5 Tips yang Perlu Anda Lakukan saat Bercinta dengan Penderita HIV

    5 Tips yang Perlu Anda Lakukan saat Bercinta dengan Penderita HIV

    Bercinta dengan penderita HIV merupakan tantangan tersendiri bagi yang melakukannya. Ini karena aktivitas seksual merupakan salah satu penyebaran utama penyakit ini. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui tips bercinta dengan penderita HIV agar tidak tertular. Simak penjelasannya di bawah ini.

    Tips bercinta dengan penderita HIV

    Ketika didiagnosis dengan human immunodeficiency virus atau HIV, Anda mungkin tidak kepikiran akan berhubungan seksual lagi.

    Beberapa orang pun menganggap berhubungan seksual adalah aktivitas yang terlalu berisiko bagi penderita HIV dan pasangan.

    Padahal, dikutip dari situs U.S Department of Veterans Affairs, penderita HIV masih tetap jatuh cinta dan melakukan hubungan seksual seperti orang lainnya.

    Namun, mereka memang harus menerapkan seks yang dua kali lebih aman daripada yang lain. Simak berbagai tips bercinta dengan penderita HIV berikut ini.

    1. Ketahuilah sejarah seks pasangan Anda

    Apa itu seks

    Beberapa orang merasa bahwa sangat sulit untuk membicarakan mengenai penyakit mereka pada pasangan.

    Namun, sangatlah penting untuk Anda dan pasangan untuk berbagi dengan satu sama lain mengenai sejarah seks masing-masing.

    Anda harus memastikan bahwa pasangan seks Anda belum pernah melakukan hubungan seks dengan siapapun yang memiliki HIV.

    Anda bahkan dapat memintanya untuk menunjukkan hasil pemeriksaan jika Anda memiliki keraguan bahwa pasangan seks Anda memiliki HIV.

    Selain itu, Anda harus jujur jika Anda memiliki HIV kepada pasangan seks Anda. Hal ini membantu Anda berdua untuk melakukan seks yang aman.

    2. Selalu gunakan pengaman

    cara memakai kondom

    Seks tanpa kondom hanya boleh dilakukan jika Anda berada dalam hubungan monogami yang dapat dipastikan setia, di mana Anda berdua tidak terinfeksi HIV atau penyakit menular seksual lainnya.

    Oleh sebab itu, tips bercinta dengan penderita HIV selanjutnya adalah pastikan Anda atau pasangan menggunakan pengaman.

    Perlu diketahui, kondom merupakan bagian terpenting dalam pencegahan HIV.

    Seks yang terlindungi merupakan cara yang sangat baik untuk melindungi Anda dan pasangan jika salah satu dari Anda memiliki infeksi HIV.

    Tentu saja, sangatlah mudah untuk mengatakan, “Satu kali saja tak pakai kondom mungkin tak apa-apa,” tetapi hanya diperlukan satu kesempatan tersebut untuk dapat terinfeksi.

    Pilihan kontrasepsi yang bisa digunakan antara lain:

    • kondom pria,
    • kondom wanita,
    • atau dental dam (dapat digunakan untuk hubungan seks antara wanita-wanita, pria-wanita, dan pria-pria).

    3. Gunakan pelumas

    Pelumas vagina

    Tips bercinta dengan penderita HIV selanjutnya adalah penggunaan pelumas. Pasalnya, itu bisa membantu Anda mempraktekkan seks aman.

    Ketika Anda menggunakan kondom, alat kontrasepsi itu bisa saja rusak dan menimbulkan berbagai risiko, termasuk penularan HIV.

    Cara terbaik untuk mencegah kerusakan kondom adalah dengan mengurangi tekanan pada kondom, menggunakan pelumas.

    Gunakan selalu pelumas berbasis air karena pelumas lainnya dapat merusak karet lateks kondom dan membuat Anda berisiko.

    Pelumas terutama penting dalam hubungan seks secara anal karena pelumas tidak hanya melindungi tubuh Anda dari sobekan, tetapi juga melindungi kondom.

    Hubungan seks secara anal memberikan lebih banyak tekanan pada kondom dibandingkan dengan hubungan seks secara vaginal.

    4. Minum obat PEP setelah seks berisiko

    obat BAB berdarah

    Tips jika Anda bercinta dengan penderita HIV adalah segera konsumsi PEP.

    PEP atau post-exposure prophylaxis merupakan obat untuk mencegah HIV setelah kemungkinan penularan.

    Jika Anda HIV-negatif atau tidak tahu status HIV Anda dan merasa telah berhubungan seks berisiko (misalnya kondom rusak), segera hubungi dokter.

    Dokter akan segera memberikan PEP dalam waktu tiga hari. Semakin cepat Anda mengonsumsi PEP, semakin rendah risiko terpapar HIV.

    Jika diberikan resep PEP, Anda harus meminumnya setiap dari selama 28 hari berturut-turut.

    Meskipun begitu, situs pelayanan HIV Amerika Serikat atau HIV.gov menyatakan bahwa Anda tidak memiliki risiko tertular HIV jika pasangan Anda yang HIV-positif minum obat antivirus sesuai resep.

    5. Lakukan tes bersama-sama secara rutin

    Pendidikan seks cegah HIV/AIDS

    Melakukan tes HIV secara rutin dapat membantu Anda dan pasangan tetap aman.

    Saling melindungi jika Anda berisiko merupakan suatu hal yang dilakukan oleh pasangan yang baik.

    Beberapa pasangan bisa berbohong bahwa mereka sudah dites atau berbohong mengenai hasil tesnya. Jadi, jalan terbaik adalah dengan melakukan tes bersama-sama.

    Setelah membaca berbagai tips bercinta dengan penderita HIV di atas, Anda mungkin berpikir bahwa menjadi pasangan penderita HIV adalah hal yang berat.

    Meskipun sangat sulit untuk tetap melakukan hubungan seks dengan seseorang yang memiliki HIV, ingatlah bahwa Anda masih bisa menjalani hidup dengan normal.

    Berada di samping seseorang yang memiliki HIV dapat menjadi pengalaman yang paling berpengaruh dalam hidup Anda.

    Janganlah menyerah karena mungkin saja Anda adalah alasan seseorang untuk mempertahankan hidup mereka yang penuh makna.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    VA.gov | Veterans Affairs. (2021). Retrieved 5 July 2021, from https://www.hiv.va.gov/patient/daily/sex/single-page.asp

    HIV and women – having children – Better Health Channel. (2021). Retrieved 5 July 2021, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/HIV-and-women-having-children

    Preventing Sexual Transmission of HIV. (2021). Retrieved 5 July 2021, from https://www.hiv.gov/hiv-basics/hiv-prevention/reducing-sexual-risk/preventing-sexual-transmission-of-hiv

    Sex and HIV. (2015). Retrieved 5 July 2021, from https://www.avert.org/hiv-transmission-prevention/unprotected-sex

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui Jul 05, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.