5 Cara Mencegah Potensi Terjadinya Radang Usus Buntu

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Radang usus buntu (apendisitis) menyebabkan apendiks meradang. Kondisi ini perlu ditangani segera dengan obat antibiotik maupun operasi apendektomi, agar tidak menyebabkan usus buntu pecah atau komplikasi lain yang mengancam jiwa. Namun, adakah cara ampuh untuk mencegah terjadinya radang usus buntu? Simak ulasannya berikut ini.

Cara mencegah usus buntu, memangnya ada?

setelah operasi usus buntu

Usus buntu sebenarnya adalah organ kecil yang terletak pada ujung usus besar. Organ ini ternyata memiliki peran yang berhubungan dengan sistem imun, namun kerap kali mengalami penyumbatan yang dikenal dengan penyakit radang usus buntu atau apendisitis.

Penyakit apa pun, termasuk radang usus buntu tentu lebih baik dicegah ketimbang diobati. Mengingat radang usus buntu dapat menyebabkan dampak yang fatal dan umumnya pengobatannya berujung dengan operasi pembedahan.

Menurut Cleveland Clinic, tidak ada cara khusus untuk mencegah radang usus buntu. Namun, beberapa langkah pendekatan dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya apendisitis.

Berbagai cara yang berpotensi mencegah usus buntu

buah untuk anak

Meskipun tidak ada cara yang secara langsung dapat mencegah radang usus buntu, bukan berarti Anda berpasrah diri tanpa melakukan usaha apa pun. Tindakan pencegahan apendisitis akan dilakukan dengan menyesuaikan penyebab radang usus buntu.

Pada kebanyakan kasus, usus buntu yang meradang disebabkan oleh penyumbatan, infeksi, dan masalah kesehatan tertentu. Lebih jelasnya, beberapa cara yang bisa Anda terapkan untuk mencegah terjadinya penyumbatan yang berujung pada apendisitis, meliputi:

1. Makan makanan berserat

Penyumbatan pada usus buntu bisa terjadi karena adanya fekalit. Fekalit adalah penumpukan feses yang mengeras. Kondisi ini kemungkinan besar terjadi pada orang yang kurang makanan berserat. Seperti yang dilaporkan oleh Universitas Sumatera Utara pada studi tahun 2016.

Studi tersebut menunjukkan bahwa 14 dari 19 anak dengan kasus radang usus buntu akut, diketahui jarang mengonsumsi makanan berserat. Oleh karena itulah banyak ahli kesehatan yang menyarankan konsumsi makanan berserat adalah salah satu cara mencegah radang usus buntu akibat fekalit.

Serat makanan membantu menarik lebih banyak air ke usus besar sehingga tekstur feses tetap lunak dan mudah dikeluarkan dari tubuh. Selain itu, serat juga merangsang gerakan usus tetap normal. Itu artinya, baik makanan maupun feses akan melewati usus dengan lancar tanpa menimbulkan penumpukan.

Tidak hanya sampai di situ, sebuah penelitian yang dimuat dalam Biochemical Journal memperoleh hasil bahwa makanan yang kaya akan serat bisa membantu memberikan asupan sehat bagi bakteri baik yang ada dalam tubuh, termasuk di sistem pencernaan.

Anda bisa meningkatkan asupan makanan berserat dari sayur, buah, maupun kacang-kacangan, seperti apel, pir, pisang, brokoli, bayam, atau kacang polong. Kemudian, hindari beberapa makanan yang bisa memicu usus buntu, seperti makanan pedas yang penuh biji cabai.

2. Minum air putih

Agar cara mencegah radang usus buntu yang Anda lakukan efektif, seimbangkan konsumsi makanan berserat dengan cukup minum air. Memangnya, kenapa?

Minum air tidak hanya mencegah dehidrasi, tapi juga mendukung kinerja usus dan serat makanan berfungsi dengan baik di usus. Jika serat menarik air ke usus, tapi persediaan air di tubuh tidak mencukupi, serat tetap tidak bisa melunakkan feses.

Oleh karena itu, pastikan Anda cukup minum air putih setiap hari, setidaknya 8 gelas per hari. Selain air putih, Anda juga bisa mendapatkan cairan dari jus buah atau sup.

3. Makan dengan tenang

Selain pilihan makanan, Anda juga perlu menerapkan cara makan yang baik untuk mencegah peradangan usus buntu. Pasalnya, studi pada Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine menunjukkan bahwa 1 dari 7 kasus usus buntu terjadi akibat adanya penyumbatan biji-biji makanan.

Dari studi tersebut dapat disimpulkan bahwa cara mencegah usus buntu dapat dilakukan dengan memfokuskan diri ketika makan. Saat Anda memusatkan konsentrasi sepenuhnya, Anda akan mengunyah makanan hingga halus dan menyingkirkan biji-biji makanan yang tidak diperlu dimakan.

Jadi, saat makan sebaiknya Anda tidak mengobrol, main ponsel, atau melakukan berbagai kegiatan yang memecah konsentrasi.

4. Konsumsi makanan mengandung probiotik

Selain penyumbatan, radang usus buntu juga terjadi akibat adanya infeksi bakteri. Perlu Anda ketahui bahwa di dalam usus Anda hidup ribuan bakteri; yang baik dan buruk bagi pencernaan.

Anda bisa menjaga kestabilan bakteri ini, Anda bisa mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik, seperti yogurt, tempe, atau kimchi. Meskipun bukan cara yang dapat mencegah usus buntu secara langsung, konsumsi makanan probiotik tetap menjaga kesehatan sistem pencernaan.

5. Rutin cek kesehatan ke dokter

Selain penyebab, ada beberapa orang yang lebih rentan terkena radang usus buntu, salah satunya pernah mengalami cedera traumatis atau tumor di perut. Orang yang berisiko ini harus menerima perawatan medis yang sesuai.

Dengan mengobati kondisi tersebut, kemungkinan risiko radang usus buntu juga menurun. Ini menjadi salah satu cara mencegah terjadinya peradangan pada usus buntu bagi orang yang berisiko.

Cara mencegah usus buntu bertambah parah

Kanker kolorektal adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kanker yang bermula dari usus besar hingga rektum (anus). Kanker ini juga bisa disebut sebagai kanker usus besar atau kanker rektum secara terpisah, tergantung pada lokasi bermulanya kanker. Apa dampaknya memiliki kanker usus besar pada kesehatan sistem pencernaan? Begini penjelasannya. Cara kerja sistem pencernaan tubuh yang normal Usus besar dan rektum adalah bagian dari sistem pencernaan. Bagian pertama dari sistem pencernaan (lambung dan usus halus) memproses makanan sebagai energi, sementara bagian terakhir (usus besar dan rektum) menyerap cairan untuk membentuk kotoran padat yang kemudian dikeluarkan dari tubuh. Setelah dikunyah dan ditelan, makanan bergerak dari kerongkongan menuju lambung. Di sinilah makanan sebagian diuraikan dan kemudian dikirim ke usus halus, atau disebut juga usus kecil. Usus ini disebut kecil karena lebih sempit daripada usus besar (kolon dan rektum), tetapi usus halus sebenarnya merupakan bagian terpanjang dari sistem pencernaan — dengan panjang sekitar 6 meter. Usus halus berfungsi untuk melanjutkan penguraian makanan dan menyerap sebagian besar nutrisi, yang kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Usus halus menyambung ke usus besar di perut kanan bawah. Sebagian besar usus besar terdiri dari saluran berotot dengan panjang sekitar 1,5 meter. Kolon menyerap air dan garam dari zat sisa makanan dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan residu kotoran. anatomi usus besar (sumber: WebMD) Usus besar (kolon) memiliki 4 bagian: Bagian pertama disebut kolon asenden. Bagian ini dimulai dengan kantung kecil (sekum) di mana usus halus tersambung dengan kolon dan memanjang ke atas di sisi perut kanan. Sekum juga merupakan tempat di mana usus buntu tersambung ke kolon. Bagian kedua disebut kolon transversum karena membentang dari sisi kanan ke kiri perut atas. Bagian ketiga, disebut kolon desenden, terus memanjang ke bawah di sisi kiri. Bagian keempat, dan yang terakhir, disebut kolon sigmoid karena bentuknya yang menyerupai huruf “S” atau “sigmoid.” Zat sisa makanan yang tersisa setelah melewati kolon disebut feses atau tinja. Kotoran ini diangkut dan disimpan di rektum, di 15 cm terakhir dari sistem pencernaan sampai waktunya dikeluarkan dari tubuh lewat anus. Dinding usus besar dan rektum terbentuk dari beberapa lapisan. Kanker kolorektal dimulai di lapisan terdalam dan bisa tumbuh melalui sebagian atau semua lapisan lainnya. Tingkat penyebaran kanker usus besar akan bergantung pada seberapa dalam kanker bertumbuh ke dalam lapisan-lapisan ini. Perkembangan kanker usus besar dalam tubuh Kebanyakan kanker usus besar berkembang perlahan selama beberapa tahun. Sebelum kanker berkembang, pertumbuhan jaringan atau tumor biasanya dimulai sebagai polip non-kanker pada dinding dalam usus besar atau rektum. Tahap perkembangan kanker usus besar (Ki-ka: polip kolon jinak hingga jadi tumor kanker) sumber: askdoctork.com Tumor adalah jaringan abnormal dan bisa bersifat jinak (bukan kanker) atau ganas (kanker). Polip adalah tumor non-kanker yang jinak. Beberapa polip bisa berubah menjadi kanker, tetapi tidak semuanya. Kemungkinan berubahnya polip menjadi kanker bergantung pada jenis polip itu sendiri. Ada dua jenis utama dari polip: Polip adenomatosa/adenoma (Gambar kedua dari kiri) adalah polip yang bisa berubah menjadi kanker. Oleh karena itu, adenoma disebut sebagai kondisi pra-kanker. Polip hiperplastik dan polip inflamasi, secara umum, bukanlah pra-kanker. Namun, beberapa dokter berpikir bahwa beberapa polip hiperplastik bisa menjadi pra-kanker atau bisa menjadi tanda peningkatan risiko terkena adenoma dan kanker, terutama jika polip ini tumbuh di kolon asenden. Jenis kondisi pra-kanker lainnya disebut displasia (gambar keempat dari kiri dari ilustrasi di atas). Displasia adalah area di dinding usus besar atau rektum di mana sel terlihat abnormal, tetapi tidak seperti sel kanker yang sesungguhnya, saat dilihat dengan mikroskop. Sel-sel ini bisa berubah menjadi kanker seiring waktu. Displasia biasanya ditemukan pada orang yang pernah terkena penyakit seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn selama bertahun-tahun. Baik kolitis ulseratif dan penyakit Crohn menyebabkan peradangan kronis pada usus besar. Jika terbentuk polip, kanker pada akhirnya bisa mulai berkembang masuk ke dalam dinding usus besar atau rektum. Saat berada di dinding, sel-sel kanker kemudian bisa merasuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh getah bening. Pembuluh getah bening adalah saluran tipis dan kecil yang mengangkut kotoran dan cairan. Saluran-saluran ini pertama mengalir ke kelenjar getah bening, yaitu struktur berbentuk kacang yang mengandung sel-sel imun yang membantu melawan infeksi. Begitu menyebar ke dalam pembuluh darah atau pembuluh getah bening, sel-sel kanker bisa bergerak ke kelenjar getah bening terdekat atau bagian lain yang jauh di tubuh, seperti hati. Saat kanker menyebar ke bagian yang jauh di tubuh, ini disebut metastasis. Macam-macam jenis kanker usus besar Beberapa jenis kanker bisa dimulai di usus besar atau rektum, contohnya: Adenokarsinoma Lebih dari 95% kanker kolorektal adalah jenis kanker adenokarsinoma. Kanker ini dimulai di sel-sel yang membentuk kelenjar penghasil lendir untuk melumasi dinding dalam usus besar dan rektum. Saat dokter berbicara tentang kanker usus besar, inilah yang hampir selalu mereka maksudkan. Tumor karsinoid Tumor ini dimulai dari sel-sel penghasil hormon khusus di usus. Tumor stroma gastrointestinal (GIST) Tumor ini dimulai dari sel-sel khusus di dinding usus besar yang disebut sel interstisial dari Cajal. Beberapa bersifat jinak (non-kanker), dan lainnya bersifat ganas (kanker). Tumor ini bisa terdapat di setiap bagian sistem pencernaan, tetapi jarang ditemukan di usus besar. Limfoma Limfoma adalah jenis kanker yang memengaruhi sel sistem kekebalan tubuh, yang biasanya dimulai di kelenjar getah bening. Limfoma juga bisa dimulai di usus besar, rektum, atau organ lainnya. Sarkoma Sarkoma adalah jenis tumor yang bisa dimulai di pembuluh darah, otot, dan jaringan ikat pada dinding usus besar dan rektum. Sarkoma usus besar atau sarkoma rektum merupakan jenis kanker langka.

Tindakan pencegahan tidak hanya sebatas menghindari terjadinya penyakit usus buntu, tapi juga meminimalisasi keparahan gejala dan komplikasi. Cara ampuh untuk menghindari keparahan radang buntu ini adalah memahami beberapa gejala yang ditimbulkan.

Berdasarkan situs Mayo Clinic, ada beberapa gejala radang usus buntu yang umum terjadi, seperti:

  • Sakit perut di sisi kanan bawah perut. Rasa sakitnya berbeda dengan sakit perut biasa yang muncul di perut bagian tengah atau bawah dada.
  • Rasa sakit semakin bertambah buruk ketika Anda bergerak, batuk, atau bersin.
  • Mual, muntah, perut kembung, dan nafsu makan menurun.
  • Sembelit atau diare.
  • Demam karena tubuh berusaha melawan infeksi.
  • Pada anak, perutnya terlihat membengkak dan terasa halus ketika ditekan pelan.

Jika Anda merasakan gejala di atas dan mencurigainya sebagai radang usus buntu, segera periksa ke dokter. Jangan sepelekan gejalanya dalam waktu 48 hingga 72 jam karena abses akan terbentuk dan usus buntu yang meradang bisa pecah.

Bila kondisi ini terjadi, infeksi akan keluar dari rongga perut dan menyebar area tubuh lainnya. Bahkan, bakteri bisa masuk ke aliran darah dan menyebabkan keracunan darah (septikemia). Kondisi ini dapat menyebabkan kematian karena darah yang terkontaminasi bisa dialirkan ke seluruh tubuh, termasuk jantung, otak, dan paru-paru.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: November 3, 2018 | Terakhir Diedit: Maret 26, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca