7 Mitos Tentang Hipertensi yang Ternyata Salah Besar dan Menyesatkan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Tak salah untuk selalu mencari informasi di internet dan dari orang-orang terdekat untuk membantu Anda mengatasi hipertensi. Namun, Anda juga harus tetap bijak dan hati-hati setiap kali menerima informasi baru. Jangan sampai termakan oleh hoaks dan mitos yang akhirnya malah memperburuk kondisi Anda. Berikut berbagai mitos hipertensi yang salah kaprah dan tak perlu lagi Anda percayai.

Berbagai mitos hipertensi yang salah kaprah

1. Saya pasti kena hipertensi jika orangtua memiliki riwayat penyakit ini

riwayat albinisme dalam keluarga

Kebanyakan orang masih sangat mempercayai mitos hipertensi satu ini. Tekanan darah tinggi memang dapat menurun dalam keluarga. Anda akan lebih rentan mengalami hipertensi jika ada orangtua atau kerabat sedarah yang juga memiliki tekanan darah tinggi. Namun, penyesuaian gaya hidup yang lebih sehat bisa memungkinkan orang-orang dengan riwayat hipertensi untuk menghindari kondisi ini.

Perubahan gaya hidup yang dapat mencegah hipertensi termasuk:

  • Makan makanan untuk jantung sehat, termasuk membatasi garam sampai kurang dari 1500 mg per hari.
  • Lakukan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur.
  • Menjaga berat badan yang sehat.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Hindari asap rokok dan berhenti merokok.
  • Minum obat darah tinggi teratur, jika diresepkan
  • Batasi jumlah minuman keras, atau jangan minum sama sekali.

2. Memasak tanpa pakai garam sudah cukup untuk mencegah hipertensi

sea salt garam laut

Garam memang musuh hipertensi. Namun, tak hanya garam meja saja. Anda juga harus mengurangi garam dalam bentuk lainnya. Hingga 75 persen dari garam yang kita konsumsi tersembunyi dalam makanan olahan dan kemasan seperti saus tomat, sup, bumbu, makanan kaleng, dan bumbu campuran.

Oleh sebab itu, ketika membeli makanan siap saji dan dikemas, bacalah label kemasannya. Perhatikan kata-kata “sodium, “natrium”, dan simbol “Na” pada label. Pasalnya kata-kata ini menunjukkan bahwa adanya senyawa sodium atau garam dalam makanan tersebut.

3. Garam laut adalah alternatif garam yang rendah natrium

garam himalaya mengobati eksim

Struktur kimia garam laut adalah sama seperti garam meja (garam dapur), yaitu kombinasi dari dua mineral natrium (Na) dan klorida (Cl). Garam laut tetap mengandung 40% natrium sehingga berjumlah sama terhadap total konsumsi natrium harian Anda.

Jadi, penggunaan garam laut yang berlebihan tentu tetap tidak disarankan. Pastikan Anda sama-sama membatasi asupan garam meja dan garam laut apabila ingin mengontrol tekanan darah.

4. Tidak merasakan satu pun gejala hipertensi artinya terbebas dari risiko penyakit ini

8 Komplikasi Hipertensi yang Harus Anda Waspadai

Mitos hipertensi lainnya yang juga banyak dipercaya masyarakat sampai saat ini adalah kalau Anda tidak mengalami gejala hipertensi, artinya Anda tidak punya tekanan darah tinggi. Padahal, tidak selalu seperti itu.

Lebih dari 25 persen penduduk Indonesia memiliki hipertensi, tapi banyak dari mereka yang tidak tahu mereka mengidapnya atau tidak menunjukkan gejala sama sekali. Bahkan, banyak orang memiliki tekanan darah tinggi selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya. Tekanan darah tinggi sering disebut “silent killer” karena tidak memiliki gejala, sehingga Anda mungkin tidak menyadari bahwa penyakit ini telah merusak arteri, jantung, dan organ lainnya.

Jadi, jangan membuat kesalahan hanya karena tidak menunjukkan gejala hipertensi maka risiko terkena penyakit ini menurun. Ingat, tekanan darah tinggi adalah kondisi yang serius. Jika tidak dikontrol, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan masalah kesehatan yang parah. Rutinlah cek tekanan darah Anda. Dengan memantau tekanan darah Anda secara rutin, maka Anda bisa segera melakukan tindak pencegahan ketika tekanan darah terus-menerus lebih tinggi dari biasanya.

5. Katanya, alkohol baik untuk jantung

toleransi alkohol; mudah mabuk

Jika Anda suka minum minuman beralkohol, termasuk anggur alias wine, kurangilah kebiasaan ini. Penggunaan alkohol secara teratur dan berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah secara dramatis. Hal ini juga dapat menyebabkan gagal jantung, menyebabkan stroke dan menghasilkan detak jantung yang tidak teratur.

Tak hanya itu. Terlalu banyak minum alkohol juga dapat meningkatkan risiko kadar trigliserida tinggi, kanker, obesitas, alkoholisme, bunuh diri, dan kecelakaan. Alkohol juga bisa sangat adiktif.

Batasi konsumsi tidak lebih dari dua minuman per hari untuk pria dan satu minuman per hari untuk wanita. Umumnya, satu minuman setara dengan 354 ml bir, 100 ml anggur, 44 ml liquor 80-proof, atau 29 ml liquor keras (100-proof).

6. Tidak perlu lagi cek tensi di rumah jika sudah cek di dokter

cek tekanan darah

Tekanan darah dapat berubah bergantung pada aktivitas yang Anda lakukan. Jadi, tekanan darah yang normal ketika dicek di rumah sakit, belum tentu menunjukkan hasil yang sama ketika dicek di rumah. Begitu pula sebaliknya.

Oleh sebab itu, pemantauan dan pencatatan pembacaan tekanan darah secara teratur dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi dokter untuk menentukan apakah Anda benar-benar memiliki tekanan darah tinggi atau tidak. Tak hanya itu, hal tersebut juga dapat membantu dokter untuk melihat apakah pengobatan Anda berhasil atau tidak.

Penting untuk mengukur tekanan darah pada waktu yang sama setiap hari, seperti pagi dan sore hari, atau seperti rekomendasi dokter Anda.

7. Tak perlu minum obat jika sudah merasa sehat

minum obat osteoporosis bisfosfonat

Tekanan darah tinggi adalah penyakit seumur hidup. Oleh sebab itu, orang dengan hipertensi harus rutin minum obat sesuai dengan resep dokter, meski kondisinya sehat-sehat saja. Pasalnya, ketika obat hipertensi tidak Anda minum sesuai dengan ketentuan, tekanan darah Anda akan jadi naik terus-terusan tidak terkendali. Maka itu, orang dengan tekanan darah tinggi harus minum obat hipertensi agar tekanan darahnya tidak melonjak drastis.

Ingat, jangan pernah berhenti atau mengganti obat tekanan darah tinggi tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter. Meskipun Anda sudah merasa lebih baik ataupun sehat.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca