20 Komplikasi dan Bahaya HIV/AIDS pada Kesehatan Tubuh

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Februari 2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

HIV/AIDS adalah penyakit kronis yang melemahkan sistem imun tubuh. Infeksi penyebab HIV dan AIDS itu sendiri sangat rentan menular dari satu orang ke lainnya. Nah, bahaya dari HIV dan AIDS bukan cuma dari kemudahan cara penularannya saja. Bagi pengidapnya, komplikasi HIV dan AIDS dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.

Bahaya HIV dan AIDS pada daya tahan tubuh

HIV (human immunodeficiency virus) adalah jenis virus yang menyerang dan menghancurkan sel CD4 alias sel T.

Sel CD4 adalah jenis sel darah putih yang menjadi bagian penting dari sistem kekebalan tubh manusia. Fungsi utama dari sel CD4 adalah untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme berbahaya (bakteri, virus, parasit, jamur, dan lain sebagainya).

Seseorang dapat dikatakan terinfeksi HIV ketika jumlah virus (viral load) sudah mencapai 100.000 kopi atau lebih per 1 ml sampel darah.

Pada orang yang sehat, kisaran normal untuk jumlah sel CD4 adalah sekitar 500-1,500. Tanpa pengobatan, infeksi HIV kronis seiring waktu dapat memunculkan komplikasi berupa penyakit AIDS ketika jumlah cell T atau sel CD4 turun hingga di bawah 200. 

Komplikasi HIV dan AIDS yang berupa infeksi

Salah satu bahaya serius yang mengintai orang HIV dan AIDS (ODHA) adalah macam-macam infeksi yang dinamakan dengan infeksi oportunistik.

Disebut oportunistik karena berbagai macam mikroba penyebab infeksi (termasuk bakteri, jamur, parasit, dan virus lainnya) muncul mengambil kesempatan selagi daya tahan tubuh sedang lemah-lemahnya.

Pasalnya dalam keadaan normal, kuman penyebab penyakit akan dapat mudah dilawan oleh sistem imun. Namun karena jumlah sel CD4 sudah sangat minim, tubuh akan kesulitan memberantas infeksinya. Pada beberapa kasus, infeksi oportunistik dapat mulai terjadi ketika jumlah sel CD4 berada di kisaran sekitar 500.

Komplikasi HIV/AIDS ini tidak dapat dilawan dengan mudah sehingga makin menurunkan kondisi kesehatan penderita dengan cepat.

Berikut adalah beberapa jenis infeksi yang rentan menyerang orang dengan HIV dan AIDS:

1. Candidiasis

Candidiasis adalah komplikasi HIV/AIDS berupa infeksi jamur yang menyebabkan timbulnya lapisan putih tebal pada kulit, kuku, serta selaput lendir seperti mulut, vagina atau penis, dan kerongkongan. 

Bahaya candidiasis sebagai komplikasi HIV dan AIDS ialah infeksi ini dapat cepat menyebar ke organ tubuh lain jika tidak diobati.

2. Infeksi jamur pada paru

Berbagai macam infeksi paru dapat menjadi salah satu bahaya dari HIV/AIDS yang umum terjadi. Ambil contoh Coccidioidomycosis. Infeksi jamur yang menyerang paru-paru ini dapat muncul ketika ODHA menghirup udara mengandung spora jamur di daerah beriklim panas dan kering.

Jenis infeksi paru lainnya yang dapat menjadi komplikasi HIV/AIDS adalah cryptococcosis. Cryptococcosis pada akhirnya dapat menyebabkan pneumonia.  Infeksi tersebut kemudian dapat menyebar ke otak dan menyebabkan pembengkakan. Infeksi cryptococcosis juga bisa memengaruhi tulang, kulit, dan saluran kemih.

Bahaya HIV/AIDS pada paru juga bisa memicu infeksi jamur Histoplasma capsulatum dan pneumocystis carinii pneumonia (PCP). Dua jenis infeksi ini sama-sama dapat memicu komplikasi berupa pneumonia pada orang dengan HIV/AIDS.

Pengidap HIV delapan kali lebih berisiko untuk dirawat di rumah sakit karena komplikasi pneumonia dibanding dengan orang sehat. Maka dari itu, orang dengan HIV dan AIDS harus mendapatkan vaksin antipneumonia untuk mencegah bahaya lain yang lebih mengancam.

3. Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah jenis infeksi paru yang disebabkan oleh keluarga bakteri Mycobacterium avium complex. Ada dua jenis bakteri yang mask dalam keluarga ini, yaitu Mycobacterium avium dan Mycobacterium intracellulare.

Bahkan pada kenyataannya, hampir semua penderita HIV sudah memiliki bakteri TB dalam tubuhnya meski belum tentu aktif. Bakteri TB pada ODHA lebih cepat menjadi aktif dan sulit diobati dibanding pada orang sehat.

Itu kenapa setiap ODHA harus menjalani tes TB sedini mungkin untuk mengetahui berapa besar risikonya.

4. Infeksi parasit pada pencernaan

Seiring melemahnya sistem imun, parasit dapat pula menginfeksi dan menyerang pencernaan. Beberapa contoh infeksi parasit yang dapat menjadi bahaya bagi pengidap HIV/AIDS adalah cryptosporidiosis dan isosporiasis.

Dua jenis infeksi ini disebabkan oleh konsumsi makanan dan/atau minuman yang terkontaminasi parasit. Cryptosporidiosis disebabkan oleh parasit Cryptosporidium yang menyerang usus, sementara isosporiasis disebabkan oleh protozoa Isospora belli

Baik cryptosporidiosis dan isosporiasis sama-sama menyebabkan demam, muntah, dan diare parah. Pada pengidap HIV/AIDS, komplikasi penyakit ini dapat sampai menyebabkan berat badan turun drastis. Pasalnya, organisme tersebut menginfeksi sel-sel yang melapisi usus kecil dapat menyebabkan tubuh tidak mampu menyerap nutrisi dengan baik.

5. Herpes simplex (HSV)

Memiliki HIV/AIDS dapat meningkat risiko Anda mengalami penyakit kelamin menular lain, seperti herpes, yang juga sama bahaya bagi kesehatan.

Herpes adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV). Pada orang dengan HIV dan AIDS, komplikasi herpes tidak hanya berupa pembentukan kutil kelamin tapi juga risiko pneumonia dan kanker serviks. 

6. Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML)

PML adalah infeksi virus langka yang dapat menjadi bahaya HIV dan AIDS. PML menyerang sistem saraf pusat di otak, ditandai oleh pembentukan lesi luas akibat infeksi oleh papovavirus.

Komplikasi dari bahaya HIV/AIDS ini dapat menyebabkan kebutaan, gangguan mental, dan lumpuh. 

7. Salmonella septicemia

Salmonella merupakan infeksi yang bisa didapat lewat konsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri Salmonella typhii (Salmonella tp).  Infeksi salmonella dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah-muntah, dan diare.

Pada pengidap HIV dan AIDS, bahaya dari infeksi ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih parah disebut salmonella septicemia.

Septikemia adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami keracunan darah akibat bakteri dalam jumlah besar masuk ke dalam aliran darah. Ketika sudah sangat parah, bakteri Salmonella dalam darah dapat menginfeksi seluruh tubuh dalam satu waktu.

Syok akibat salmonella septicemia dapat berakibat fatal.

8. Toksoplasmosis

Toksoplasmosis adalah komplikasi HIV/AIDS yang disebabkan oleh parasit bernama Toxoplasma gondii.

Toksoplasmosis bahaya bagi pengidap HIV dan AIDS karena sangat mudah  berkembang di dalam tubuh yang sistem kekebalannya lemah. 

Parasit tersebut dapat menginfeksi tidak hanya mata dan paru pengidap HIV, tapi juga bahaya bagi jantung, hati, hingga otak.

Komplikasi HIV dan AIDS berupa infeksi toksoplasma yang menyerang mata akan menimbulkan bercak putih kekuningan atau abu-abu terang pada badan bening mata (humor vitreous) yang membuat penglihatan terganggu.

Ketika infeksi parasit toxoplasma sudah mencapai otak, toksoplasmosis dapat menyebabkan kejang.

Selain dari kotoran hewan, parasit toxoplasma ini juga bisa berasal dari makan daging merah dan dan daging babi yang dimasak kurang matang.

Bahaya HIV dan AIDS yang berupa kanker

Tidak cuma infeksi. Setiap pengidap HV dan AIDS (ODHA) juga harus waspada terhadap bahaya kanker yang mengintai kesehatan.

Menurut sebuah penelitian tahun 2016 dari jurnal PLOS ONE, pengidap HIV khususnya akan lebih rentan terkena kanker karena kadar sel CD4 yang rendah dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan pembentukan sel kanker di awal.

Berikut adalah beberapa jenis kanker yang menjadi komplikasi HIV dan AIDS. 

1. Sarkoma kaposi

Sarkoma kaposi adalah jenis kanker yang berkembang dari jaringan di sekitar pembuluh darah, jaringan pembuluh limfa, jaringan di bawah kulit, jaringan di sepanjang mulut, hidung, dan tenggorokan atau di dalam organ tubuh lainnya.

Sarkoma kaposi umumnya dijadikan penanda oleh dokter bahwa HIV yang Anda alami sudah memasuki stadium tiga.

2. Limfoma

Orang dengan HIV dan AIDS berisiko mengalami kanker limfoma.

Limfoma adalah bentuk kanker darah yang memengaruhi kelenjar getah bening. Bahaya kanker ini dapat memengaruhi bagian tubuh mana pun dari pengidap HIV/AIDS yang terdapat kelenjar getah bening, seperti di sumsum tulang, amandel, dan juga saluran pencernaan. 

Seperti sarkoma kaposi, dokter dapat menggunakan perkembangan limfoma sebagai cara mendiagnosis HIV stadium 3.

3. Kanker serviks

Kanker serviks adalah komplikasi HIV/AIDS yang biasanya berawal dari infeksi HPV kronis oportunis. Kanker serviks terjadi dan berkembang di leher rahim. 

4. Kanker anus

Menurut sebuah penelitian tahun 2012 dari jurnal Clinical Infectious Disease, Kanker anus adalah salah satu komplikasi HIV dan AIDS yang risiko bahaya penyakitnya cenderung lebih tinggi pada pria pengidap HIV dan AIDS yang berhubungan seks dengan pria (gay).

Komplikasi dan bahaya HIV/AIDS pada mata

Tujuh dari 10 orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS (ODHA) akan mengalami komplikasi HIV pada mata mereka. Itu berarti hampir 80 persen orang dengan HIV/AIDS mengalami bahaya yang mengganggu penglihatannya. Gangguan penglihatan akibat HIV/AIDS dapat berwujud ringan seperti penglihatan kabur sampai yang mengarah pada kebutaan, seperti perdarahan retina.

Pada awalnya, komplikasi HIV pada mata mungkin tidak menunjukkan gejala berarti. Namun ketika infeksi HIV telah mencapai stadium lanjut, gejala dapat berupa:

  • Penglihatan kabur atau penglihatan ganda. Anda juga mulai tidak bisa membedakan warna dengan jelas.
  • Terlihat bintik-bintik di bidang penglihatan Anda
  • Mata berair atau merah
  • Mata Anda lebih sensitif terhadap cahaya
  • Mata terasa sakit, nyeri

Itu sebabnya jika Anda positif terinfeksi HIV/AIDS, penting untuk memeriksakan mata Anda secara teratur untuk menghindari bahaya ini.

Selain infeksi perdarahan retina, berbagai komplikasi HIV berikut dapat menyerang mata jika Anda tidak segera mendapatkan pengobatan.

1.Sarkoma kaposi mata

Sarkoma kaposi (KS) adalah tumor kulit yang berwarna merah keunguan yang tumbuh di bagian dalam dan sekitar kelopak mata. Bahaya HIV AIDS yang menyebabkan tumor ini ditandai dengan peradangan, namun tidak menyebabkan rasa sakit. Komplikasi HIV ini disebabkan oleh infeksi virus herpes 8 (HHV8).

Dengan adanya obat HIV seperti antiretroviral (ART), risiko sarkoma kaposi pada ODHA kini jauh menurun. Namun sarkoma kaposi akan lebih bahaya pada pengidap HIV dan AIDS dengan jumlah CD4 rendah, terutama jika terapi tidak dilanjutkan.

2. Retinitis

Retinitis termasuk peradangan retina serius yang seringnya diakibatkan oleh cytomegalovirus (CMV retinitis). Bahaya infeksi mata ini dapat menyerang 20-30 persen pengidap HIV dan AIDS yang memiliki jumlah sel T sangat rendah.

Infeksi ini berkembang cukup cepat, hanya dalam hitungan minggu. Retinitis juga bisa disebabkan oleh virus penyebab sipilis (Syphillis retinitis).

Tanpa campur tangan medis, infeksi dapat menyebar dan menimbulkan perdarahan retina yang bisa berujung pada kebutaan permanen. Retinitis dapat menginfeksi salah satu sisi mata maupun keduanya.

Bahaya HIV AIDS berupa retinitis ini tidak bisa disembuhkan, tetapi pengobatan dengan antivirus valganciclovir dianggap efektif untuk memperlambat perkembangan cytomegalovirus.

3. Herpes mata (herpes simplex keratitis)

Herpes mata disebabkan oleh virus HSV-1 yang menyerang kelopak mata, kornea, retina, dan konjungtiva (lapisan tipis yang melindungi bagian putih mata). Jenis herpes mata yang kerap menjadi bahaya HIV/AIDS adalah keratitis epitel. Pada jenis ini, virus ini aktif di lapisan epitel kornea yang paling tipis.

Virus herpes simpleks dapat memengaruhi lapisan kornea yang lebih dalam, yang dikenal sebagai stroma. Bahaya HIV AIDS seperti herpes mata ini disebut dengan keratitis stromal. Herpes mata jenis ini lebih serius daripada keratitis epitel karena dapat merusak kornea mata yang cukup parah bahkan menyebabkan kebutaan.

Bahaya HIV AIDS seperti herpes mata tidak menular lewat aktivitas seksual berisiko. Infeksi ini lebih rentan menyebar dari kontak langsung dengan kulit atau air liur yang terinfeksi HSV-1.

4. Keratitis

Selain diakibatkan oleh infeksi virus herpes, keratitis (peradangan kornea) juga dapat disebabkan oleh virus varicella zoster (VZV) dan jamur candidiasis yang seringnya menjadi infeksi oportunistik. Meski begitu, bahaya HIV/AIDS ini bisa juga disebabkan oleh parasit lainnya.

Gejala keratitis adalah mata merah yang terasa sakit, gatal, penglihatan kabur, serta sensitivitas terhadap cahaya. Keratitis bisa menginfeksi hanya satu atau dua mata sekaligus. Komplikasi dari bahaya HIV AIDS ini bisa mengakibatkan kebutaan.

Pengobatan keratitis akan tergantung dari infeksi penyebabnya. Keratitis yang disebabkan virus dapat diresepkan acyclovir, sementara infeksi candidiasis dapat ditangani dengan obat antijamur.

5. Iridocyclitis

Iridocyclitis adalah peradangan iris, yang dapat dikaitkan dengan sejumlah parasit penyebab infeksi oportunistik. Contohnya adalah cytolomegavirus (CMV), virus herpes simpleks (HSV), toksoplasmosis, sipilis, tuberkulosis, dan virus varicella zoster (VZV).

Bahaya iridocyclitis yang paling serius cenderung ditemukan pada pengidap HIV/AIDS yang memiliki jumlah CD4 sangat rendah.

Iridocyclitis juga dapat menjadi efek samping dari obat-obatan seperti rifabutin (digunakan dalam terapi tuberkulosis) dan cidofovir (digunakan untuk mengobati kasus CMV berat).

Infeksi ini dapat terjadi pada satu atau kedua mata, dengan gejala yang bisa meliputi mata merah, kepekaan berlebihan terhadap cahaya (fotofobia), dan pupil yang mengecil.

Sama seperti infeksi mata lainnya, iridocyclitis dapat berangsur membaik dengan terapi antiretroviral yang dibarengi dengan pengobatan infeksi penyebabnya.

Komplikasi HIV dan AIDS lain yang mungkin terjadi

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan penyakit kronis yang muncul ketika stadium infeksi HIV sudah sangat parah. Biasanya kondisi ini ditandai dengan munculnya penyakit kronis lain, seperti kanker dan berbagai infeksi.

Pada tahap ini, seorang pengidap AIDS dapat mengalami:

1. Wasting syndrome

Wasting syndrome adalah kumpulan gejala yang menyebabkan orang HIV susah gemuk akibat penurunan berat badan, diare parah, serta kelemahan kronis.

Saat ini, komplikasi wasting syndrome tidak lagi menjadi momok bahaya bagi pengidap HIV karena rejimen pengobatan HIV telah terbukti mengurangi jumlah kasusnya. Meskipun begitu, komplikasi ini masih memengaruhi banyak orang yang memiliki AIDS.

2. Masalah neurologis

AIDS dapat menyebabkan bahaya berupa gangguan neurologis meskipun tidak menginfeksi sel-sel saraf. Komplikasi AIDS yang memengaruhi saraf dapat membuat pengidap mudah linglung, pelupa, depresi, gelisah, dan kesulitan berjalan.

Salah satu komplikasi neurologis dari HIV/AIDS yang paling umum adalah demensia, yang menyebabkan perubahan perilaku dan menurunnya fungsi mental.

3. Penyakit ginjal

HIV-associated nephropathy (HIVAN) adalah peradangan pada filter kecil dalam ginjal Anda. Filter ini berfungsi untuk membuang kelebihan cairan dan ampas dari aliran darah dan meneruskannya ke urin. Risiko komplikasi dan bahaya HIVAN lebih tinggi pada orang kulit hitam yang mengidap HIV dan AIDS.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Obat untuk menyembuhkan pasien HIV memang belum ditemukan. Namun, untuk kedua kalinya dalam sejarah ada pasien yang dinyatakan sembuh dari HIV.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Berita Luar Negeri, Berita 14 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Cara Mengobati Penyakit HIV, Plus Mengatasi Gejala-Gejala yang Muncul

HIV tidak ada obat penyembuhnya. Meski begitu, bukan berarti tidak ada cara sama sekali untuk mengatasi setiap gejala penyakit HIV yang muncul.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
HIV/AIDS, Health Centers 5 Maret 2020 . Waktu baca 8 menit

Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Bila anak terkena HIV dari orang tuanya, perlukah orang tua memberi tahu hal tersebut ke anak? Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan pada anak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
HIV/AIDS, Health Centers 22 November 2019 . Waktu baca 4 menit

6 Pilihan Obat Antibiotik untuk Mengatasi Diare, dan Aturan Minumnya

Diare umumnya disebabkan karena bakteri atau parasit yang menginfeksi saluran pencernaan Anda. Apa saja pilihan obat antibiotik untuk diare dari dokter?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Diare, Health Centers 15 September 2019 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Pendidikan seks cegah HIV/AIDS

Pentingnya Edukasi Seksual dan Potensi HIV/AIDS pada Remaja

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Moluskum Kontagiosum atau molluscum contagiosum

Moluskum Kontagiosum (Molluscum Contagiosum)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 9 November 2020 . Waktu baca 6 menit
penyakit berisiko pada ODHA

Penyakit yang Paling Berisiko Dialami oleh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 27 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
merawat anak HIV AIDS

Cara Merawat Anak yang Terkena HIV/AIDS

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21 Maret 2020 . Waktu baca 3 menit