TBC merupakan infeksi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Banyaknya jumlah kasus TBC di Tanah Air sedikit banyak dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat yang masih keliru soal penyakit ini. Akibatnya, tidak sedikit orang yang ragu berobat dan akhirnya terlambat ditangani. Berikut beberapa mitos TBC yang sudah tidak perlu Anda percaya lagi.

Mitos TBC yang ternyata salah besar

TBC adalah penyakit turunan

Mitos TBC ini SALAH. TBC atau tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Penyakit ini memang lebih sering menyebar di antara anggota keluarga, tapi tidak ada hubungannya dengan genetik atau riwayat kesehatan keluarga. Bakteri TBC menyebar ke lewat percikan air liur yang keluar dari mulut ketika pengidapnya batuk, bersin, tertawa, atau berbicara — dan kemudian dihirup oleh orang lain.

Ketika Anda menghabiskan banyak waktu beraktivitas di sekitar pengidap TBC tanpa perlindungan (misalnya masker), lambat laun Anda bisa tertular penyakit yang sama. Pasalnya, bakteri TB dapat bertahan hidup hingga berminggu-minggu, bahkan bulanan, di ruangan berkondisi gelap, lembap, dan dingin. Itulah mengapa TBC juga sering menyebar di lingkup perkantoran atau sekolah.

Akan tetapi, besar kecilnya peluang Anda untuk tertular TBC dari anggota keluarga yang sakit akan tergantung dari kondisi kesehatan, daya tahan tubuh, dan kebersihan pribadi Anda. Semakin kuat daya tahan tubuh Anda, semakin kecil risiko tertular TBC.

TBC adalah penyakit masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah

Mitos TBC ini SALAH. Data terbaru dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2016 memang mencatat bahwa kasus TB di Indonesia terbanyak ditemukan pada kelompok orang berusia produktif (25-34 tahun) yang tidak bersekolah dan yang tidak bekerja, tapi faktor risiko TBC itu sendiri tidak ada hubungannya dengan kondisi ekonomi seseorang.

Meski begitu, setiap orang berisiko terkena TBC apabila:

  • Sistem kekebalan tubuhnya lemah
  • Kebersihan pribadi dan lingkungannya kurang terjaga
  • Faktor lingkungan, seperti lingkungan yang lembap, sempit, dan tidak terpapar sinar matahari.
  • Kontak langsung secara dekat, dalam waktu lama, sering, dan terus-terusan dengan pasien TB aktif.

nyeri dada saat makan

TBC hanya bisa menyerang paru-paru

Mitos TBC ini SALAH. Begitu terhirup, bakteri TB memang akan mengendap di paru-paru dan mulai berkembang biak untuk menyebabkan TB paru. Apabila tb paru tersebut tidak diobati dengan baik, bakteri dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya lewat aliran darah.

Jenis infeksi TB lainnya yang juga umum adalah TB tulang, TB kelenjar getah bening, dan TB usus. Bahkan juga bisa menyerang jantung, sistem saraf, dan organ lainnya. Bedanya, jenis-jenis TB ini tidak menular layaknya TB paru, karena tidak menunjukkan gejala batuk yang dapat menyebarkan bakteri aktif ke orang lain.

“Jangan berbagi makanan atau alat makan dengan pasien TBC”

Mitos TBC ini SALAH. Anda mungkin sering mendengar nasihat ini dari orang sekitar, untuk menjauhi pengidap TBC agar tidak ikut tertular. TBC memang menular, tapi ini bukan alasan untuk mengasingkan para pengidap dari lingkungan masyarakat.

TBC tidak akan menular atau berpindah dengan kontak fisik, seperti:

  • Bersalaman atau berpegangan tangan dengan penderita
  • Berpelukan atau berciuman
  • Berbagi makanan atau minuman
  • Menggunakan toilet yang sama dengan orang yang sakit TBC
  • Menggunakan alat makan, alat tidur, dan sikat gigi yang sama dengan pengidap

Bakteri TB tidak bisa menempel pada pakaian ataupun kulit, hanya bisa ditularkan melalui udara ketika pasien TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi bakteri penyebab TB dan kemudian dihirup oleh orang lain.

Orang yang terinfeksi bakteri TB sudah pasti sakit TBC

Mitos TBC ini SALAH. Faktanya, kebanyakan orang sebenarnya pernah terpapar kuman TB setidaknya satu kali selama hidupnya. Akan tetapi, hanya 10% orang yang terinfeksi TB akan menderita TBC.

Setelah masuk tubuh, bakteri masih belum aktif melainkan akan masih dalam tahap laten atau tidur selama beberapa waktu. Periode ini disebut masa inkubasi. Karena bakteri tidak aktif, maka tidak akan ada gejala dan tidak pula menular.

Salah satu faktor penentu seseorang bisa terserang TBC  atau tidak adalah seberapa kuat sistem kekebalan tubuh Anda. Semakin kuat daya tahan tubuh Anda, semakin kecil kemungkinannya untuk bakteri TB berkembang menjadi penyakit.

Lansia, orang dengan HIV atau AIDS, penderita kanker, diabetes, ginjal, dan penyakit autoimun lainnya berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi karena sistem imunnya lemah dan tidak mampu menekan pertumbuhan bakteri.

TBC tidak bisa sembuh

Mitos TBC ini SALAH. Meski termasuk penyakit kronis,TB bisa sembuh total hingga 99% — asal rutin berobat selama 6-9 bulan berturut-turut dan tidak pernah lupa minum obat TBC.

Tingkat keberhasilan pengobatan TBC sepanjang tahun 2008-2009 pernah mencapai 90%, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh WHO, meski di sepanjang tahun berikutnya terus merosot turun. Data terakhir pada tahun 2016 mencatat keberhasilan pengobatan TBC di tingkat nasional sekitar 85 persen.

Jika tidak rutin berobat, bakteri hanya melemah sesaat dan kemudian menguat sehingga Anda mendapat kesan bahwa penyakit Anda kambuh. Padahal, sebenarnya Anda tidak pernah sepenuhnya sembuh.

Untuk mengetahui apakah pasien sudah sembuh total baru bisa dipastikan lewat hasil tes laboratorium. Jika hasilnya menunjukkan keberadaan bakteri sudah negatif, pasien dinyatakan sembuh total.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca