home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Gagap Tak Menghalangi Saya Jadi Penyiar Radio

Gagap Tak Menghalangi Saya Jadi Penyiar Radio

Tidak ada yang mau lahir dengan kondisi gagap. Namun, inilah takdir yang harus saya hadapi. Meski gagap, saya tidak pernah menyerah untuk menggapai mimpi dan cita-cita menjadi seorang penyiar radio. Inilah kisah saya sebagai pengidap gagap yang berhasil mengalahkan kekurangan dan jadi penyiar.

Menyadari gagap di masa sekolah

bullying kisah gagap jadi penyiar
Sumber: CNN

Perkenalkan, saya Aswin Dafry Prasetyo, seorang pengidap gagap. Saya lahir dari keluarga sederhana di Sidoarjo dan tumbuh seperti anak normal lainnya.

Gagap atau dikenal pula dengan istilah stuttering merupakan masalah ketidaklancaran bicara dalam bentuk pengucapan kata maupun aliran kalimat. Kondisi ini bisa dialami oleh anak-anak ataupun dewasa.

Sewaktu di sekolah dasar, saya merasa cara saya bicara sedikit berbeda dibanding teman lain. Kemampuan saya berbicara terasa ganjil dan sangat sulit bagi saya untuk mengucapkan sejumlah kata, terutama yang berawalan huruf A, B, dan G.

Perlu usaha keras bagi saya di waktu-waktu tertentu untuk mengucapkan kata-kata tersebut. Terlebih, saya juga kerap melakukan tic, yaitu gerakan atau ucapan berulang yang terjadi di luar kendali. Hal yang baru saya pahami kemudian hari.

Tapi saya tak terlalu ambil pusing dengan kondisi tersebut. Saya tetap menjalani hari-hari seperti biasanya, pergi ke sekolah, bermain, dan bersenda gurau dengan keluarga dan teman yang lain.

Saya baru menyadari bahwa kondisi yang saya alami ini disebut gagap di usia 12 tahun. Saat masuk sekolah menengah pertama dan bertemu banyak teman baru, mereka menyebut saya, gagap.

“Gagap, nih, gagap!” ucap mereka setelah mendengar saya berbicara.

Mulai hari itu rasanya kehidupan saya berubah. Saya menjadi bahan ejekan teman-teman karena kesulitan berbicara yang saya alami.

Sebelumnya saya tidak pernah mempermasalahkan kondisi ini. Pengetahuan akan kondisi gagap yang masih minim membuat saya menganggap diri saya hanya sedikit berbeda. Saya merasa baik-baik saja.

Ya, saya hanya merasa sedikit berbeda dari yang lain. Ada yang memiliki suara cempreng, ada yang berbicara dengan lambat atau terlalu cepat, atau ada pula yang cadel. Saya merasa kendala berbicara yang saya alami serupa dengan kondisi tersebut.

Akan tetapi, teman-teman di sekeliling saya tidak berpikir demikian.

Setelah mengetahui bahwa saya mengidap gagap, mereka mulai mengejek saya hampir setiap hari. Tak cuma lewat kata-kata, saya juga pernah dirundung secara fisik. Saya pernah dimasukkan ke dalam tong sampah. Di lain waktu saya pernah disiram air kencing ketika sedang masuk kamar mandi.

Semua kenangan buruk itu menghantui masa-masa remaja saya di SMP.

Suatu hari, di dalam kelas, guru bertanya apa cita-cita kami. “Win, apa cita-citamu saat besar nanti?” Saat tiba giliran saya, dengan lantang saya menjawab, “Mau jadi guru atau penyiar.”

Sontak seisi kelas tertawa mendengar cita-cita saya tersebut. “Kamu tuh ngimpi apa? Suaramu tuh cempreng dan kamu gagap, masa mau jadi penyiar?!” teriak salah seorang teman yang menertawai mimpi saya tersebut.

Kondisi saya yang semula merasa baik-baik saja, berubah 180 derajat. Saya jadi sedih dan malu dengan kondisi gagap ini. Saya menjadi bahan ejekan dan tertawaan teman-teman sekelas. Di masa itu, saya membenci diri saya sendiri.

Masa-masa remaja saya penuh dengan perlakuan buruk dan peristiwa tak menyenangkan. Saya terpuruk dan merasa salah langkah. Bagaimana saya harus melalui ini semua selama dua tahun ke depan hingga lulus nanti?

Selama tiga bulan lebih saya mengisolasi diri. Berat rasanya untuk menghadapi hari-hari di sekolah. Saya akhirnya menarik diri dari lingkungan pertemanan SMP yang membuat saya begitu tertekan.

Apa yang salah dalam diriku sampai menerima perlakuan seperti ini? Apa karena aku gagap? Pertanyaan tersebut terus berkecamuk dalam pikiran saya. Masa SMP kulalui dengan dengan perundungan yang menyakitkan.

Saya tidak boleh lemah. Begitulah tekad saya ketika akan memasuki SMA. Saya takut dan tak ingin kembali menjadi korban bullying. Saya memutuskan untuk menunjukkan bahwa diri saya kuat. Tidak boleh ada yang meremehkan diri saya lagi.

Di masa itu, saya kira cara untuk citra diri sebagai orang kuat dan tak boleh diremehkan itu dengan menjadi anak nakal. Tapi, kenakalan saya malah membuat saya harus tinggal kelas.

“Win, kamu itu sebenernya nggak bermasalah tapi kenapa selalu mencari-cari masalah?” tanya wali kelas saya saat itu. Dia mengaku bingung dan tak tahu bagaimana cara menghadapi saya.

Saya juga tidak mengerti kenapa saya memilih jalan demikian. Satu-satunya yang ada dalam pikiran saya kala itu adalah saya tidak mau kelihatan lemah. Tapi kemudian saya sadar ada cara lain yang bisa menunjukkan diri saya.

Berjuang dan berlatih

kesehatan remaja

Saya mencoba bangkit dan tidak menyerah. Saya mengulang kelas dan akhirnya memutuskan untuk menjadi siswa yang lebih aktif di kegiatan-kegiatan positif.

Saya masuk menjadi anggota OSIS yang membuat saya harus berani berbicara di depan umum. Banyak kegiatan ekstrakurikuler saya ikuti seperti paduan suara, radio sekolah, sampai belajar menjadi rapper.

Saya ingin banyak belajar berbicara dengan lebih baik dan memiliki teman lebih banyak. Puji syukur, tak disangka-sangka jalan yang saya pilih ini sangat membantu saya. Teman-teman di SMA pun lebih bisa memahami kondisi yang saya alami.

Jika gagap saya kambuh, mereka tidak mengejek saya sama sekali. “Santai bro, pelan-pelan aja ngomongnya,” begitu ucap mereka mencoba menenangkan dan memahami kendala berbicara yang saya idap ini. Kata-kata sederhana ini menjadi ruang bagi saya untuk mengatasi kegagapan saya saat bicara.

Teman-teman SMA saya ini juga kerap mengingatkan teman yang lain tentang kondisi saya sebelum saya mulai bicara. “Si Aswin ini kalau lagi semangat ngomong, gagapnya bisa kumat. Jadi kalian harus maklum, ya.”

Berkat itu semua saya bisa menikmati masa-masa SMA dengan lebih baik. Saya amat bersyukur memiliki teman-teman yang begitu pengertian, tidak menjadikan saya bahan ejekan, dan membantu saya belajar berbicara dengan lebih baik.

Saat duduk di bangku kuliah, saya mencoba memahami kondisi gagap lebih jauh dengan bantuan teman saya yang seorang dokter. Saya belajar apa saja penyebab gagap hingga bagaimana cara mengatasinya.

Saya tidak pernah tahu apa penyebab kondisi ini, namun diperkirakan gabungan antara faktor genetik dan lingkungan. Saya menyadari bahwa Ayah dan dua orang sepupu saya juga memiliki kondisi serupa dengan saya. Mereka kadang menunjukkan gejala gagap saat bercanda atau berbicara, tapi kondisinya tidak separah saya.

Meski gagap, tapi bisa menjadi penyiar radio

kisah gagap jadi penyiar

Cita-cita saya sebagai seorang gagap menjadi penyiar radio tidak padam. Saya paham betul dengan kondisi ini, tapi gagap tidak membuat semangat saya luntur barang setetes pun.

Sedari kecil saya merasa menjadi seorang penyiar adalah pekerjaan yang keren. Selain suaranya didengar banyak orang, mereka juga memiliki banyak koneksi hingga punya penggemar.

Pengalaman aktif berorganisasi selama di SMA membuat saya banyak belajar untuk berbicara di depan umum. Saya sering melatih diri dengan berbicara di depan cermin sambil mengamai pergerakan rahang mulut saya ketika berbicara. Hal itu cukup membantu saya mengatasi kendala bicara ini.

Saya juga rutin berlatih bicara dengan membaca buku, koran, majalah, atau informasi apapun. Setiap kalimat yang saya baca, saya ucapkan dengan lantang dan saya rekam. Rekaman tersebut membantu saya memahami kelemahan saya saat bicara.

Ketika kondisi gagap itu muncul, saya mengakalinya dengan menambahkan kata lain yang bisa saya ucap. Jurus lainnya yang saya andalkan adalah menggabungkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

Semua latihan tersebut semakin diasah di perguruan tinggi. Beberapa mata kuliah yang saya ambil membantu saya untuk berbicara lebih baik.

Saya mulai memberanikan diri menjajal peruntungan sambil mencari uang tambahan dengan menjadi pembawa acara di pentas seni atau acara lainnya. Tidak selalu mulus memang, saya paham hal tersebut. Beberapa orang menolak saya untuk kembali mengisi acaranya di lain waktu.

Tapi, saya tak menyerah.

Di tahun 2010, saya diterima bekerja di MNC TV, lalu pindah ke RCTI Surabaya, dan mulai menggeluti dunia broadcasting. Tiga tahun kemudian, saya mulai terjun ke dunia penyiaran radio.

Menjadi penyiar dengan kondisi gagap membuat saya lebih banyak menemui rintangan. Beberapa kali saya ditolak karena suara saya cempreng dan kondisi gagap yang saya miliki.

Saya sempat rehat sebentar dan tidak melamar ke stasiun radio mana pun. Namun tetap fokus menjadi pembawa acara panggilan.

Hingga akhirnya sebuah peluang datang di depan mata. Penyiar radio bersuara cempreng seperti Desta dan Nycta Gina tak lagi menjadi halangan. Kehadiran mereka membuat hampir semua stasiun radio mencari penyiar bersuara cempreng.

Semangat saya untuk melamar pekerjaan menjadi penyiar radio kembali memuncak. Saya termasuk orang beruntung yang bisa menjadi penyiar radio karena peluang tersebut.

Setelah penantian dan perjuangan yang panjang, saya diterima menjadi seorang penyiar di EBS FM Surabaya. Saya bangga akan keberhasilan menjadi seorang yang kuat dan mampu menggapai impian. Hingga saat ini saya sudah menjadi penyiar radio di berbagai tempat, seperti MTB FM Surabaya, dan SHE Radio.

Selain itu, saya juga pernah menjabat menjadi audio production di Prima Radio dan menjabat content director di Rosco Radio.

Saya juga berpartisipasi dalam komunitas Indonesia Stuttering Community dan mendirikan NPC Network, yang menjadi wadah untuk beberapa Podcast.

Berada di posisi saat ini, bukan hanya dari hasil perjuangan saya semata. Peran keluarga dan teman sangat besar bagi orang-orang dengan kondisi seperti saya.

Dukungan mereka untuk bersabar mendengarkan dan menunggu saya menyelesaikan kalimat, sangat membantu saya tumbuh dan berkembang. Mereka tidak memotong pembicaraan dan dengan sabar mendengar apa yang ingin saya sampaikan hingga tuntas.

Sebaliknya, kondisi saya dan teman-teman gagap yang lain bisa jadi lebih buruk, jika keluarga tidak memberikan dukungan. Dukungan keluarga dan teman juga membantu saya berdamai dengan kondisi dan mencintai diri sendiri.

Bagi sesama pejuang gagap, saya harap Anda tidak mengasihani diri sendiri dengan selalu minta diistimewakan. Pasalnya, kita tidak selalu bisa meminta semua orang mengerti kondisi kita.

Terlepas dari itu, bagi Anda yang punya kerabat dengan kondisi yang sama seperti saya, berikan kekuatan Anda dengan mendukungnya untuk terus bergerak maju.

Aswin Dafry Prasetyo (30) bercerita untuk pembaca Hello Sehat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 16/12/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa