Resistensi Insulin pada Diabetesi: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Cara Mencegah

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31/01/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Diabetes tipe 2 alias “kencing manis” atau “penyakit gula” adalah penyakit kronis yang dapat dipicu oleh sebuah kondisi dinamakan resistensi insulin. Jika Anda resisten (kebal) terhadap insulin, artinya tubuh Anda tidak dapat menggunakan insulin dengan benar. Lantas, apa itu resistensi insulin?

Resistensi insulin adalah faktor penyebab diabetes

Resistensi insulin adalah salah satu dari sekian banyak penyebab diabetes tipe 2. Kondisi ini menandakan bahwa tubuh Anda tidak dapat merespons kerja insulin dengan sebagaimana mestinya.

Insulin adalah hormon yang dibuat oleh sel beta dalam organ pankreas. Hormon insulin secara spesifik bertugas membantu setiap sel dan jaringan tubuh menyerap gula dalam darah (glukosa) untuk digunakan sebagai energi. Proses inilah yang membantu menstabilkan kadar gula darah tubuh tetap normal.

Tubuh beberapa orang dapat menghasilkan hormon insulin dalam jumlah cukup untuk mendukung proses tersebut. Namun, tubuh mereka belum tentu dapat menggunakan insulin dengan benar untuk mengendalikan gula darah. 

Ketika insulin tidak bekerja seperti seharusnya, sel dan jaringan tidak akan menyerap gula dalam darah dengan benar. Akibatnya, gula akan menumpuk dalam darah dan kadarnya akan naik lebih tinggi dari batas normal.

Dengan kata lain, mengalami resistensi insulin adalah faktor yang meningkatkan risiko Anda mengalami diabetes. Orang dengan kondisi ini akan pertama kali didiagnosis dokter mengalami pradiabetes. Bila dibiarkan, pradiabetes akan berlanjut ke kondisi yang cukup parah, yakni diabetes tipe 2.

Tanda dan gejala resistensi insulin

Resistensi insulin adalah kondisi yang pada awalnya tidak bergejala. Anda mungkin saja sudah mengalaminya bertahun-tahun tanpa pernah disadari.

Seiring waktu, gejala paling khas dari resistensi insulin yang mungkin Anda sadari adalah naiknya gula darah lebih tinggi dari bacaan normal Anda. Namun, menyadari kenaikan ini mungkin akan sulit jika Anda tidak pernah rutin cek kadar gula darah.

Namun meski tidak selalu menunjukkan gejala, berikut adalah tanda dan ciri resistensi insulin yang mungkin muncul menurut American Diabetes Association:

  • Kelelahan
  • Mudah lapar
  • Sulit berkonsentrasi
  • Muncul acanthosis nigricans (bercak hitam pada belakang leher, pangkal paha, dan ketiak)

Selain tanda-tanda tersebut, gejala lain yang sering muncul pada penderita resistensi insulin adalah:

  • Terjadinya penumpukan lemak di sekitar perut
  • Meningkatnya kadar gula darah
  • Kadar kolesterol naik

Penumpukan lemak di sekitar perut adalah salah satu tanda Anda memiliki resistensi insulin atau mungkin sudah berkembang menjadi diabetes. 

Gejala resistensi insulin yang diikuti dengan keluhan tambahan, seperti sering buang air kecil, luka lama sembuh, kaki sering kesemutan dan mati rasa adalah pertanda diabetes tipe 2.

Penyebab resistensi insulin

Penyebab resistensi insulin yang disepakati sampai saat ini adalah kombinasi faktor genetik dan gaya hidup buruk. Malas gerak dan pola makan yang tidak sehat adalah gaya hidup yang bisa meningkatkan terjadinya resistensi insulin. Itu kenapa sejumlah pakar kesehatan juga menyebutkan bahwa kelebihan berat badan (obesitas) adalah salah satu faktor utama dari resistensi insulin.

Meski demikian, tidak diketahui jelas penyebab beberapa orang bisa memiliki resistensi insulin sementara lainnya tidak. 

Beberapa faktor lain yang turut menyumbang terjadinya resistensi insulin adalah:

  • Menggunakan steroid dosis tinggi dalam jangka waktu yang cukup panjang.
  • Stres kronis.
  • Kebiasaan makan makanan tinggi karbohidrat, seperti mie dan nasi putih, secara berlebihan.

Makanan yang mengandung karbohidrat nantinya akan dipecah menjadi glukosa. Asupan glukosa yang sangat banyak ke dalam tubuh bisa saja membuat pankreas kemudian kelelahan dalam memproduksi insulin.

Cara diagnosis resistensi insulin adalah dengan tes darah

tes viral load hepatitis

Salah satu cara untuk mendiagnosis resistensi insulin yang berkembang menjadi pradiabetes atau diabetes adalah dengan tes A1C. Anda tidak perlu berpuasa untuk melakukan tes ini.

Hasil dari tes tersebut memberikan gambaran berapa rata-rata gula darah Anda selama dua hingga tiga bulan terakhir. Hasil A1C di bawah 5.6% dianggap normal, sedangkan hasil A1C di antara 5.7 dan 6.4% tergolong pradiabetes. Jika hasil A1C Anda setara atau di atas 6.5 persen, kemungkinan Anda didiagnosis diabetes.

Selain tes A1C, cara lain untuk mendiagnosis resistensi insulin yang juga sama akurat adalah tes glukosa darah. Ada tiga macam tes gula darah, salah satunya adalah tes gula darah puasa (GDP). Pengambilan sampel darah akan dilakukan setelah Anda tidak makan dan minum setidaknya 8 jam.

Kadar gula darah puasa yang berada di bawah 100 mg/dL dianggap normal, sementara angka antara 100 dan 125 mg/dL didiagnosis pradiabetes. Kadar GDP yang setara atau di atas 126 mg/dL didiagnosa diabetes tipe 2.

Hasil tes GDP yang tinggi mungkin butuh dites ulang selang berapa hari setelahnya untuk benar-benar memastikan akurasinya. Jika hasil tes kedua tetap menunjukkan kenaikan gula darah, Anda kemungkinan terdiagnosis pradiabetes atau diabetes.

Sementara untuk tes gula darah acak, Anda bisa memeriksanya kapan pun. Nah kadar gula darah di bawah 140 mg/dL artinya normal, antara 140 dan 199 mg/dL dianggap pradiabetes, dan setara atau lebih dari 200 mg/dL didiagnosis dengan diabetes tipe 2.

Waktu yang tepat untuk tes gula darah jika Anda memiliki resistensi insulin

Pemeriksaan untuk diabetes sebaiknya dimulai saat usia 45 tahun, bersama dengan tes standar untuk kolesterol dan tes pemeriksaan kesehatan lainnya.

Bila hasil tes Anda dalam jangkauan normal, Anda sebaiknya memeriksa kadar glukosa darah setidaknya setiap tiga tahun.

Selain kelebihan berat badan, Anda yang memiliki kondisi berikut perlu melakukan pemeriksaan dini, seperti:

  • Memiliki kadar HDL baik yang rendah atau tingkat trigliserida tinggi.
  • Memiliki orangtua atau saudara yang menderita diabetes.
  • Keturunan Amerika-Indian, Afrika-Amerika, Latin, Asia-Amerika, atau kepulauan Pasifik.
  • Memiliki tekanan darah tinggi (140/90 mm Hg atau lebih)
  • Mempunyai gejala resisten insulin
  • Didiagnosis dengan diabetes gestational (diabetes selama kehamilan)
  • Melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kilogram.

Mencegah resistensi insulin

makanan untuk pasien penyakit ginjal

Selain diabetes, resistensi insulin adalah faktor yang bisa meningkatkan penyakit kronis terkait dengan pembuluh darah, seperti penyakit jantung dan stroke. Bahkan, meningkatkan risiko terjadinya kerusakan saraf pada mata, kaki, dan tangan, serta gagal ginjal.

Olahraga secara teratur dan pola makan yang baik adalah cara terbaik membantu menjaga berat badan tetap sehat sekaligus menurunkan risiko terjadinya resistensi insulin dan diabetes.

Walaupun tidak 100% menjamin, menjaga berat badan Anda tetap ideal memberikan peluang terbaik bagi Anda untuk menjaga kadar glukosa darah seimbang.

Penting untuk mengingat bahwa diagnosis resistensi insulin atau pradiabetes adalah peringatan. Kondisi dini ini sering bisa dikendalikan oleh pilihan gaya hidup yang sehat. Konsultasikan selalu dengan dokter Anda untuk membantu menurunkan risiko tersebut. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

5 Penyakit Kulit yang Umum Menyerang Pasien Diabetes

Berbagai penyakit kulit ini bisa menjadi salah satu komplikasi yang muncul saat seseorang memiliki keadaan diabetes yang tidak terkontrol.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Diabetes, Health Centers 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Waktu kecil Anda mungkin sering diingatkan bahwa gerimis bikin sakit. Namun, benarkah lebih aman main hujan-hujanan daripada kena gerimis? Cek di sini, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 31/05/2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 26/05/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

prostatitis

Prostatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
arti kedutan

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit
minyak esensial

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit