Apa yang Terjadi pada Tubuh Manusia Setelah Meninggal?

    Apa yang Terjadi pada Tubuh Manusia Setelah Meninggal?

    Tidak seperti bayangan banyak orang, kematian ialah sebuah proses alami yang menakjubkan, yang tidak terhenti hanya saat seseorang mengembuskan napas terakhirnya. Setelah meninggal, tubuh perlahan-lahan terurai dan masih dipenuhi kehidupan. Tak percaya? Ini dia buktinya!

    Tahapan yang terjadi pada tubuh setelah meninggal

    Membicarakan kematian bukanlah hal yang mudah. Kehilangan seseorang karena kematian merupakan pengalaman yang getir. Belum lagi keresahan tiap orang akan datangnya kematian.

    Tubuh manusia akan mengalami sejumlah perubahan fisik setelah kematian. Tahapan yang dijelaskan dari sisi sains ini dimulai dari hitungan menit, jam, hari, hingga tahun.

    Berikut ini penjelasan dari masing-masing tahapan setelah meninggal untuk Anda ketahui.

    1. Beberapa menit setelah meninggal

    tanda-tanda orang meninggal dunia

    Aktivitas otak, aliran darah, dan pernapasan akan berhenti pada detik-detik pertama seseorang meninggal dunia.

    Darah yang sebelumnya mengalir ke seluruh organ-organ tubuh akan tergenang dan menggumpal pada bagian tubuh tertentu. Organ tubuh, seperti jantung, ginjal, dan hati, juga berhenti berfungsi.

    Akan tetapi, beberapa sel dan jaringan dalam tubuh Anda tidak akan langsung mati. Bagian tubuh ini masih bisa hidup dalam beberapa menit setelah kematian.

    Hal ini membuka peluang untuk melakukan donor organ, seperti kornea mata, tergantung dengan kondisi fisik orang tersebut sebelum meninggal.

    2. Beberapa jam setelah meninggal

    Pada akhirnya, sel-sel tubuh akan mati karena tak ada lagi asupan oksigen. Lalu, kalsium yang menumpuk pada otot membuat badan kaku (atau disebut juga rigor mortis) beberapa jam setelah meninggal.

    Namun, tubuh akan kembali lemas setelah 36 jam hingga dua hari sesudahnya. Pelemasan otot ini memicu keluarnya sisa racun dan cairan dari tubuh, persis seperti saat Anda buang air.

    Setelah meninggal, kulit akan mengering dan keriput selang beberapa jam. Kuku jari tangan dan kaki tampak seolah tumbuh, padahal ini sebenarnya akibat kulit yang kian mengerut dan menyusut.

    Gaya gravitasi akan menarik darah ke bawah. Inilah yang menyebabkan perubahan warna kulit menjadi merah keunguan atau lebam setelah meninggal, terutama di tempat darah menggenang.

    3. Beberapa hari setelah meninggal

    proses pembusukan mayat

    Beberapa hari setelah meninggal, tubuh akan memproduksi zat pengurai alami, yakni kadaverin dan putresin. Kedua zat pengurai ini menghasilkan bau tak sedap dan cukup menyengat.

    Kadar keasaman akan meningkat drastis setelah tubuh mati dan berhenti berfungsi. Enzim dari asam amino dalam tubuh pun mulai mencerna atau mengurai organ-organ tubuh.

    Pada umumnya, proses pembusukan mayat dimulai dari hati yang kaya akan enzim. Proses ini kemudian berlanjut otak, hingga akhirnya terjadi pada seluruh bagian tubuh.

    Bakteri akan berkembang pesat karena tingginya kadar zat pengurai dan enzim. Koloni bakteri ini makan dari tubuh jenazah sehingga proses penguraian jadi lebih cepat.

    4. Beberapa minggu setelah meninggal

    Bukan hanya koloni bakteri yang “menghidupkan” tubuh yang sudah tak berfungsi. Berbagai makhluk hidup lain, seperti belatung, juga akan mendiami tubuh orang yang sudah mati.

    Studi dari Australian Museum menemukan belatung mampu menghabiskan 60% tubuh manusia dalam waktu seminggu. Namun, ini juga bergantung pada kondisi lingkungan di sekitarnya.

    Rambut dan bulu halus yang tadinya berakar dalam kulit akan mulai rontok. Selama itu juga, koloni bakteri akan terus mengonsumsi bagian tubuh yang tersisa.

    Sekujur badan jenazah akan berubah warna dari keunguan sampai akhirnya menghitam.

    5. Beberapa bulan dan tahun setelah meninggal

    Berbulan-bulan setelah meninggal, tubuh akan terus diuraikan oleh berbagai organisme sampai pada akhirnya tinggal kerangka manusia saja yang tersisa.

    Untuk mencapai tahap ini, dibutuhkan waktu kira-kira empat bulan. Namun, kalau seseorang dimakamkan dalam sebuah peti, proses ini butuh waktu sampai bertahun-tahun lamanya.

    Pada akhirnya, kematian ialah sebuah proses alami yang justru penuh dengan kehidupan baru. Kehidupan baru maksudnya berbagai organisme menyerap tubuh yang telah terurai sebagai sumber energi.

    Pakar neurobiologi asal Inggris, Moheb Costandi, seperti dikutip dari BBC, bahkan menjelaskan sel-sel dan jaringan tubuh akan melepaskan berbagai zat bernutrisi ke dalam tanah tempat orang tersebut disemayamkan.

    Hal ini membuat tanah tersebut kian subur dan kaya zat hara. Hasilnya, tanaman yang tumbuh di sekitarnya menjadi lebih sehat dan rimbun. Menakjubkan sekali, bukan?

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Death: What Happens When You Die. Cleveland Clinic. (2022). Retrieved 16 August 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/23144-what-happens-when-you-die

    The physical process of dying. Healthdirect Australia. (2021). Retrieved 16 August 2022, from https://www.healthdirect.gov.au/the-physical-process-of-dying

    Costandi, M. (2015). What happens to our bodies after we die?. BBC. Retrieved 16 August 2022, from https://www.bbc.com/future/article/20150508-what-happens-after-we-die

    What Can Be Donated?. Organ Donor – Health Resources & Services Administration. (2021). Retrieved 16 August 2022, from https://www.organdonor.gov/learn/what-can-be-donated

    Putrescine and Cadaverine. American Chemical Society. (2011). Retrieved 16 August 2022, from https://www.acs.org/content/acs/en/molecule-of-the-week/archive/p/putrescine.html

    Stages of decomposition. Australian Museum. (2022). Retrieved 16 August 2022, from https://australian.museum/learn/science/stages-of-decomposition/

    Aitkenhead-Peterson, J. A., Owings, C. G., Alexander, M. B., Larison, N., & Bytheway, J. A. (2012). Mapping the lateral extent of human cadaver decomposition with soil chemistry. Forensic science international, 216(1-3), 127–134. https://doi.org/10.1016/j.forsciint.2011.09.007

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Sep 05
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.