Apa Itu Tardive Dyskinesia?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/03/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Tardive dyskinesia adalah gangguan medis berupa gerakan yang tidak terkendali pada lidah, bibir, dan wajah. Dalam beberapa kasus, pasien mungkin mengalami pergerakan juga pada lengan, kaki, jari tangan dan jari kaki. Pada kasus yang berat, gejala tardive dyskinesia yang muncul berupa gerakan tak terkendali pada batang tubuh, pinggul, atau otot yang berhubungan dengan sistem pernapasan. Di samping itu, tardive dyskinesia juga dapat memengaruhi bagian tubuh lainnya.

Tardive dyskinesia memiliki dampak negatif pada kualitas hidup dan mengganggu Anda dalam beraktivitas sehari-hari. Karena tidak mampu bergerak normal, Anda mungkin akan merasa stres dan tak berdaya. Berikut ini adalah gejala umum yang dialami pasien tardive dyskinesia:

  • Gerakan tubuh di luar kendali.
  • Kerap merasa jengkel karena tidak dapat mengontrol gerak tubuh.
  • Merasa depresi karena kemunculan gejala tidak dapat diprediksikan.

Apa penyebab tardive dyskinesia?

Tardive dyskinesia biasanya dipicu oleh efek samping obat antipsikotik, atau dikenal sebagai obat neuroleptik. Obat ini digunakan untuk mengobati gangguan mental seperti skizofrenia, gangguan bipolar, dan gangguan otak lainnya. Obat ini bekerja dengan cara menghalangi dopamin (zat kimia otak) yang bertanggung jawab dalam pergerakan otot secara normal. Ketika tingkat dopamin dalam otak Anda rendah, gerakan tubuh Anda menjadi menjadi sulit untuk dikendalikan. Meskipun tidak semua pasien pengguna obat antipsikotik akan mengalami tardive dyskinesia, gejala tersebut bisa muncul setelah 3 bulan mengonsumsi obat.

Ada 2 jenis obat antipsikotik, yaitu antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal. Antipsikotik tipikal adalah obat terdahulu yang memiliki risiko tardive dyskinesia lebih tinggi. Seiring dengan kemajuan teknologi dalam bidang kedokteran, jenis antipsikotik terbaru (antipsikotik atipikal) mengurangi risiko tardive dyskinesia pada pasien.

Antipsikotik tipikal, meliputi:

  • Chlorpromazine (Thorazine®)
  • Fluphenazine (Prolixin®)
  • Haloperidol (Haldol®)
  • Thioridazine (Mellaril®)
  • Trifluoperazine (Stelazine®).

Semakin lama Anda mengonsumsi antipsikotik tipikal, semakin tinggi pula risiko tardive dyskinesia.

Beberapa obat untuk mengobati mual, refluks, dan masalah perut lainnya juga dapat menyebabkan tardive dyskinesia jika pasien mengonsumsinya selama lebih dari 3 bulan. Obat-obatan tersebut meliputi:

  • Metoclopramide (Reglan®)
  • Prochlorperazine (Compazine®).

Siapa yang berisiko terkena tardive dyskinesia?

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan tardive dyskinesia. Beberapa studi menunjukkan bahwa beberapa orang berada pada risiko dyskinesia lebih tinggi akibat konsumsi obat lain dan penyakit yang menyebabkan gejala serupa. Misalnya, penyakit Parkinson, penyakit Huntington, dan stroke dapat menyebabkan gerakan tubuh yang tak terkendali. Beberapa studi menunjukkan bahwa risiko tardive dyskinesia bagi pasien yang menjalani pengobatan tersebut mencapai 30-50%.

Pasien dengan skizofrenia, gangguan schizoafektif, atau gangguan bipolar yang telah menjalani pengobatan antipsikotik untuk waktu yang lama berada pada risiko tardive dyskinesia yang lebih tinggi. Kondisi lain yang dapat menyebabkan tardive dyskinesia adalah pasien fetal alcohol syndrome, cacat pertumbuhan, dan gangguan otak lainnya.

Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko tardive dyskinesia adalah:

  • Jenis kelamin: Wanita menopause
  • Umur: Orang berusia lebih dari 55 tahun
  • Gaya hidup: Konsumsi alkohol atau obat-obatan berlebih
  • Etnis: Orang Afrika atau orang Asia

Apa saja tanda dan gejala tardive dyskinesia?

Tardive dyskinesia ditandai dengan gerakan tubuh kaku dan di luar kendali. Gerakan ini umumnya terjadi di wajah, bibir, rahang, lidah, serta lengan dan kaki. Beberapa gerakan-gerakan tak terkendali tersebut berupa:

  • Wajah meringis
  • Jemari bergetar
  • Rahang berayun
  • Mengunyah berulang-ulang
  • Lidah menjulur
  • Lidah keluar tanpa disengaja
  • Kedipan mata cepat
  • Bibir mengerut
  • Pipi menggembung
  • Dahi merengut
  • Mendengkur
  • Jari-jari bergoyang
  • Kaki mengetuk
  • Lengan terkepak-kepak
  • Posisi panggul keluar
  • Tubuh bergoyang dari satu sisi ke sisi lain.

Gejala-gejala di atas mungkin membuat Anda kesulitan untuk tetap aktif beraktivitas sehari-hari. Apabila Anda mengalami gejala tardive dyskinesia, segera hubungi dokter karena deteksi dini dapat mencegah kondisi Anda semakin memburuk.

Bagaimana mendiagnosis tardive dyskinesia?

Diagnosis tardive dyskinesia tergolong sulit untuk dilakukan karena gejala kemungkinan tidak muncul sesaat setelah pasien mengonsumsi obat antipsikotik. Proses diagnosis ini mungkin memakan waktu hingga beberapa bulan sampai beberapa tahun sebelum Anda melihat tanda-tanda apapun. Pada beberapa kasus, Anda mungkin baru melihat gejala ini setelah berhenti minum obat.

Jika Anda memiliki gangguan kesehatan mental dan memerlukan obat-obatan, dokter akan memantau gerakan tubuh Anda. Pastikan Anda melakukan kunjungan ke dokter secara teratur.

Dokter Anda akan melakukan berbagai tes untuk menangani kondisi lain yang mungkin menyebabkan gerakan tak terkendali seperti:

  • Cerebral palsy
  • Penyakit Huntington
  • Penyakit Parkinson
  • Stroke
  • Tourette syndrome.

Tes yang digunakan untuk mendiagnosa kondisi di atas adalah:

  • Tes darah
  • Pencitraan otak, seperti CT scan atau MRI.

Pengobatan apa yang digunakan untuk tardive dyskinesia?

Mencegah tentunya lebih baik daripada mengobati. Pengobatan yang paling efektif untuk tardive dyskinesia adalah melalui pencegahan. Jika Anda mengonsumsi obat yang dapat memicu tardive dyskinesia, Anda harus memiliki pemeriksaan rutin dengan dokter untuk mengidentifikasi gejala-gejala tardive dyskinesia.

Tujuan pemeriksaan rutin ini adalah untuk mencegah tardive dyskinesia sebelum muncul. Berkonsultasilah dengan dokter mengenai efek samping dari obat-obatan untuk gangguan kesehatan mental. Pastikan manfaat penggunaan obat harus selalu lebih besar daripada risikonya. Anda mungkin dapat beralih ke obat antipsikotik terbaru yang memiliki risiko tardive dyskinesia lebih rendah.

Di samping itu, dokter akan meminimalkan risiko dengan memberikan dosis antipsikotik efektif terendah. Bila perlu, dokter juga dapat menurunkan dosis obat antipsikotik.

Jika Anda terserang tardive dyskinesia dan pengurangan dosis obat tidak meredakan gejala, beberapa psikiater akan menganjurkan Anda untuk beralih ke obat yang berbeda.

Hingga saat ini, belum ada obat untuk tardive dyskinesia. Penelitian telah mempelajari berbagai obat untuk mengobati tardive dyskinesia, termasuk benzodiazepin, suplemen vitamin E dan Gingko Biloba. Namun, efektivitas pengobatan ini untuk tardive dyskinesia masih belum jelas terlihat. Dalam beberapa kasus tardive dyskinesia, obat yang paling menjanjikan saat ini adalah antipsikotik clozapine.

Beberapa obat dapat membantu meringankan gerakan tak terkendali adalah:

  • Amantadine (Symmetrel®)
  • Clonazepam (Klonopin®)
  • Tetrabenazine (Xenazine®).

Jika Anda mengalami gejala-gejala tardive dyskinesia, jangan berhenti minum obat antipsikotik tanpa anjuran dokter. Menghentikan pengobatan untuk kesehatan mental bisa jauh lebih berbahaya. Pastikan Anda selalu berdiskusi dengan dokter sebelum menghentikan pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Membantu Orangtua yang Menderita Sakit Punggung

    Orangtua rentan terserang penyakit yang berkaitan dengan tulang dan sendi, salah satunya adalah sakit punggung. Anda bisa membantu dengan cara berikut.

    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Gangguan Muskuloskeletal, Health Centers 07/10/2016 . Waktu baca 4 menit

    Menolong Pasangan yang Menderita Nyeri Punggung Bawah

    Melihat pasangan menderita nyeri punggung di bagian bawah tentu membuat Anda merasa ikut tak nyaman. Anda dapat turut membantu mengatasi dengan cara ini.

    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Nyeri Kronis, Health Centers 07/10/2016 . Waktu baca 4 menit

    8 Makanan yang Wajib Dikonsumsi untuk Redakan Nyeri Sendi

    Selain minum obat, merencanakan menu makanan juga patut Anda pertimbangkan untuk meredakan nyeri sendi secara alami. Apa saja yang terbaik?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Gangguan Muskuloskeletal, Health Centers 26/09/2016 . Waktu baca 6 menit

    Nyeri Otot (Sakit Otot, Myalgia)

    Nyeri otot adalah rasa nyeri dan sakit yang melibatkan sejumlah kecil atau seluruh otot tubuh, mulai dari ringan sampai amat sangat.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 22/09/2016 . Waktu baca 8 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    myofascial pain syndrome

    Myofascial Pain Syndrome: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Dipublikasikan tanggal: 08/02/2018 . Waktu baca 4 menit
    olahraga di kantor

    5 Olahraga Ringan yang Dapat Anda Lakukan di Kantor

    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 11/01/2017 . Waktu baca 4 menit
    Tulang mudah patah

    3 Hal yang Membuat Tulang Mudah Patah

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Dipublikasikan tanggal: 03/11/2016 . Waktu baca 4 menit

    Benarkah Chiropractic Dapat Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh?

    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 07/10/2016 . Waktu baca 3 menit