Tahapan yang Terjadi Ketika Tubuh Sekarat Hingga Akhirnya Meninggal

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 22 Maret 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda melihat orang yang sedang dalam sekarat sebelum meninggal? Apa yang Anda pikirkan tentang kondisi sekarat? Umumnya orang akan mengalami sekarat meskipun dengan cara yang bisa berbeda-beda. Secara fisik, sekarat adalah cara normal dan alami di mana tubuh mempersiapkan diri untuk berhenti. Lalu berapa lama proses ini terjadi dan apa saja yang terjadi ketika tubuh sekarat? Simak di bawah ini.

Tubuh sekarat sebelum meninggal, ternyata hal yang normal

Waktu yang diperlukan dari sekarat hingga benar-benar meninggal akan berbeda pada tiap orang. Ada beberapa orang yang akan mengalami ketidaksadaran dahulu hingga beberapa hari selama proses sekarat, ada juga yang membutuhkan beberapa jam, dan bahkan ada juga yang tiba-tiba.

Kondisi lama atau tidaknya tubuh sekarat hingga meninggal tak bisa diprediksi. Ini tergantung dengan seberapa cepat tubuh mematikan semua ‘mesinnya’, dari berhenti berdetak hingga bernapas.

Kondisi lamanya sekarat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti seberapa parah penyakitnya, dan jenis pengobatan apa yang sedang dilakukan. Adapun beberapa ciri-ciri fisik menjelang kematian yang akan terjadi sebgaai pertanda.

Apa yang terjadi saat tubuh sekarat hingga meninggal?

Kondisi sekarat dari satu orang ke orang lainnya bisa berbeda-beda tapi ada beberapa pola yang biasanya terjadi secara umum.

Mematikan ‘mesin’ terluar

Mungkin Anda pernah mendengar jika kaki atau tangan sudah dingin ini pertanda ajal sudah dekat? Anggapan tersebut ada benarnya. Semakin mendekati kematian, tubuh akan mematikan “mesin-mesin” di dalam tubuh. Tubuh akan mematikannya dari bagian terluar dahulu dibandingkan organ paling vital, seperti detak jantung, aktivitas kimia di otak, dan pernapasan.

Alhasil, tubuh akan menurunkan sirkulasi darah yang dikirimkan ke anggota gerak, yaitu tangan dan kaki.  Dilansir dalam laman Palliative Care South Australia, menurunnya sirkulasi darah ini dimaksudkan untuk cadangan semua darah ke bagian vital, sehingga tangan dan kaki dikorbankan terlebih dahulu. Kondisi ini akan membuat tangan dan kaki akan terasa lebih dingin dibandingkan bagian tubuh lainnya.

Tak bisa lagi bernapas normal

Karena aliran darah menurun, tekanan darah pun akan semakin menurun menjelang kematian. Karena kondisi aliran darah dan tekanan darah, pernapasan pun mengalami perubahan. Biasanya ketika sekarat, seseorang akan bernapas dengan cepat beberapa kali dan diikuti dengan periode tidak bernapas. Kondisi ini dikenal sebagai pernapasan Cheyene-Stokes.

Selain pola nafas berubah, batuk juga bisa menjadi kejadian paling umum jelang kematian. Sebab, cairan tubuh semakin lama akan terbentuk dan terakumulasi di bagian faring. Tumpukan cairan ini bisa menimbulkan getaran pada pernafasan.

Perubahan warna kulit

Selain itu, semakin mendekati ajal terjadi perubahan pada kulit. Warna kulit berubah dari normalnya menjadi rona yang kusam dan lebih gelap. Warna jari di balik kuku juga bisa menjadi kebiruan dan terlihat seperti bukan rona normal warna kuku orang biasanya.

Menurunnya kemampuan sistem saraf

Orang yang mengalami sekarat juga biasanya tetap terjaga tapi tidak responsif. Hal ini terkait dengan kondisi sistem saraf pusat mereka. Sistem saraf pusat adalah sistem yang terkena dampak langsung dari proses tubuh sekarat. Yang termasuk bagian dari sistem saraf pusat adalah sel saraf, otak, dan sumsum tulang belakang.

Seringkali beberapa orang sebelum kematian akan mengalami koma. Orang yang koma diduga masih bisa mendengar apa yang dikatakan meskipun mereka tidak lagi merespon. Mereka juga diduga masih bisa merasakan sesuatu yang membuat mereka sakit, tapi lagi-lagi tidak bisa merespons secara lahiriah.

Telinga menjadi indera terakhir yang berfungsi

Telinga memang menjadi alat indera terakhir yang masih berfungsi sebelum kematian datang. Oleh karena itu, saat membisikan sesuatu di telinga orang yang sekarat mereka masih bisa mendengar meskipun tanpa respon. Alat indera lainnya seperti mata, kulit, lidah, hidung biasanya akan mengalami kerusakan lebih dahulu.

Setelah itu, jika pernapasan berhenti lalu akan diikuti dengan jantung berhenti, disitulah kematian akhirnya terjadi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sebenarnya, Program Keluarga Berencana (KB) Itu Apa, Sih?

Program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan oleh BKKBN terbukti turunkan angka kelahiran di Indonesia sejak tahun 1991. Apa lagi manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Seksual, Kontrasepsi 3 Maret 2019 . Waktu baca 8 menit

Hati-hati, Resistensi Antibiotik Bisa Sebabkan Kematian!

Resistensi antibiotik saat ini menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Cari tahu jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Infeksi 16 November 2018 . Waktu baca 4 menit

Hindari Melontarkan 5 Kalimat Ini Pada Mereka yang Sedang Berduka

Setiap orang yang sedang berduka butuh semangat untuk mengurangi kesedihan. Namun tidak semua kata-kata positif yang diucapkan itu pantas untuk mereka.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 10 September 2018 . Waktu baca 4 menit

5 Langkah Sehat untuk Menghadapi Kematian Hewan Peliharaan

Kematian hewan peliharaan yang disayang pasti membuat kita bersedih. Bagaimana cara menenangkan dan merelakan hati setelah ditinggal pergi hewan peliharaan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 7 Mei 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mempersiapkan kematian

Mendampingi Orang Terkasih Agar Tetap Tegar Sebelum Menemui Ajalnya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
sering memikirkan kematian

Sering Memikirkan Kematian, Normal atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 28 Januari 2020 . Waktu baca 5 menit
dampak kematian teman

Efek Psikologis yang Muncul Akibat Kematian Seorang Teman Dekat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 4 Oktober 2019 . Waktu baca 5 menit
membaik sebelum meninggal

Mengapa Ada Pasien yang Justru Terlihat Membaik Sebelum Meninggal?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 1 Juni 2019 . Waktu baca 4 menit