Meninggal dengan Mata Terbuka dan Tertutup, Apa Penyebabnya?

    Meninggal dengan Mata Terbuka dan Tertutup, Apa Penyebabnya?

    Tidak sedikit masyarakat yang memperdebatkan bahwa meninggal dengan mata tertutup lebih baik dibandingkan meninggal mata terbuka.

    Namun, benarkah demikian? Sebenarnya, apa penyebab seseorang meninggal dengan mata terbuka dan tertutup?

    Mengapa seseorang meninggal dengan mata terbuka?

    Tak semua orang yang meninggal dengan kondisi mata langsung tertutup. Terkadang seseorang meninggal dengan mata terbuka.

    Ketidakmampuan seseorang dalam menutup mata dapat disebabkan oleh kondisi vegetatif atau mati otak.

    Kondisi vegetatif ini merupakan salah satu tanda cedera otak yang biasanya diakibatkan oleh kecelakaan, cedera olahraga, dan kekerasan.

    Hal ini sangat mungkin terjadi pada orang mengalami mata terbuka saat mengembuskan napas terakhir.

    Sebagian orang yang meninggal dengan mata terbuka mungkin lama-kelamaan matanya akan menutup sendiri, atau bisa ditutup, karena otot di sekitar mata akan semakin melemah.

    Namun, tak sedikit juga yang sulit ditutup, sampai harus diletakkan koin pada kelopak mata untuk menjaga agar tidak terbuka kembali.

    Sebenarnya, kondisi mata terbuka ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan karakter seseorang sebelum meninggal.

    Secara medis, mata terbuka yang sulit ditutup saat meninggal berkaitan dengan adanya masalah pada saraf dan otot di sekitar mata.

    Pada saat seseorang tidur, sekarat, atau meninggal, semua otot di tubuh menjadi rileks, kondisi ini disebut dengan istilah flaccidity primer.

    Pada flaccidity prime, kelopak mata kehilangan ketegangannya, pupil melebar, rahang mungkin terbuka, dan sendi serta anggota tubuh menjadi lemas.

    Mengapa seseorang meninggal dengan mata tertutup?

    tanda-tanda orang meninggal dunia

    Anda mungkin lebih sering menemukan orang meninggal dengan mata tertutup daripada mata terbuka.

    Hal ini cukup lumrah, sekitar 63% orang meninggal dengan mata tertutup, secara spontan maupun perlahan-lahan.

    Fenomena kondisi mata tertutup pada meninggal tertutup ini disebut ptosis.

    Menurut American Academy of Ophthalmology, definisi ptosis secara umum merupakan kondisi jatuhnya atau menutupnya kelopak mata sebagian atau seluruhnya.

    Kondisi ini juga dapat terjadi pada orang yang masih hidup dikarenakan stroke atau penyakit tertentu yang melibatkan persarafan pada struktur mata.

    Namun kondisi ptosis ini juga dapat terjadi pada orang yang meninggal secara spontan.

    Menutupnya kelopak mata atau ptosis ini dapat terjadi secara minimal (1 – 2 mm), secara sedang (3 – 4 mm), maupun secara berat (> 4 mm), atau bahkan dapat menutup sepenuhnya.

    Ptosis dapat terjadi sejak lahir ataupun sepanjang hidup hingga seseorang meninggal.

    Kondisi ini juga dapat terjadi pada satu sisi mata saja maupun keduanya.

    Kenapa mata tidak langsung menutup?

    Normalnya, saraf pada mata menjadi lebih rileks secara perlahan saat seseorang tidur atau meninggal. Ini menyebabkan kelopak mata tidak langsung menutup secara spontan.

    Penyebab lain meninggal mata terbuka atau tertutup

    setelah meninggal

    Belum ada penelitian memadai yang menunjukkan penyebab orang meninggal dengan mata terbuka maupun tertutup.

    Namun, riwayat kesehatan menjelang kematian yang dimiliki dan keterlambatan pengiriman sinyal dari sistem saraf pusat ke saraf optikus dapat menentukan apakah mata akan terbuka atau tertutup saat meninggal.

    Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab seseorang mengalami keterlambatan sinyal dari sistem saraf pusat ke saraf optikus saat menutup usia.

    1. Tumor

    Tumor merupakan benjolan yang terdiri atas kumpulan jaringan abnormal yang padat dan berisi cairan.

    Keberadaan tumor, dapat menekan saraf atau mengganggu kinerja organ pada tubuh yang terjangkiti.

    Tumor yang kemungkinan dapat menyebabkan seseorang mengalami mata terbuka saat tak lagi bernapas adalah tumor otak dan tumor pada organ pencernaan.

    Pasalnya, 2 area ini memegang peranan penting dalam menjalankan fungsi tubuh manusia, terutama pada bagian saraf di otak.

    2. Kanker

    Meski kemungkinannya kecil, seseorang yang menderita kanker dan tumor juga berpotensi membuat mata tak langsung menutup saat meninggal.

    Terlebih, kanker yang dialami, misalnya kanker otak dan paru-paru, belum mendapatkan penanganan hingga orang tersebut meninggal dunia.

    Kanker otak adalah tumor ganas yang dapat menyebar sangat cepat ke jaringan lain dan sistem saraf pusat.

    Sistem saraf yang terganggu dapat menyebabkan seseorang kesulitan mengendalikan bagian tubuhnya, termasuk kelopak mata.

    3. Cedera otak

    Cedera otak dapat mengakibatkan seseorang mengalami edema otak, kekurangan suplai darah dan oksigen ke otak, hingga kondisi vegetatif.

    Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan aktivitas pada saraf-saraf di otak, yang selanjutnya akan memengaruhi aktivitas fisik, metabolisme, hingga fungsi sel-sel saraf di otak itu sendiri.

    Besar kemungkinan juga hal ini akan menentukan seseorang meninggal dengan mata terbuka atau tertutup.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Brain death . (2017). Retrieved 2 September 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/brain-death/

    The physical process of dying. (2022). Retrieved 2 September 2022, from https://www.healthdirect.gov.au/the-physical-process-of-dying

    What Is Ptosis?. (2022). Retrieved 2 September 2022, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-ptosis

    Macleod, A. (2009). Eyelid closure at death. Indian Journal Of Palliative Care, 15(2), 108. doi: 10.4103/0973-1075.58454

    Focardi, M., Gualco, B., Scarpino, M., Bonizzoli, M., Defraia, B., & Carrai, R. et al. (2022). Eye-opening in brain death: A case report and review of the literature. Clinical Neurophysiology Practice, 7, 139-142. doi: 10.1016/j.cnp.2022.03.006

    Understanding the dying process. (2022). Retrieved 2 September 2022, from https://www.healthywa.wa.gov.au/Articles/U_Z/Understanding-the-dying-process

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany Diperbarui Oct 18
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan