and Prevention of Perinatal Transmission. Recommendations for use of antiretroviral drugs in pregnant HIV-1-infected women for maternal health and interventions to reduce perinatal hiv transmission in the united states. [Internet]. [cited 2016 Aug 26]. Available from: http://aidsinfo.nih.gov/contentfiles/lvguidelines/PerinatalGL.pdf
  13. Aditama T. Pedoman Nasional Tata Laksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh dr. Ivena
Tanggal diperbarui 18/11/2017
x