Penelitian Buktikan Pemberian Napas Buatan Dalam CPR Tidak Mempan. Apa Alasannya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Resusitasi jantung dan paru (CPR/ Cardiopulmonary Resuscitation) adalah teknik penyelamatan nyawa yang biasa dilakukan dalam keadaan darurat. Misalnya serangan jantung atau saat tenggelam, di mana pernapasan atau detak jantung seseorang berhenti seluruhnya. Namun, belakangan ini sejumlah survei dan penelitian menunjukkan bahwa teknik ini sebenarnya tidak efektif untuk menolong seseorang. Apa benar begitu? Simak jawabannya di bawah ini.

Sebenarnya teknik CPR efektif apa tidak?

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur CPR pada umumnya, yaitu kompresi dada (penekanan daerah dada) untuk mempertahankan sirkulasi darah dan pemberian napas buatan dari mulut ke mulut (mouth-to-mouth breathing) untuk mempertahankan suplai oksigen ke dalam tubuh korban.

Bantuan pernapasan dari mulut ke mulut (mouth-to-mouth CPR) jadi tidak efektif jika dilakukan oleh orang tanpa latar belakang medis atau tidak pernah mengikuti pelatihan CPR sebelumnya. Mengapa begitu? Teknik CPR ini harus dilakukan oleh orang yang sudah mengikuti training CPR, bukan hanya asal memberi napas dari mulut ke mulut seperti di film-film.

Tanpa pengetahuan dan pelatihan soal teknik resusitasi yang benar, CPR justru tidak membantu. Jangan salah, memberikan napas buatan dalam CPR itu tidak semudah yang terlihat di film atau acara televisi. CPR bukan sekadar memberikan napas ke mulut orang lain. Anda juga harus terus memantau kondisi korban, melakukan kompresi dada, dan tahu persis berapa hitungan detik untuk setiap langkahnya.

Bahkan, sebuah riset dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) tahun 2012 menunjukkan bahwa dari seluruh korban yang menerima napas buatan CPR, hanya 2% yang akhirnya bisa diselamatkan dan pulih kembali.

Selama ini, tindakan pemberian napas dari mulut ke mulut dalam CPR memang cukup sulit dilakukan. Tidak semua orang dapat melakukannya dengan baik serta memerlukan latihan yang cukup. Bahkan para tenaga kesehatan yang sudah terlatih pun akan merasa kesulitan melakukannya apabila tidak rutin dilakukan.

Selain memerlukan kekuatan napas dan paru-paru dari penolong, tindakan ini juga berisiko untuk menularkan penyakit, khususnya penyakit pernapasan, dari korban kepada sang penolong maupun sebaliknya.

cpr

Pemberian napas buatan dari mulut ke mulut sebenarnya tidak perlu

Selama ini tindakan pemberian napas dari mulut ke mulut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prosedur CPR. Namun, penelitian terbaru melaporkan bahwa prosedur CPR tanpa pemberian napas dari mulut ke mulut ternyata sama efektifnya dengan CPR standar yang biasa dilakukan.

Menurut dua penelitian yang diterbitkan oleh New England Journal of Medicine, teknik CPR yang hanya dilakukan dengan penekanan dada sudah cukup untuk menolong pasien, tanpa pemberian napas mulut ke mulut. Tidak ada perbedaan yang berarti mengenai tingkat keselamatan korban yang ditolong dengan kompresi dada saja dengan yang juga diberikan napas buatan.

Riset justru memperlihatkan bahwa teknik CPR dengan kompresi dada saja lebih efektif daripada CPR dengan kompresi dada dan napas buatan.

Penelitian yang dilakukan di Washington, Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa tingkat keselamatan korban yang ditolong hanya dengan kompresi dada yaitu sebesar 12,5%. Sedangkan yang juga ditolong dengan napas buatan tingkat keberhasilannya lebih rendah, yaitu 11%.

Penelitian kedua di Swedia membuktikan bahwa tingkat keselamatan korban yang diberikan pertolongan CPR hanya dengan penekanan dada adalah sebesar 8,7%. Sedangkan dengan CPR standar adalah sebesar 7%.

Jadi, apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat?

Bila Anda tidak memiliki latar belakang medis dan belum pernah ikut pelatihan teknik CPR, tidak perlu memberikan napas buatan saat menolong orang yang kehilangan kesadaran atau berhenti bernapas.

Anda cukup melakukan CPR dengan cara kompresi dada. Simak langkah-langkahnya dalam tautan ini atau di bit.ly/teknikCPR dan yang paling penting, segera cari bantuan medis darurat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Cara Mengurangi Rasa Tidak Enak Badan saat Demam

Ketika demam menyerang, Anda pasti tidak enak badan. Mau istirahat atau makan jadi susah. Tenang saja, ini enam solusi yang tepat supaya Anda lebih nyaman.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Informasi Kesehatan 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Sehatkah Kalau Makan Makanan yang Sama Terus Setiap Hari?

Adakah dampak kesehatan tertentu jika kita makan makanan yang sama tiap harinya? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebiasaan tersebut?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Tips Makan Sehat, Nutrisi 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Pertolongan Pertama Ketika Telinga Kemasukan Serangga

Salah satu benda asing yang paling sering masuk ke dalam telinga adalah serangga. Lantas, bagaimana pertolongan pertama saat telinga kemasukan serangga?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan THT, Gangguan Telinga 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

9 Cara Jitu untuk Mengusir Semut Bandel di Rumah

Setiap rumah pasti ada semutnya. Apalagi rumah yang kotor. Jangan panik dulu, air lemon ternyata bisa jadi cara mengusir semut di rumah yang terjamin ampuh.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gula darah turun

Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mencium bau badan

Kenapa, Sih, Kita Tidak Bisa Mencium Bau Badan Sendiri?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
ciri dan gejala infeksi parasit

Mengenal Jenis-Jenis Parasit dan Penyakit Infeksi yang Disebabkannya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
badan sakit setelah olahraga

Badan Sakit Setelah Olahraga, Apakah Artinya Olahraga Anda Ampuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit