Bagaimana Resistensi Insulin Dapat Menyebabkan Tekanan Darah Tinggi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Selama ini, penyebab hipertensi selalu dikaitkan dengan kebanyakan makan makanan asin dan berlemak. Namun, bukan dua hal itu saja yang bisa menyebabkan darah tinggi. Resistensi insulin juga bisa meningkatkan peluang Anda mengalami hipertensi. Resistensi insulin adalah kondisi yang umum ditunjukkan oleh orang-orang diabetes.

Sayangnya meski banyak orang yang datang ke rumah sakit dengan kasus resistensi insulin, jarang dokter yang menyebutkan tekanan darah tinggi sebagai penyebabnya.

Resistensi insulin adalah faktor risiko hipertensi yang sering luput diperhatikan

Resistensi insulin adalah suatu kondisi tubuh yang tidak merespon hormon insulin dengan baik. Ini menyebabkan tubuh tidak bisa menyerap gula dalam darah (glukosa) untuk dijadikan energi atau simpanan lemak.

Orang yang memiliki resistensi insulin biasanya menghasilkan insulin lebih banyak daripada yang dibutuhkan, sehingga penyerapan glukosa tidak berjalan efektif. Akibatnya, kadar gula dalam darah semakin meningkat dan kemudian menyebabkan diabetes.

Penyebab resistensi insulin menjadi salah satu faktor risiko hipertensi adalah karena kondisi ini mengganggu metabolisme lemak serta meningkatkan kolesterol dan trigliserida. Pada akhirnya, resistensi insulin mengakibatkan peningkatan lemak tubuh dan obesitas.

Penumpukan lemak dalam tubuh bisa mengganggu kerja sistem saraf, termasuk sinyal yang mengatur tekanan darah penyebab hipertensi. Efeknya bisa menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah dan pengerutan pembuluh darah. 

Terlebih, resistensi insulin memicu ketidakseimbangan kadar garam dan kalium yang bisa meningkatkan volume darah serta kalsium dan magnesium yang menyebabkan penyempitan arteri. Itu mengapa resistensi insulin dapat menaikkan tekanan darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

diabetes mudah lelah

Ciri-ciri tubuh mengalami resistensi insulin

Resistensi insulin adalah kondisi yang umum ditunjukkan oleh pemilik diabetes tipe 2. Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, peluang Anda untuk mengalami resistensi insulin bisa mencapai 50 persen.

Selain itu, resistensi insulin juga dipengaruhi oleh hubungan genetik yang kuat. Maka, Anda harus lebih waspada terhadap risiko ini jika riwayat keluarga Anda memiliki obesitas, hipertensi, diabetes tipe 2, atau penyakit jantung.

Resistensi insulin biasanya tidak menunjukkan gejala. Namun, jika resistensi insulin sudah sampai menyebabkan peningkatan kadar gula darah lebih tinggi, barulah dapat menyebabkan gejala seperti kelelahan, kelaparan, dan sulit berkonsentrasi.

Pentingnya menjaga gaya hidup sehat untuk mencegah resistensi insulin dan risiko hipertensi

Menjaga pola makan sehat dan seimbang serta rutin berolahraga dapat menstabilkan gula darah dan tekanan darah dalam waktu yang bersamaan. Mengelola gaya hidup sehat juga mengurangi kebutuhan untuk minum obat diabetes maupun hipertensi.

Batasilah makan makanan kaya karbohidrat sederhana, seperti masi, roti putih, kue-kue, makanan bertepung (gorengan, misalnya), makanan berlemak, makanan asin, serta makanan dan minuman manis. Sebagai gantinya, perbanyak makan sayur dan buah-buahan segar, kacang dan biji-bijian, serta gandum utuh.

Sebuah studi yang diterbitkan baru-baru ini di Lancet menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi buah-buahan dan sayuran untuk setidaknya lima porsi sehari dapat menurunkan tekanan darah.

Selain meningkatkan respon insulin, buah-buahan dan sayuran juga menjadi sumber kalium terbaik yang dapat membantu mengendalikan kenaikan tekanan darah akibat asupan garam.

Rutinitas olahraga pun tidak boleh Anda lupakan. Aktivitas fisik secara teratur meningkatkan sensitivitas insulin, membantu mengontrol berat badan, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengurangi hormon stres. Semua kegiatan olahraga akan membantu mengontrol tekanan darah.

Jika ingin mengonsumsi suplemen atau vitamin tertentu untuk membantu mengendalikan tekanan darah dan memperbaiki insulin, sebaiknya bicarakan dulu dengan dokter untuk mencari yang aman untuk Anda.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca