home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa yang Terjadi Saat Kita Mati Suri?

Apa yang Terjadi Saat Kita Mati Suri?

Near death experience (NDE) atau yang lebih sering dikenal sebagai mati suri merupakan salah satu fenomena yang cukup sering dijumpai di kehidupan sehari-hari. Mati suri sering digambarkan sebagai perasaan bahwa jiwa seseorang telah meninggalkan raganya, dilanjutkan dengan pengalaman melewati terowongan gelap dengan cahaya di ujung terowongan, dan pergi ke dimensi di mana seseorang merasakan perasaan hangat, nyaman dan dicintai.

Pengalaman mati suri berbeda-beda tergantung budaya

Banyak masyarakat yang menghubungkan pengalaman mati suri ini sebagai suatu kejadian mistik, padahal banyak penelitian mutakhir membuktikan bahwa NDE merupakan suatu manifestasi keadaan di otak dan bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Pengalaman mati suri dipengaruhi oleh kultur budaya di masing-masing daerah. Oleh karena itu, mati suri yang dialami oleh orang Indonesia mungkin berbeda dengan yang dialami oleh orang Eropa.

Mati suri ditemukan di seluruh penduduk dunia. Sekitar 3% penduduk Amerika mengaku pernah mati suri, pengalaman ini juga dialami oleh sekitar 4-5% penduduk Eropa. Mati suri lebih sering dialami oleh wanita dibanding pria, dan lebih sering dialami oleh seseorang yang berumur di bawah 60 tahun. Sekitar 50% orang yang mengalami mati suri merasa bahwa mereka benar-benar sudah sempat meninggal, 56% merasakan bahwa itu merupakan suatu pengalaman positif, 24% merasa bahwa jiwa mereka meninggalkan raga atau out of body experience (OBE), 31% melaporkan pengalaman melewati terowongan, dan 32% melaporkan adanya interaksi dengan orang yang telah meninggal.

Apa yang biasanya dirasakan selama mati suri?

Merasa meninggal betulan

Perasaan telah mati sering dilaporkan oleh orang yang mengalami mati suri. Perasaan ini juga dialami oleh mereka yang menderita sindrom cotard, hal ini diasosikan dengan adanya gangguan otak di bagian korteks parietal dan prefrontal, dan umumnya menghilang setelah beberapa hari. Hal ini dilaporkan juga pada orang yang mengalami cedera kepala, tifoid yang parah, dan multiple sklerosis. Belum diketahui kenapa seseorang bisa mengalami perasaan telah mati, penjelasan logisnya adalah mungkin ini hanya sebuah usaha pasien untuk memahami pengalaman aneh yang dialami.

Perasaan jiwa keluar dari raga

Out of body experience (OBE) sering dideskripsikan sebagai perasaan “melayang” di luar tubuh, dan terkadang disertai dengan autoskopi, yaitu melihat tubuh sendiri saat “melayang”. Walaupun sering dianggap sebagai pengalaman mistis, OBE juga dapat terjadi di kondisi lain, seperti misalnya saat seseorang mengalami sleep paralysis atau lebih dikenal dengan nama “ketindihan”. Saat ketindihan, tubuh berada di fase REM atau tidur nyenyak, tetapi otak mereka terbangun sebagian.

Penilitian Olaf Blanke berhasil memicu OBE buatan dengan menstimulasi otak bagian temporoparietal. Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa OBE terjadi saat otak gagal mengintegrasikan berbagai rangsangan sensorik dari lingkungan eksternal.

Interaksi dengan orang mati

Dalam berbagai agama dan cerita dari mulut-mulut, banyak yang menyatakan bahwa saat kita mati, kita akan dikelilingi oleh orang mati dan malaikat. Hal ini turut mempengaruhi pengalaman yang kita rasakan saat mati suri. Fenomena ini diduga dikarenakan adanya gangguan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter dalam otak yang bisa menyebabkan seseorang mengalami halusinasi. Gejala berinteraksi dengan sesuatu yang tidak nyata juga dialami oleh pasien dengan Alzheimer, Parkinson, dan degenerasi makula.

Pada penderita degenerasi makula di mata, penglihatan yang terganggu menyebabkan otak berusaha mengkompensasi dengan cara menghadirkan gambaran lain yang sebenarnya tidak ada. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengalaman interaksi dengan orang mati ini bisa disebabkan oleh karena gangguan fungsi dopamin dan gangguan input sensorik.

Melihat terowongan cahaya

Melihat terowongan cahaya merupakan salah satu fenomena yang sering dilaporkan setelah mati suri.Hal ini bisa disebabkan karena pasokan darah dan oksigen yang berkurang di retina mata. Saat retina kekurangan oksigen dan menjadi iskemik, penglihatan di daerah tepi mata akan mengalami gangguan terlebih dahulu. Gangguan ini kemudian meluas ke arah tengah, sehingga tampak sebagai terowongan.

Mati suri merupakan pengalaman unik dengan berbagai mekanisme yang kompleks di baliknya, mulai dari kekurangan oksigen, gangguan fase REM tidur, gangguan fungsi dopamin, dan pengaruh budaya dan kepercayaan. Satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah NDE tidak sepenuhnya harus berupa kejadian mistik dan bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, sehingga Anda tidak perlu memikirkan berlebihan jika suatu saat mengalaminya.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  1. Mobbs, Dean. Watt, Caroline. There  is  nothing  paranormal  about  near-death experiences :  how  neuroscience  can  explain  seeing bright  lights,  meeting  the  dead,  or  being  convinced you  are  one  of  them. Trends  in  Cognitive  Sciences . 2011. No X, 1-3.
  2. Van Lommel, Pirn et al. Near-death experience in survivors of cardiac arrest: a prospective study in the Netherlands. The Lancet. 2001. Volume 358, Issue 9298, 2039 – 2045
  3. Near-death experiences: fact or fantasy? http://www.medicalnewstoday.com/articles/309454.php?page=2 Accessed June 10, 2016
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh dr. Angga Maulana Diperbarui 30/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x