home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

4 Kebiasaan Penyebab Tangan Kesemutan yang Sering Tidak Disadari

4 Kebiasaan Penyebab Tangan Kesemutan yang Sering Tidak Disadari

Kesemutan atau kebas bisa terjadi tiba-tiba. Meski tidak menyakitkan, tapi cukup mengganggu aktivitas. Untuk mencegah dan mengatasinya, Anda tentu harus tahu penyebab tangan kesemutan atau kram yang dialami. Apa saja kebiasaan yang memicu kondisi tersebut dan apa obat tangan kesemutan yang bisa digunakan untuk mengatasinya? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Kebiasaan penyebab tangan kesemutan yang mungkin Anda lakukan

Kesemutan yang dikenal dengan istilah medis paresthesia, digambarkan dengan munculnya sensasi ditusuk-tusuk jarum, mati rasa, dan perasaan gatal. Kondisi ini umumnya menyerang kaki, tapi bisa juga terjadi pada tangan Anda.

Meski bisa terjadi kapan saja, biasanya kesemutan, baik pada tangan kanan maupun kiri, muncul akibat adanya gangguan pada saraf. Ini bisa terjadi karena kebiasaan tertentu. Mari bahas beberapa kebiasaan sehari-hari yang ternyata jadi pemicu tangan kesemutan di bawah ini.

1. Tidur dengan tangan menahan kepala

capek saat bangun tidur

Tahukah Anda bahwa posisi tidur bisa jadi penyebab tangan kesemutan? Ya, kesemutan kemungkinan besar akan terjadi jika Anda tidur dengan posisi tengkurap. Bisa juga ketika Anda tidur telentang dengan tangan di belakang kepala.

Dua posisi tidur tersebut memang nyaman bagi beberapa orang. Namun, akibatnya saraf di sekitar tangan mendapatkan beban dan tekanan yang besar. Kinerja saraf pun akan terganggu dan menimbulkan sensasi ditusuk-tusuk jarum dan mati rasa.

Untungnya, kesemutan bahkan kebas karena posisi tidur yang kurang baik ini tidak bertahan lama. Agar lebih cepat pulih, perbaiki posisi tidur Anda dengan segera dan bebaskan tangan dari segala beban atau tekanan.

2. Gerakan yang berulang

posisi duduk

Menurut American Society Surgery of The Hand, sindrom carpal tunnel (CTS) adalah gangguan kesehatan yang jadi penyebab paling umum tangan kesemutan. Kondisi ini disebabkan oleh masalah pada saraf median di tangan sehingga menjadi sensitif terhadap tekanan.

Nah, orang dengan kondisi ini rentan mengalami kesemutan sekaligus nyeri di sekitar jempol hingga ke pergelangan tangan. Menulis, mengetik, memotong, mengangkat barang, naik motor, maupun gerakan lainnya yang dilakukan tangan secara berulang dalam waktu lama bisa jadi pemicu kesemutan pada tangan.

Untuk meringankan gejala sindrom carpal tunnel, Anda disarankan minum obat yang mengandung ibuprofen serta vitamin B1, B6, dan B12 untuk memelihara kesehatan saraf otot. Jangan lupa, konsultasikan dengan dokter sebelum memutuskan untuk menggunakan obat.

3. Terlalu banyak minum alkohol dan merokok

minum alkohol

Minum alkohol berlebihan dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan, misalnya penyakit hati dan kanker. Tidak hanya itu, jika dibarengi dengan merokok, kebiasaan ini juga bisa menjadi penyebab munculnya kesemutan pada tangan.

Alkohol yang dikonsumsi dalam jumlah besar, dapat mengganggu saraf otonom yang mengatur fungsi tubuh. Sementara rokok dapat mengganggu sirkulasi darah yang kaya oksigen ke tulang dan jaringan. Efek gabungan ini tidak hanya menimbulkan sensasi kesemutan, tapi juga nyeri pada tubuh.

Jika tangan Anda masih saja kesemutan atau mengalami gejala 3K lainnya, minum pereda nyeri dan kesemutan yang mengandung ibuprofen, vitamin B1, vitamin B6, dan vitamin B12. Kandungan obat dan vitamin neurotropik tersebut dapat membantu memelihara kesehatan saraf dan otot Anda.

Jangan ragu untuk konsultasi pada dokter maupun psikolog bila Anda kesulitan mengurangi alkohol dan berhenti merokok.

4. Kurang asupan makanan bernutrisi

gaya hidup seorang vegan

Meski jarang terjadi, kurangnya asupan vitamin dan mineral tertentu juga bisa jadi penyebab tangan kesemutan. Salah satu kondisi yang menyebabkan munculnya gejala kesemutan pada tubuh adalah kekurangan vitamin B12.

Vitamin B12 diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan saraf, produksi sel darah merah, serta DNA. Umumnya, kondisi ini terjadi pada lansia, orang dengan kebiasaan makan yang tidak sehat, orang yang menjalani diet vegan ketat, atau memiliki gangguan makan.

Untuk menghindari kondisi ini, perhatikan kembali asupan nutrisi makanan yang dikonsumsi setiap hari. Tingkatkan asupan ikan, telur, daging merah, dan produk susu. Jangan lupa imbangi dengan konsumsi sayur dan buah. Sediakan juga pereda nyeri yang mengandung vitamin neurotropik untuk berjaga-jaga jika gejala 3K terjadi.

Obat untuk mengatasi kesemutan pada tangan

Pada dasarnya, kesemutan pada tangan bisa mereda jika Anda berhasil mengatasi penyebabnya. Namun, secara umum, ada beberapa obat yang bisa Anda gunakan untuk mengatasi kesemutan pada tangan. Di antaranya:

1. Obat-obatan pereda nyeri

Jika Anda merasakan kesemutan atau rasa nyeri pada area tangan tapi masih tergolong ringan, coba atasi dengan obat-obatan pereda nyeri yang bisa Anda beli secara bebas di apotek terdekat. Sebagai contoh, ibuprofen atau aspirin.

Namun, jika kesemutan pada tangan sudah terasa tak nyaman dan tak kunjung membaik, Anda bisa mengonsumsi obat pereda rasa sakit dengan resep dokter. Meski begitu, biasanya dokter akan memberikan resep bukan hanya untuk mengatasi kesemutan, tapi juga penyebab dari tangan kesemutan.

Untuk efektivitas penggunaan obat, upayakan mengonsumsi obat ini pada siang hari dibandingkan harus menunggu malam hari saat gejala kesemutan ini kambuh.

2. Obat oles

Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal berjudul Rehabilitation research and practice menyatakan bahwa obat oles yang mengandung menthol juga bisa meredakan rasa sakit akibat sindrom carpal tunnel. Selain itu, krim capsaicin bisa dioleskan ke kulit tangan yang mengalami kesemutan untuk meredakan rasa sakitnya.

3. Antidepresan

Ada beberapa jenis antidepresan yang dapat membantu Anda mengendalikan rasa sakit. Apalagi, rasa sakit yang sudah tergolong parah sering kali menyebabkan depresi, dan kondisi ini bisa meningkatkan sensitivitas Anda pada rasa sakit.

Maka itu, antidepresan bisa digunakan agar rasa sakit akibat kesemutan dan berbagai masalah saraf lainnya lebih terkontrol.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Numbness in hands. Retrieved 10 December 2020, from https://www.assh.org/handcare/condition/numbness-in-hands

Vitamin B12 deficiency can be sneaky, harmful. Retrieved 10 December 2020, from https://www.health.harvard.edu/blog/vitamin-b12-deficiency-can-be-sneaky-harmful-201301105780

Carpal Tunnel Syndrome. Retrieved 10 December 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4005-carpal-tunnel-syndrome

Cleveland Clinic. Why Smoking Will Worsen Your Chronic Pain. Accessed on June 19th, 2019.

Numbness. Retrieved 10 December 2020, from https://mymsaa.org/ms-information/symptoms/numbness/

Drugs that relieve nerve pain. Retrieved 10 December 2020, from https://www.health.harvard.edu/pain/drugs-that-relieve-nerve-pain

Other Drugs. Retrieved 10 December 2020, from https://www.foundationforpn.org/what-is-peripheral-neuropathy/causes/other-drugs/

Sundstrup, E., Jakobsen, M. D., Brandt, M., Jay, K., Colado, J. C., Wang, Y., & Andersen, L. L. (2014). Acute effect of topical menthol on chronic pain in slaughterhouse workers with carpal tunnel syndrome: triple-blind, randomized placebo-controlled trial. Rehabilitation research and practice2014, 310913. https://doi.org/10.1155/2014/310913
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 28/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x