Apa yang Terjadi Pada Anak Dari Hubungan Perkawinan Sedarah?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Mamalia, kebanyakan hewan lainnya, dan beberapa tanaman tertentu, telah berevolusi untuk menghindari perkawinan sedarah, alias incest, dalam bentuk apapun. Beberapa lainnya, seperti buah ceri merah, bahkan berevolusi secara biokimiawi kompleks untuk memastikan bahwa bunga mereka tidak dapat dibuahi oleh mereka sendiri atau oleh individu lain yang mirip secara genetik.

Kebanyakan hewan gerombolan (seperti singa, primata, dan anjing) mendepak para jantan muda dari kumpulannya guna menghindari perkawinan sedarah dengan saudara betinanya. Bahkan lalat buah memiliki mekanisme penginderaan untuk menghindari kemungkinan perkawinan sedarah di kelompoknya, sehingga di populasi tertutup pun mereka mempertahankan lebih banyak keanekaragaman genetik dari yang seharusnya dengan perkawinan acak.

Perkawinan antar saudara dan antara orangtua dan anak adalah hal yang terlarang di setiap kebudayaan manusia — dengan sejumlah pengecualian yang sangat terbatas. Secercah gagasan untuk berhubungan seks dengan kakak atau adik kandung, atau orangtua atau anak sendiri, adalah bayangan yang sangat mengerikan — hampir tidak pernah terbayangkan, bahkan — bagi sebagian besar orang. Dilansir dari Psychology Today, psikolog Jonathan Haidt menemukan bahwa hampir setiap orang menolak dengan keras prospek hubungan seksual antara kakak-adik, bahkan dalam situasi imajiner tidak ada kemungkinan kehamilan.

Mengapa makhluk hidup menghindari perkawinan sedarah, alias incest? Karena pada umumnya, hubungan sedarah berdampak sangat buruk bagi populasi atau keturunan dari hasil perkawinan tersebut.

Keturunan dari perkawinan sedarah berpeluang sangat tinggi untuk lahir dengan cacat bawaan serius

Perkawinan sedarah, alias incest, adalah sistem perkawinan antar dua individu yang terkait erat secara genetik atau garis keluarga, di mana kedua individu yang terlibat dalam perkawinan ini membawa alel yang berasal dari satu nenek moyang.

Incest dianggap sebagai masalah kemanusiaan karena praktik ini membuka kesempatan yang lebih besar bagi keturunannya untuk menerima alel resesif merusak yang dinyatakan secara fenotip. Fenotip adalah deskripsi karakteristik fisik Anda yang sebenarnya, termasuk karakteristik yang tampak sepele, seperti tinggi badan dan warna mata, juga kesehatan tubuh secara keseluruhan, riwayat penyakit, perilaku, serta watak dan sifat umum Anda.

Singkatnya, seorang keturunan dari perkawinan sedarah akan memiliki keragaman genetik yang sangat minim dalam DNA-nya karena DNA turunan dari ayah dan ibunya adalah mirip. Kurangnya variasi dalam DNA dapat berdampak buruk bagi kesehatan Anda, termasuk peluang mendapatkan penyakit genetik langka — albinisme, fibrosis sistik, hemofilia, dan sebagainya.

Efek lain dari perkawinan sedarah termasuk peningkatan infertilitas (pada orangtua dan keturunannya), cacat lahir seperti asimetri wajah, bibir sumbing, atau kekerdilan tubuh saat dewasa, gangguan jantung, beberapa tipe kanker, berat badan lahir rendah, tingkat pertumbuhan lambat, dan kematian neonatal. Satu studi menemukan bahwa 40 persen anak hasil hubungan sedarah antara dua individu tingkat pertama (keluarga inti) lahir dengan kelainan autosomal resesif, malformasi fisik bawaan, atau defisit intelektual yang parah.

Keturunan dari perkawinan sedarah akan mewariskan penyakit yang sama

Setiap orang memiliki dua set 23 kromosom, satu set dari ayah dan yang lainnya diwariskan dari ibu (total 46 kromosom). Setiap set kromosom memiliki set genetik yang sama — berfungsi untuk membangun Anda — artinya Anda memiliki satu salinan dari setiap gen. Poin terpenting dari yang membuat setiap manusia berbeda dan unik adalah salinan gen dari ibu bisa sangat bertolak belakang dari salinan yang Anda dapat dari ayah Anda.

Misalnya, gen yang membuat rambut Anda berwarna hitam terdiri dari satu versi berwarna hitam dan non-hitam (versi berbeda inilah yang disebut alel). Gen pembuat pigmen warna kulit (melanin) terdiri dari satu versi normal dan yang satunya cacat. Jika Anda hanya memiliki gen pembuat pigmen yang rusak, Anda akan memiliki albinisme (defisiensi pigmen warna kulit).

Memiliki dua pasang gen adalah sistem yang brilian. Karena, jika satu salinan gen Anda rusak (seperti contoh di atas), Anda masih memiliki salinan gen sebagai cadangan. Sebenarnya, individu yang memiliki hanya satu gen rusak tidak otomatis memiliki albinisme, karena salinan yang ada akan memproduksi cukup melanin untuk menutupi kekurangan.

Akan tetapi, orang-orang yang memiliki satu gen rusak masih dapat mewarisi gen tersebut pada keturunannya nanti — disebut ‘carrier’, karena mereka membawa salinan tunggal namun tidak memiliki penyakit tersebut. Disinilah masalah akan mulai timbul bagi keturunan incest.

Jika, misalnya, seorang wanita adalah carrier gen rusak, maka ia memiliki 50 persen pula untuk menurunkan gen ini ke anaknya. Biasanya, hal ini tidak akan menjadi masalah selama ia mencari pasangan yang memiliki dua pasang gen sehat, sehingga keturunan mereka akan hampir pasti akan mendapatkan setidaknya satu salinan gen sehat. Tetapi pada kasus incest, besar kemungkinannya pasangan Anda (yang merupakan kakak atau adik Anda, misalnya) membawa jenis gen rusak yang sama, karena diturunkan dari orangtua Anda berdua. Jadi, jika mengambil contoh kasus albinisme, artinya Anda berdua sebagai orangtua adalah carrier dari gen pembuat melanin yang rusak. Anda dan pasangan Anda masing-masing memiliki 50 persen peluang untuk mewariskan gen rusak pada anak Anda, sehingga nanti keturunan Anda memiliki 25 persen peluang memiliki albinisme — tampak remeh, namun angka ini sebenarnya sangat tinggi.

Memang, tidak semua orang yang memiliki albinisme (atau penyakit langka lainnya) pasti merupakan produksi dari perkawinan sedarah. Setiap orang memiliki lima atau sepuluh gen rusak bersembunyi di DNA mereka. Dengan kata lain, takdir juga memainkan peran saat Anda memilih pasangan, apakah mereka akan membawa gen yang rusak sama seperti Anda atau tidak.

Namun untuk kasus incest, risiko Anda berdua membawa gen rusak menjadi sangat tinggi. Setiap keluarga kemungkinan besar memiliki gen penyakit tersendiri (misalnya diabetes), dan perkawinan sedarah adalah kesempatan bagi dua orang carrier dari gen rusak untuk mewarisi dua salinan gen yang rusak kepada anak-anaknya. Pada akhirnya, keturunan mereka dapat memiliki penyakit tersebut.

Kurang variasi DNA, sistem tubuh melemah

Peningkatan risiko ini juga dipengaruhi oleh pelemahan sistem imun tubuh yang dialami anak-anak dari orangtua sedarah akibat kurangnya variasi DNA.

Sistem kekebalan tubuh tergantung pada komponen penting dari DNA yang disebut Major Histocompatibility Complex (MHC). MHC terdiri dari sekelompok gen yang bertugas sebagai penangkal penyakit.

Kunci agar MHC bisa bekerja dengan baik melawan penyakit adalah memiliki keanekaragaman tipe alel sebanyak mungkin. Semakin beragam alel Anda, semakin baik tubuh memerangi penyakit. Keberagaman penting karena setiap gen MHC berfungsi melawan penyakit yang berbeda-beda. Selain itu, setiap alel dari MHC dapat membantu tubuh mendeteksi berbagai jenis material asing yang menyusup ke dalam tubuh.

Saat Anda terlibat dalam perkawinan sedarah dan memiliki keturunan dari hubungan tersebut, anak-anak Anda akan memiliki rantai DNA yang tidak variatif. Yang artinya, anak-anak hasil hubungan incest memiliki alel MHC yang sedikit jumlahnya atau keragamannya. Memiliki alel MHC yang terbatas akan membuat tubuh kesulitan mendeteksi beragam material asing, sehingga individu tersebut akan lebih cepat jatuh sakit karena sistem imun tubuhnya tidak dapat bekerja optimal untuk memerangi beragam jenis penyakit. Hasilnya, orang yang sakit-sakitan.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

Periksa gigi bisa jadi pengalaman yang menyenangkan, kok. Agar anak tidak takut ke dokter gigi, contek saja beragam tips pintar berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Kelainan Darah

Kelainan darah atau gangguan hematologi adalah penyakit yang mempengaruhi kuantitas dan fungsi darah. Apa saja penyakit dari kelainan ini?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Kelainan Darah, Penyakit Kelainan Darah Lainnya 8 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Radiasi dari TV cembung zaman dulu memang mungkin merusak mata. Namun apakah efek yang sama dihasilkan dari perangkat televisi modern?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Penyakit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Luka Tertusuk

Karena jenis luka ini mudah tertutup, luka tusuk kerap menimbulkan infeksi jika tidak cepat diobati. Inilah pertolongan pertama untuk luka tusuk.

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Pertolongan Pertama, Hidup Sehat 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

berat dan tinggi badan ideal anak 6-9 tahun

Berat dan Tinggi Badan Ideal Anak Usia 6-9 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
obat mual anak cara mengatasi mual anak

Daftar Obat Mual untuk Anak, Mulai dari Resep Dokter Sampai Perawatan di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
manfaat sering menangis

Ini Alasan Orang yang Sering Menangis, Justru Mentalnya Sekuat Baja

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
obat pilek bayi

Pilihan Obat Pilek yang Bisa Diberikan pada Anak dan Bayi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit