Jika Anda pernah mengalami stroke, Anda mungkin akan menderita kelemahan otot wajah, lengan, atau kaki. Biasanya, hanya salah satu sisi tubuh yang akan terpengaruh. Stroke yang mempengaruhi koordinasi tubuh dapat mengakibatkan kesulitan bergerak bahkan ketika otot Anda tidak menjadi lemah.

Selain itu, setelah stroke, banyak penderita stroke menderita kebingungan, kesulitan berkomunikasi, kesulitan menelan, nyeri kepala, perubahan suasana hati, dan berbagai masalah lain yang membuat kesulitan untuk bangun dan bergerak dengan aman.

Pasien yang menderita komplikasi stroke parah dan mengancam kehidupan dapat dimonitor di unit perawatan intensif sampai bahaya tersebut ditangani. Kadang-kadang, pasien yang tidak stabil secara fisik butuh berbaring di tempat tidur demi keamanannya.

Rehabilitasi merupakan bagian penting dari pemulihan stroke dan beberapa pasien cukup beruntung untuk dapat memulai terapi fisik atau terapi okupasi setelah stroke.

Mengapa kelemahan otot terjadi?

Ketika otot-otot tidak digunakan, suatu kondisi yang disebut atrofi sering terjadi. Atrofi adalah menyusutnya jaringan otot. Jika latihan fisik di gym akan melatih otot, memicu otot untuk tumbuh kuat dan lebih besar, atrofi justru sebaliknya. Atrofi adalah berkurang atau hilangnya massa otot akibat otot sudah terlalu lama tidak digunakan.
Kurangnya aktivitas menyebabkan otot menyusut dan lemah. Setelah penderita stroke siap untuk aktif kembali, lemahnya otot atrofi ditambah lemah akibat dari stroke membuat olahraga menjadi tantangan yang sulit.

Bagaimana cara mengendalikan dan mengatasi atrofi?

Salah satu metode yang digunakan untuk memulai aktivitas fisik sebelum pasien siap melakukan terapi adalah menggerakan lengan dan kaki pasien secara perlahan. Hal ini sering dilakukan untuk pasien stroke di rumah sakit yang tidak mampu untuk melakukan aktivitas. Ada beberapa manfaat dari menggerakkan otot pasif, yaitu membantu untuk menghindari luka akibat tekanan pada satu bagian tubuh ketika berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi dalam waktu yang lama. Hal ini dapat membantu mencegah penggumpalan darah yang dapat terjadi pada lengan atau kaki karena kurang bergerak. Gerakan pasif telah juga diyakini sebagai metode mencegah pembekuan darah. Gerakan pasif dapat membantu untuk meminimalkan beberapa kerusakan saraf dan kekakuan otot yang biasanya terjadi selama tidak aktifnya otot dalam waktu lama.

Meski atrofi adalah kondisi yang tidak menyenangkan, ini dapat disembuhkan. Banyak pasien stroke menjadi tertekan ketika mereka mengamati tubuh kurus mereka yang tampak lemah dan kurang gizi. Setelah stroke, gangguan makan merupakan hal umum bagi penderita stroke sehingga berat badan langsung turun setelah stroke. Bahkan dengan upaya optimal memberikan makan di rumah sakit, banyak pasien yang mengalami kesulitan menelan sehinggaberat badan pun tetap turun drastis.  Keluarga sering kali sangat prihatin melihat otot kurus anggota keluarga yang disayanginya itu.

Namun, melanjutkan nutrisi dan aktivitas fisik secara perlahan dapat membantu menyembuhkan atrofi, memungkinkan otot untuk memperbaiki ukuran dan bentuknya. Butuh beberapa waktu untuk mengembangkan dan membangun kembali otot. Setelah penderita stroke mulai melanjutkan kegiatan fisik dengan terapi fisik yang aman di rumah, nafsu makan akan mulai membaik. Sering kali dibutuhkan perencanaan dan perhatian khusus untuk menjaga asupan protein yang baik dan kalori yang cukup. Kegiatan ringan seperti berjalan beberapa langkah atau bahkan mandi mungkin tampak melelahkan pada awalnya. Ekspektasi dan peningkatan secara bertahap dapat membantu mencegah keputusasaan. Otot yang terganggu akibat stroke masih bisa membaik berkat gerakan pasif jangka panjang. Hal ini membantu koordinasi dan kesehatan secara keseluruhan.

Apa yang harus saya ingat?

Atrofi merupakan konsekuensi umum dari kurangnya penggunaan otot. Dengan waktu, latihan, dan gizi yang baik penderita stroke dapat pulih dari atrofi.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca