Menghadapi Kejang Otot Pasca Serangan Stroke

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10/03/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Stroke ditandai oleh hilangnya fungsi otak akibat kerusakan yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah menuju otak. Kerusakan jaringan otak biasanya menyebabkan menurunnya aktivitas serta fungsi otak. Inilah efek yang paling terlihat dari serangan stroke. Namun demikian, kerusakan jaringan otak juga dapat menyebabkan aktivitas berlebih yang tidak teratur yang mengakibatkan kejang. Beberapa penderita stroke yang bertahan hidup biasanya mengalami kejang setelah stroke.

Pada umumnya, kejang diikuti oleh gerakan tak terkendali dan tak terduga, sering disertai perubahan kesadaran. Seorang penderita stroke mungkin akan mengalami kejang tidak lama setelah serangan stroke atau beberapa bulan kemudian. Obat-obatan yang digunakan untuk kejang berbeda dari obat untuk mencegah stroke. Kejang ini merupakan suatu bentuk efek listrik dalam otak yang mengakibatkan serangkaian aktivitas tak normal di bagian terjadinya kerusakan. Hal ini menyebabkan tubuh bergerak sesuai dengan aktivitas yang terjadi dalam otak. Biasanya kejang terjadi ketika lapisan motorik otak terserang stroke, yaitu bagian otak yang berhubungan dengan gerakan.

Satu hal yang membuat kejang sulit dijelaskan adalah hubungannya dengan kemungkinan serangan stroke lanjutan. Secara umum, seseorang yang pulih dari stroke akan lebih terjamin bila sering ditemani oleh sahabat atau kerabatnya, terutama pasca serangan stroke.

Dokter akan memberi tahu kemungkinan terjadinya kejang. Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar risiko terserang kejang, sebaiknya tanyakan pada dokter.

Pengobatan sebagai langkah pencegahan kejang dapat dimulai pasca serangan stroke, tergantung kondisi. Langkah pencegahan kejang yang semakin baik tentunya akan dapat mengurangi peluang terulangnya stroke maupun kerusakan terhadap otak. Beberapa jenis stroke yang berada di lokasi tertentu dalam otak tidak berpeluang sama sekali untuk menyebabkan kejang. Ahli saraf dapat memberi tahu tentang peluang terserang stroke berdasarkan lokasi stroke di dalam otak.

Bagaimana cara mengatasi kejang setelah stroke?

Bila Anda mengalami kejang setelah stroke, tidak berarti Anda akan selamanya hidup dengan pengobatan. Beberapa orang mengalami kejang setelah stroke selama beberapa tahun lamanya dan setelah itu sembuh.

Namun di sisi lain, kejang setelah stroke tidak boleh diabaikan. Pengobatan preventif adalah cara paling aman untuk pergi dan kemungkinan akan menurunkan frekuensi dan tingkat keparahan kejang berulang serta melindungi otak dari kerusakan.

Penyesuaian obat anti kejang mungkin memakan waktu lama. Mungkin ada efek samping dan juga dosis harus dimodifikasi untuk mencegah kambuhnya kejang.

Mengemudi tidak aman bagi mereka yang mengalami kejang dan belum benar-benar pulih, baik itu pengemudi, penumpang, pengendara lain, bahkan pejalan kaki.

Jika terjadi kejang, tidak berarti bahwa proses pemulihan tidak berhasil atau akan terserang stroke yang baru.

Beberapa orang dapat mengenali ciri-ciri akan terjadinya kejang. Hal ini sering disebut ‘aura’. Beristirahat dan mencari tempat aman cukup penting bagi mereka yang memiliki aura. Beberapa dokter menyarankan penggunaan obat reaksi cepat untuk mencegah kejang ketika aura mulai terasa. Hal ini bergantung pada jenis kejang, jenis stroke, serta rutinitas pengobatan.

Setelah mengalami kejang, biasanya orang akan merasa pusing dan kelelahan. Istirahat sangatlah penting.

Kebiasaan juga dapat meningkatkan peluang terjadinya kejang. Alkohol, kurang tidur, stres, kurang gizi, demam, serta penyakit lain adalah pemicu kejang.

Pengobatan rutin sangatlah penting. Melewatkan jadwal pengobatan akan memicu kambuhnya kejang.

Tidak boleh menghentikan pengobatan secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan dari dokter. Penghentian pengobatan secara tiba-tiba dapat memicu terjadinya kejang. Jika mengalami efek samping, segera hubungi dokter Anda. Terdapat cara aman untuk mengubah metode pengobatan maupun dosis obat.
Bagi beberapa penderita stroke, kejang bisa terjadi setelah stroke. Kejang bisa berbahaya, terutama ketika mengemudi, memanjat tangg,a atau bekerja dengan mesin. Kejang dapat dikelola dan disembuhkan. Semakin banyak yang diketahui, semakin besar peluang untuk mengelola kejang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

    Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

    Waktu kecil Anda mungkin sering diingatkan bahwa gerimis bikin sakit. Namun, benarkah lebih aman main hujan-hujanan daripada kena gerimis? Cek di sini, yuk!

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 31/05/2020 . Waktu baca 5 menit

    Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

    Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 26/05/2020 . Waktu baca 6 menit

    Konsumsi Makanan Tertentu Dapat Berpengaruh pada Jenis Stroke Berbeda

    Penelitian terbaru memaparkan bahwa makanan tertentu dapat berpengaruh terhadap risiko pada jenis stroke yang bebreda. Bagaimana penjelasannya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Stroke, Health Centers 17/05/2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    dampak stroke pada anak

    Stroke pada Anak, Apakah Masih Bisa Sembuh?

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 28/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    apa itu kolesterol

    7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    arti kedutan

    Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    minyak esensial

    6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit