Apa Itu Tardive Dyskinesia?

Oleh

Tardive dyskinesia adalah gangguan medis berupa gerakan yang tidak terkendali pada lidah, bibir, dan wajah. Dalam beberapa kasus, pasien mungkin mengalami pergerakan juga pada lengan, kaki, jari tangan dan jari kaki. Pada kasus yang berat, gejala tardive dyskinesia yang muncul berupa gerakan tak terkendali pada batang tubuh, pinggul, atau otot yang berhubungan dengan sistem pernapasan. Di samping itu, tardive dyskinesia juga dapat memengaruhi bagian tubuh lainnya.

Tardive dyskinesia memiliki dampak negatif pada kualitas hidup dan mengganggu Anda dalam beraktivitas sehari-hari. Karena tidak mampu bergerak normal, Anda mungkin akan merasa stres dan tak berdaya. Berikut ini adalah gejala umum yang dialami pasien tardive dyskinesia:

  • Gerakan tubuh di luar kendali.
  • Kerap merasa jengkel karena tidak dapat mengontrol gerak tubuh.
  • Merasa depresi karena kemunculan gejala tidak dapat diprediksikan.

Apa penyebab tardive dyskinesia?

Tardive dyskinesia biasanya dipicu oleh efek samping obat antipsikotik, atau dikenal sebagai obat neuroleptik. Obat ini digunakan untuk mengobati gangguan mental seperti skizofrenia, gangguan bipolar, dan gangguan otak lainnya. Obat ini bekerja dengan cara menghalangi dopamin (zat kimia otak) yang bertanggung jawab dalam pergerakan otot secara normal. Ketika tingkat dopamin dalam otak Anda rendah, gerakan tubuh Anda menjadi menjadi sulit untuk dikendalikan. Meskipun tidak semua pasien pengguna obat antipsikotik akan mengalami tardive dyskinesia, gejala tersebut bisa muncul setelah 3 bulan mengonsumsi obat.

Ada 2 jenis obat antipsikotik, yaitu antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal. Antipsikotik tipikal adalah obat terdahulu yang memiliki risiko tardive dyskinesia lebih tinggi. Seiring dengan kemajuan teknologi dalam bidang kedokteran, jenis antipsikotik terbaru (antipsikotik atipikal) mengurangi risiko tardive dyskinesia pada pasien.

Antipsikotik tipikal, meliputi:

  • Chlorpromazine (Thorazine®)
  • Fluphenazine (Prolixin®)
  • Haloperidol (Haldol®)
  • Thioridazine (Mellaril®)
  • Trifluoperazine (Stelazine®).

Semakin lama Anda mengonsumsi antipsikotik tipikal, semakin tinggi pula risiko tardive dyskinesia.

Beberapa obat untuk mengobati mual, refluks, dan masalah perut lainnya juga dapat menyebabkan tardive dyskinesia jika pasien mengonsumsinya selama lebih dari 3 bulan. Obat-obatan tersebut meliputi:

  • Metoclopramide (Reglan®)
  • Prochlorperazine (Compazine®).

Siapa yang berisiko terkena tardive dyskinesia?

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan tardive dyskinesia. Beberapa studi menunjukkan bahwa beberapa orang berada pada risiko dyskinesia lebih tinggi akibat konsumsi obat lain dan penyakit yang menyebabkan gejala serupa. Misalnya, penyakit Parkinson, penyakit Huntington, dan stroke dapat menyebabkan gerakan tubuh yang tak terkendali. Beberapa studi menunjukkan bahwa risiko tardive dyskinesia bagi pasien yang menjalani pengobatan tersebut mencapai 30-50%.

Pasien dengan skizofrenia, gangguan schizoafektif, atau gangguan bipolar yang telah menjalani pengobatan antipsikotik untuk waktu yang lama berada pada risiko tardive dyskinesia yang lebih tinggi. Kondisi lain yang dapat menyebabkan tardive dyskinesia adalah pasien fetal alcohol syndrome, cacat pertumbuhan, dan gangguan otak lainnya.

Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko tardive dyskinesia adalah:

  • Jenis kelamin: Wanita menopause
  • Umur: Orang berusia lebih dari 55 tahun
  • Gaya hidup: Konsumsi alkohol atau obat-obatan berlebih
  • Etnis: Orang Afrika atau orang Asia

Apa saja tanda dan gejala tardive dyskinesia?

Tardive dyskinesia ditandai dengan gerakan tubuh kaku dan di luar kendali. Gerakan ini umumnya terjadi di wajah, bibir, rahang, lidah, serta lengan dan kaki. Beberapa gerakan-gerakan tak terkendali tersebut berupa:

  • Wajah meringis
  • Jemari bergetar
  • Rahang berayun
  • Mengunyah berulang-ulang
  • Lidah menjulur
  • Lidah keluar tanpa disengaja
  • Kedipan mata cepat
  • Bibir mengerut
  • Pipi menggembung
  • Dahi merengut
  • Mendengkur
  • Jari-jari bergoyang
  • Kaki mengetuk
  • Lengan terkepak-kepak
  • Posisi panggul keluar
  • Tubuh bergoyang dari satu sisi ke sisi lain.

Gejala-gejala di atas mungkin membuat Anda kesulitan untuk tetap aktif beraktivitas sehari-hari. Apabila Anda mengalami gejala tardive dyskinesia, segera hubungi dokter karena deteksi dini dapat mencegah kondisi Anda semakin memburuk.

Bagaimana mendiagnosis tardive dyskinesia?

Diagnosis tardive dyskinesia tergolong sulit untuk dilakukan karena gejala kemungkinan tidak muncul sesaat setelah pasien mengonsumsi obat antipsikotik. Proses diagnosis ini mungkin memakan waktu hingga beberapa bulan sampai beberapa tahun sebelum Anda melihat tanda-tanda apapun. Pada beberapa kasus, Anda mungkin baru melihat gejala ini setelah berhenti minum obat.

Jika Anda memiliki gangguan kesehatan mental dan memerlukan obat-obatan, dokter akan memantau gerakan tubuh Anda. Pastikan Anda melakukan kunjungan ke dokter secara teratur.

Dokter Anda akan melakukan berbagai tes untuk menangani kondisi lain yang mungkin menyebabkan gerakan tak terkendali seperti:

  • Cerebral palsy
  • Penyakit Huntington
  • Penyakit Parkinson
  • Stroke
  • Tourette syndrome.

Tes yang digunakan untuk mendiagnosa kondisi di atas adalah:

  • Tes darah
  • Pencitraan otak, seperti CT scan atau MRI.

Pengobatan apa yang digunakan untuk tardive dyskinesia?

Mencegah tentunya lebih baik daripada mengobati. Pengobatan yang paling efektif untuk tardive dyskinesia adalah melalui pencegahan. Jika Anda mengonsumsi obat yang dapat memicu tardive dyskinesia, Anda harus memiliki pemeriksaan rutin dengan dokter untuk mengidentifikasi gejala-gejala tardive dyskinesia.

Tujuan pemeriksaan rutin ini adalah untuk mencegah tardive dyskinesia sebelum muncul. Berkonsultasilah dengan dokter mengenai efek samping dari obat-obatan untuk gangguan kesehatan mental. Pastikan manfaat penggunaan obat harus selalu lebih besar daripada risikonya. Anda mungkin dapat beralih ke obat antipsikotik terbaru yang memiliki risiko tardive dyskinesia lebih rendah.

Di samping itu, dokter akan meminimalkan risiko dengan memberikan dosis antipsikotik efektif terendah. Bila perlu, dokter juga dapat menurunkan dosis obat antipsikotik.

Jika Anda terserang tardive dyskinesia dan pengurangan dosis obat tidak meredakan gejala, beberapa psikiater akan menganjurkan Anda untuk beralih ke obat yang berbeda.

Hingga saat ini, belum ada obat untuk tardive dyskinesia. Penelitian telah mempelajari berbagai obat untuk mengobati tardive dyskinesia, termasuk benzodiazepin, suplemen vitamin E dan Gingko Biloba. Namun, efektivitas pengobatan ini untuk tardive dyskinesia masih belum jelas terlihat. Dalam beberapa kasus tardive dyskinesia, obat yang paling menjanjikan saat ini adalah antipsikotik clozapine.

Beberapa obat dapat membantu meringankan gerakan tak terkendali adalah:

  • Amantadine (Symmetrel®)
  • Clonazepam (Klonopin®)
  • Tetrabenazine (Xenazine®).

Jika Anda mengalami gejala-gejala tardive dyskinesia, jangan berhenti minum obat antipsikotik tanpa anjuran dokter. Menghentikan pengobatan untuk kesehatan mental bisa jauh lebih berbahaya. Pastikan Anda selalu berdiskusi dengan dokter sebelum menghentikan pengobatan.

Share now :

Direview tanggal: Oktober 5, 2016 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca