Bukan Gila, Ini 4 Penyebab Seseorang Bisa Menangis Tanpa Sebab

    Bukan Gila, Ini 4 Penyebab Seseorang Bisa Menangis Tanpa Sebab

    Meneteskan air mata saat tak merasa sedih atau bahagia amat mungkin terjadi. Ada banyak penyebab yang membuat seseorang menangis. Kondisi ini bisa juga disebabkan oleh kesehatan tubuh. Apa saja penyebab kita bisa menangis tanpa sebab? Simak ulasannya berikut ini.

    Penyebab normal Anda menangis

    Menangis adalah respons emosional yang alami terhadap perasaan tertentu, biasanya karena kesedihan dan sakit hati. Seseorang juga bisa menangis ketika merasa terharu dan munculnya perasaan bahagia.

    Menurut Dr. Rozen dikutip dari situs Cleveland Clinic, menangis karena emosional membuat seseorang jadi lebih baik, melepaskan ketegangan, dan memberi kebangkitan psikis. Selain itu, perlu diketahui bahwa ada tiga jenis air mata.

    Pertama, air mata yang keluar dari kelenjar lakrimal (kelenjar air mata) yang berfungsi untuk melembapkan dan melindungi mata. Kedua, air mata bisa keluar karena adanya refleks mata terhadap zat asing. Kemudian, air mata bisa keluar karena dipicu oleh faktor emosional.

    Biasanya, air mata yang keluar karena faktor emosional akan mengalir hingga ke pipi Anda, bukan sekedar mata berair. Air mata tersebut memicu pelepasan endorfin sehingga orang yang menangis akan merasa kesedihannya berkurang atau sedikit lebih baik.

    Menangis juga bertujuan untuk melepaskan masalah atau stres, meluapkan kesedihan, hingga demi mendapat perhatian dan dukungan.

    Penyebab Anda bisa menangis tanpa sebab

    setelah menangis

    Penyebab menangis sering dikaitkan dengan perasan sedih atau bahagia. Namun, beberapa orang mungkin dapat meneteskan air mata tanpa penyebab yang jelas.

    Hal ini belum tentu menandakan Anda menangis tanpa sebab, melainkan Anda belum tahu apa penyebab yang mendasarinya. Berdasarkan kesehatan, ada beberapa kondisi yang bisa membuat Anda meneteskan air mata seperti di bawah ini.

    1. Mengalami premenstrual dysphoric disorder

    PMDD atau premenstrual dysphoric disorder adalah kondisi yang mirip PMS tapi dengan gejala lebih parah. Seseorang dengan PMDD akan mengalami gejala PMS yang lebih parah diikuti dengan depresi, tegang, dan lebih cepat marah.

    Biasanya, kondisi ini menyerang wanita yang memang memiliki depresi atau ganggguan kecemasan. Penyebab pastinya belum diketahui, tapi ahli percaya bahwa kondisi ini berkaitan dengan perubahan hormon sepanjang siklus menstruasi, salah satunya serotonin.

    Perasaan sedih yang dirasakan saat mengalami PMDD bisa membuat seseorang berpikiran untuk melakukan bunuh diri, menurut Women’s Health. Itulah sebabnya, perasaan wanita dengan PMDD kadang tidak terkontrol dan membuat mereka jadi sering meneteskan air mata.

    2. Gangguan kecemasan dan stres

    Gangguan kecemasan atau generalized anxiety disorder (disingkat GAD) ini menyebabkan pasiennya merasa panik berlebihan, diikuti dengan jantung berdegup kencang, bahkan sulit bernapas. Kondisi ini bisa jadi alasan kenapa Anda bisa menangis tanpa sebab.

    Gangguan kecemasan sering terjadi pada wanita. Semua emosi yang ditimbulkan saat gangguan terjadi bisa menyebabkan pasiennya menangis, padahal tidak merasa sedih atau terharu. Rasa panik membuat mereka ketakutan dan otak mengirimkan sinyal untuk menangis sebagai luapan dari emosi dan stres.

    Orang yang mengalami stres biasanya akan mudah mengeluarkan air mata. Ini adalah cara tubuh untuk mengurangi hormon stres dan cara untuk orang tersebut memperoleh bantuan atau dukungan dari orang lain.

    3. Pseudobulbar affect (PBA)

    Menangis, tertawa, dan marah yang tidak terkendali dan tanpa sebab bisa menjadi gejala dari kondisi pseudobulbar affect (PBA). Ini adalah keadaan cedera saraf otak sehingga kemampuan untuk mengendalikan emosi terganggu. Penyakit ini disebut juga dengan inkontinensia emosional.

    Orang yang memiliki riwayat penyakit stroke, penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, atau multiple sclerosis rentan mengalami penyakit ini. PBA sering keliru didiagnosis sebagai depresi karena gejalanya yang hampir serupa.

    Selain menangis, PBA juga bisa membuat seseorang tertawa tiba-tiba tanpa kendali. Gejalanya ini bisa menyulitkan penderitanya ketika berhadapan situasi tertentu.

    Penting untuk mengetahui apa penyebab Anda menangis sambil tertawa. Apalagi jika kondisi tersebut terjadi tiba-tiba dan tidak bisa dikendalikan. Beberapa kondisi seperti PBA atau gangguan kecemasan perlu mendapat perawatan lebih lanjut dari dokter.

    4. Depresi

    Menangis tanpa sebab juga bisa menjadi pertanda depresi. Depresi membuat pengidapnya terus-menerus merasa sedih, sehingga sangat mungkin untuk menangis.

    Depresi adalah gangguan suasana hati yang bisa menyebabkan perasaan sedih terus-menerus dan hilang minat pada berbagai hal yang disukainya. Hal tersebut dapat membuat pengidapnya merasa hampa, tidak menemukan kesenangan dalam hidup, putus asa, hingga berpikiran untuk bunuh diri.

    Orang yang mengalami tanda-tanda depresi perlu menjalani pengobatan segera. Perawatannya bisa berupa psikoterapi, seperti terapi kognitif perilaku dan minum obat antidepresan.

    Menangis tanpa sebab tidak selalu berarti ada yang salah. Namun, penting untuk mengetahui kapan Anda harus mendapatkan bantuan. Anda mungkin mempertimbangkan untuk mencari pengobatan jika kondisi menangis tanpa alasan terjadi seperti di bawah ini.

    • Sering dan berkelanjutan
    • Di luar kendali dan membuat Anda kesal
    • Muncul bersamaan dengan perasaan rendah atau gelisah secara umum
    • Terjadi dengan perubahan suasana hati yang kuat atau perubahan suasana hati
    • Mengganggu kehidupan sehari-hari Anda seperti memengaruhi kemampuan untuk bekerja, menyebabkan masalah dalam hubungan, dan lain sebagainya.

    Jadi, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat agar kondisinya tidak bertambah parah.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Collier, L. (2014, February). Why we cry. Retrieved December 09, 2021, from https://www.apa.org/monitor/2014/02/cry

    Team, F. (2020, October 14). Why we cry and what tears are made of. Retrieved December 09, 2021, from https://health.clevelandclinic.org/tears-why-we-cry-and-more-infographic/

    Pseudobulbar affect – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 9 December 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pseudobulbar-affect/symptoms-causes/syc-20353737

    What Is Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)? – Child Mind Institute. (2021). Retrieved 9 December 2021, from https://childmind.org/article/what-is-premenstrual-dysphoric-disorder-pmdd/

    Mind says ‘It’s OK to cry’. (2015). Retrieved 9 December 2021, from https://www.mind.org.uk/news-campaigns/news/mind-says-its-ok-to-cry/

    What Is Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Retrieved 9 December 2021, from https://www.womenshealth.gov/menstrual-cycle/premenstrual-syndrome/premenstrual-dysphoric-disorder-pmdd

    Anxiety disorders – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 9 December 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anxiety/symptoms-causes/syc-20350961

    Stress management: Examine your stress reaction. (2021). Retrieved 9 December 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/stress-management/art-20044289

    Symptoms. Retrieved December 16, 2021, from https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/depression/symptoms/

     

     

     

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Dec 17, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa